Random post

Showing posts with label Jepang. Show all posts
Showing posts with label Jepang. Show all posts

Friday, November 9, 2018

√ 12 Hours Without Indonesian

Setelah kutinggalkan lebih dari seminggu, blog ini malah diisi guestposting oleh teman-teman FLP, dan pemilik blog malah kabur entah nggak terang mengurus blog-blog orang lain.


Aku sangat yakin bahwa para penggemar di blog ini mungkin sudah nggak sabar pengen baca tulisanku (:P).


Beuhh.. Judulnya jahat amat? Ahahaha… It’s suit me perfectly.


Sory dah buat judul yang mungkin menciptakan para pecinta merah putih panas dadanya. Tapi saya kesepakatan isinya tidak akan menyerupai itu. Seperti cerita-ceritaku sebelumnya, kali ini lagi-lagi saya akan dongeng mengenai perjalananku selama 5 hari di Jepang. Kali ini Istimewa alasannya yakni saya jalan-jalan sendirian tanpa ada orang Indonesia di sekitarku, alasannya yakni memang saya di Jepang. 😀


So selama di Jepang saya memang banyak dibantu oleh teman-teman mahasiswa PPI Okayama, terutama Mas Heri dan Mas Ade. Tetapi sehabis ujian selesai, saya nggak sabar pengen jalan-jalan di Jepang, mumpung ada waktu sekitar dua hari, dan saat-saat itu mereka sedang sibuk berurusan dengan Lab masing-masing. So, I’ll go alone!


Oh ya, ada kisah menarik hari itu, itu yakni hari paling istimewa buat semua muslim, Jum’ah mubarok. Kita wajib sholat Jum’at. Tetapi pagi itu juga Istimewa buatku, alasannya yakni saya akan test wawancara untuk Master Degree di Okayama University, dengar-dengar wawancara ini eksklusif dengan Professor disana. Makara jam 8.00 saya sudah siap di Okadai (Okayama Daigaku/Okayama University).


Sejak hari pertama ketika ujian tulis di Okadai, saya memakai Bahasa Inggris untuk berkomunikasi dengan sesama calon Mahasiswa, dan Alhamdulillah mereka bahasa inggrisnya lancar. Maksudku lancar menyampaikan “Repeat slowly”, “Repeat Please”, “Repeat once again”… Arrrgh… Aku baik sangka aja kalau Bahasa Inggrisku emang buruk banget hingga mereka nggak sanggup apa yg saya katakan. Aku mau coba pakai bahasa tubuh, tetapi untungnya ternyata sudah disiapkan seorang guide yg khusus untuk memandu saya selama ujian.



Disambut Guide Khusus


Keren banget dah, berhubung cuma saya satu-satunya orang absurd yang mendaftar di Fakultas Sains maka saya udah kayak tamu kenegaraan aja punya guide khusus. :v


Balik ke wawancaraku hari Jum’at. Saat masuk Okadai saya udah disambut oleh ibu-ibu guide yang bahasa inggrisnya sangat manis dan sopan banget, padahal bahasa inggrisku pakai yang asal-asalan hasil mencar ilmu ke Ustadz YOUTUBE Mansyur. Ibu guide itu memberitahukan kalau saya harus menunggu giliran wawancara, ada dua ruangan yang pertama ruang tunggu dan yang kedua ialah ruang ujian. Karena saya mahasiswa absurd jadinya sanggup nomor ujian yang terakhir.



Jum’atan 


Setelah diantar ke ruangan, ibu guide bertanya “Apa semuanya oke? Kalau kau merasa gelisah silahkan panggil saya ya?”. Saat itu saya kepikiran, kalau ujian mulai jam 09.00 untuk 25 mahasiswa, maka kalau satu orang saja memakan waktu 10 menit, ujian gres berakhir jam 12.17. Padahal sebagai muslim, saya harus Jum’atan, jadi saya sampaikan.


“Maaf, saya yakni seorang Muslim, buat kami hari Jum’at yakni hari yang paling istimewa, kami harus melaksankan ibadah pada pukul 12.00, ibadah ini bahu-membahu di masjid. Ini sangat penting bagi saya, apakah saya sanggup menerima prioritas untuk wawancara duluan?”

“Oh.. oke saya tidak punya wewenang disini, tetapi saya sampaikan kepada professor yang bertanggung jawab menangani ujian ini dan pengawas ujian”

“Oke.. Terimakasih banyak”

“Iya.. Sama-sama.. Maafkan kalau bahasa inggris saya buruk”


Itu beneran lho! Dia beneran minta maaf alasannya yakni merasa bahasa Inggrisnya buruk, padahal Bahasa Inggrisnya sangat bagus, sopan, almost perfect. Paling kalau dia pakai Bahasa Inggris yang lebih manis lagi saya bakalan bingung, nggak nyampek ilmunya. XD


Setelah masuk ruang tunggu ujian, penjaga ujian masuk, dia memakai bahasa Jepang dengan lancar (Yaiyalah ini emang di Jepang dodol!). Penjaga ruangan ini tampaknya tidak sanggup berbahasa Inggris, alasannya yakni peraturannya tidak dijelaskan dalam bahasa Inggris.


Setelah menjelaskan peraturan, penjaga ruangan eksklusif keluar ruangan dan berjaga di depan pintu. Penjaga ruang ini hanya masuk untuk memanggil calon mahasiswa yang mau diwawancarai untuk masuk ke ruang berikutnya. Saat diluar ruangan itu saya eksklusif  sok kenal   bertanya mengenai peraturan yang disampaikan oleh penjaga ujian tersebut. Tentu saja dengan Bahasa Inggris. Dan tampaknya sahabat yang duduk disebelahku itu resah (mungkin dia mikir: insan jenis apa dan dari planet mana yang bahasanya tak terang macam ini?).











Setelah kutinggalkan lebih dari seminggu √ 12 Hours Without Indonesian

Perpustakaan Okayam University




If There is Foreigner in Your Class, You Must Stare At Him!


Sejak awal masuk saya merasa ada yang salah. Aku kan orang asing, kulitku paling item pulak, tapi kenapa nggak ada yang ngelihatin aku? setidaknya ada yang melirik rahasia gitu? tapi nggak ada! Semuanya hambar belibis dan ngobrol dengan temannya masing-masing. Ini salah! Aku nggak terima, ini tidak sesuai dengan budaya Nusantara (Hey ini memang bukan Nusantara!). Mereka harusnya perhatiin saya donk! Ahahaha.


Kebetulan daerah dudukku di posisi paling depan, Akhinya saya bangun dan bilang “Hey.. Ada yang sanggup bahasa Inggris disini?” (aslinya saya mau bilang “Hey! Kalian nggak sanggup ketemu orang absurd dan tidak menatapnya dengan tatapan curiga! Kalian harus perhatikan gerak-gerik orang absurd tauk!”)


Nahh dengan cara itu seisi kelas kesannya melihatin aku. (Puas lah saya Nyahaha :). Setelah itu ada cewek berkacamata yang entah siapa namanya yang membantuku menerjemahkan peraturan ke Bahasa Inggris dengan sangat baik. Pun sama dia minta maaf kalau kurang lancar berbahasa Inggris (padahal udah manis banget). Peraturannya paling penting buatku ialah tidak boleh main HP, alasannya yakni saya main HP terus hingga tahu peraturannya.


Setelah jam 10.30, setengah penerima ujian sudah selesai wawancara, lalu yang dipanggil ialah namaku. Aku eksklusif aja pergi. Apa ini berarti mereka mengabulkan permintaanku untuk menerima prioritas? Dan yang lebih kaget lagi, ketika masuk ruang wawancara, ternyata ada lebih dari 10 Professor di dalam ruang wawancara. Artinya, persetujuan bahwa saya masuk duluan alasannya yakni ada keperluan Sholat Jum’at ialah persetujuan dari secara umum dikuasai Professor disini, Subhanallah… Mereka sangat menghargai kebebasan beragama (kemudian berikutnya ketika bercakap-cakap dengan Prof. dia bilang kalau kultur di Fakultas Sains sangat demokratis)


Alhamdulillah sanggup Sholat Jum’at di Masjid terdekat dengan Kampus Okadai (aku lupa nama Masjidnya).  Sebenarnya nggak 12 jam juga sih saya bebas dari orang Indonesia, Pas Jumatan saya ketemu saudara-saudara muslim, termasuk yang dari Indonesia. Setelah Jum’atan saya diajak makan bareng dengan teman-teman Indonesia, tetapi dengan berat hati saya harus menolak, alasannya yakni saya janjian dengan Prof Tanaka yang akan jadi supervisorku S2 sehabis sholat Jumat. Pertemuan ini menarik untuk diceritakan sebenarnya, tapi kita skip aja dulu, kepanjangan nanti. Setelah itu petualangan dimulai.



Aku akan jalan-jalan tanpa pemandu!




Get Lost In Japan!


Dengan memakai sepeda yang dipinjamkan oleh teman-teman dari Indonesia saya berniat ke daerah rekreasi di kota Okayama. Dengan tumpuan dari Pak Lukman Hakim, kalian masih ingat kan? dia pembimbing skripsi S1ku. Dia kasih tahu semua yang menarik di Okayama, lalu saya browsing di Google Maps, dan pergi dehh.. Tujuanku ialah Kourakuen Okayama Park.


Ternyata ingatanku duduk kasus jalan dan peta memang payah. Aku eksklusif lupa dan hilang arah (wkwkwk dramatis gilee). Kemudian bertanya ke ibu-ibu, ke anak sma, ke penjaga toko, hingga kesannya ada bawah umur yang bersepeda membawa peralatan olah raga tennis lapangan, saya tanyak jalan ke dia.


Ternyata dia Bahasa Inggrisnya bagus, Alhamdulillah… Dan enaknya lagi, dia mau anter saya eksklusif ke Kourakuen. Aku bercakap-cakap dengannya, namanya Akushi, dia ternyata Mahasiswa S1, jurusan sains juga. Oh ya, orang jepang suka menghabiskan waktu dengan berolah raga. Nahh.. sahabat baruku ini suka dengan olah raga tennis lapangan.


Aku diantar hingga ke Kouraken, jadi saya eksklusif masuk, aslinya saya ajakin dia masuk juga, biar saya yang bayar nggak duduk kasus setidaknya ada tukang poto. wkwkwk..


Aku mengalami sedikit duduk kasus untuk berkomunikasi dengan penjaga tiket masuknya. Karena dia menyampaikan beberapa daerah wisata, dan sehabis melihat-lihat, saya cuma mau masuk ke dua tempat. Nah itu saya mau tahu kapan tutupnya, tapi dia resah alasannya yakni pakai Bahasa Inggris. Akhirnya terjadi pergantian pemain dari kubu penjaga tiket. Penjaga yang gres ini agak sanggup Bahasa Inggris, jadi dengan sumbangan bahasa badan saya berhasil sanggup tiket yang kumau. 🙂


Masuklah saya ke daerah wisata ini. Sebenarnya daerah ini kurang lebih dengan area wisata di Indonesia, terutama setting hutan-hutannya, hanya saja ada aksesori aksen arsitektur khas jepang gitu. Satu hal yang benar-benar harus dicatat ialah daerah ini bersih! Sangat bersih. Selain itu perawatan daerah ini memang luar biasa.


Pada dasarnya akomodasi yang ditawarkan dari daerah ini yang sangat menarik buatku. Makara disediakan map yang komplit dari daerah wisata tersebut. Map ini berisi saran mengenai spot-spot foto, beristirahat dan hal-hal lainnya.


Oke eksklusif aja ke foto-foto. Cerita jalan-jalan nggak menarik tanpa foto kayaknya.











Setelah kutinggalkan lebih dari seminggu √ 12 Hours Without Indonesian
Foto pertama dengan kamera retak













Setelah kutinggalkan lebih dari seminggu √ 12 Hours Without Indonesian
Ini saya minta tolong orang Jepang untuk fotokan. Alhamdulillah disini baik-baik mereka dengan bahagia hati menolong. 



Setelah kutinggalkan lebih dari seminggu √ 12 Hours Without Indonesian











Setelah kutinggalkan lebih dari seminggu √ 12 Hours Without Indonesian
Orang ini bukan sedang panen Teh, menyerupai yang saya bilang, ini yakni perawatan taman. Perawatannya kuperhatikan, dia mencabut rumput-rumput dan daun daun liar di sela-sela tanaman. Itu satu persatu menyerupai pemanen teh di Indonesia. 











Setelah kutinggalkan lebih dari seminggu √ 12 Hours Without Indonesian
Di depan Okayama Castle. 

Nanti saya akan ceritakan perjalanan ke Kourakuen Okayama Jepang. Karena sesungguhnya saya cuma mau tunjukkan kalau budaya membantu orang jepang itu sangat luar biasa.


Ketika pulang dari daerah ini, saya tersesat lagi (tuhh kan ingatanku mengenai peta ini emang payah!).


Kemudian saya bertanya ke penjaga toko. Karena dia tidak paham bahasa Inggris, dia keluarkan iPhone-nya. Dia buka google translate, lalu minta saya mengetikkan bahasa Inggris biar dia sanggup paham bahasa Jepangnya. Setelah itu dia buka Google Map dan tunjukkan saya jalan menuju ke kampus Okayama University. Sangat membantu untukku.



I can say that get lost in Japan is one amazing story you must have!


Dari awal dongeng saya memang banyak dibantu oleh orang Jepang asli. Dan kalau diperhatikan maka sanggup disimpulkan kalau:



“Orang jepang sangat suka membantu orang lain, dan ketika membantu mereka menyampaikan pertolongan terbaik yang sanggup mereka berikan. “



Jadi teringat dongeng sahabat yang ketika dia menyampaikan sesuatu, dia menyampaikan yang terbaik untuk orang lain dahulu, dan sisanya untuk dirinya sendiri.


Sebagai seorang muslim, sudahkah kita berlaku menyerupai itu? Silahkan kita renungkan. Semoga dongeng ini tidak sekedar buwalanku aja.



Sumber https://mystupidtheory.com

√ Cara Menciptakan Visa Jepang Di Surabaya

Sesuai dengan pengalamanku beberapa ahad lalu, kali ini saya menepati janjiku untuk menuliskan pengalaman Cara Membuat visa Jepang di Surabaya. InsyAllah akan kuberikan informasi yang valid, alasannya ialah saya sudah melakukannya sendiri. Ini menyusul postinganku wacana Membangun Mimpi Ke Jepang dan Perjalanan Internasional Pertamaku:


 


Cara Membuat Visa Jepang


Sebelum kita masuk ke cara mengurus visa Jepang di Surabaya, saya akan berikan informasi mengenai tempat-tempat dimana kita sanggup menciptakan visa Jepang. Ini sangat penting untuk diperhatikan, alasannya ialah Konsulat Jenderal Jepang sangat tertib duduk kasus wilayah yuridiksi pembuatan visa ini. Ada lima daerah pembuatan visa Jepang di Indonesia. Lima kota tersebut mempunyai wilayah yuridiksi masing-masing.


Sesuai dengan pengalamanku beberapa ahad kemudian √ Cara Membuat Visa Jepang di Surabaya
cara mengurus visa Jepang

Wilayah Yuridiksi Pembuatan Visa Jepang


Jadi sebelum menuju ke Konjen Jepang, kini cek dulu dimana Passpor kalian dibuat, dan lihat lima wilayah yuridiksi pembuatan visa jepang berikut ini.


Konsuler Kedutaan Besar Jepang di Jakarta


Alamat:

Jl. M.H. Thamrin No. 24, Jakarta 10350, INDONESIA


Wilayah Yurisdiksi (wilayah kerja) :

Jakarta, Banten, Yogyakarta,  Jawa Barat, Jawa Tengah,  Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Bengkulu, Lampung


Konsuler Jepang di Makassar


Alamat:

Gedung Wisma Kalla Lantai 7

Jl. Dr. Sam Ratulangi No. 8-10, Makassar, INDONESIA


Wilayah Yurisdiksi (wilayah kerja) :

Sulawesi Utara, Gorontalo,  Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku,  Maluku Utara, Papua (Irian Jaya), Papua Barat


Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya


Alamat:

Jl. Sumatera No. 93, Surabaya, INDONESIA


Wilayah Yurisdiksi (wilayah kerja) :

Jawa Timur, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan


Konsulat Jenderal Jepang di Denpasar


Alamat:

Jl. Raya Puputan No.170, Renon, Denpasar, Bali, INDONESIA


Wilayah Yurisdiksi (wilayah kerja) :

Bali,  Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat.


Konsulat Jenderal Jepang di Medan


Alamat:

Sinar Mas Land Plaza (Wisma BII), 5th floor

Jl. Pangeran Diponegoro No. 18, Medan, Sumatera Utara, INDONESIA


Wilayah Yurisdiksi (wilayah kerja) :

Nangroe Aceh Darusalam, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Jambi,  Kepulauan Riau, Riau.



Mengajukan Visa Jepang di Surabaya



Setelah kalian pastikan kalau lokasi pembuatan paspor kalian ialah wilayah Jawa Timur, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara dan Kalimantan Selatan maka selanjutnya kalian harus tahu letak Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya, yaitu di jalan Jl. Sumatera No. 93, Surabaya, INDONESIA. Karena saya menciptakan Paspor di Kalimantan Timur, maka tujuan untuk pembuatan Visaku ialah Surabaya, Alhamdulillah erat dengan Malang.



Sebagai awal pengajuan Visa, kita harus memilih jenis visa apa yang kita butuhkan. Jenis-jenis visa ini sanggup kalian lihat disini klik.


Aku kemarin ngurus Visa Kunjungan Bisnis, soalnya kan saya ke Jepang cuma buat ujian S2, jadi anggap aja itu ada bisnis(urusan). Nah persyaratannya itu cukup gampang sanggup kalian lihat disini klik. Sebelum berangkat ke Surabaya, semua persyaratan untuk pembuatan Visa sudah saya lengkapi, kecuali foto 4.5×4.5. Foto 4.5 x4.5 ini sudah kurencanakan akan cetak di Surabaya, alasannya ialah takut tidak memenuhi standard yang diinginkan pihak Konjen Jepang.


Cara Mengisi Formulir Pengajuan Visa Jepang


Hal pertama yang kulengkapi ialah Form Pengajuan Visa yang sanggup diisi secara online disini. Ini yang agak membingungkan buatku, tetapi sesudah browsing dan tanya-tanya dosenku alhasil berhasil juga melengkapinya. Berikut ini cara mengisi form pengajuan visa:











Sesuai dengan pengalamanku beberapa ahad kemudian √ Cara Membuat Visa Jepang di Surabaya
cara mengisi form pengajuan visa
cara mengisi form pengajuan visa kunjungan ke jepang page 1

 


Sesuai dengan pengalamanku beberapa ahad kemudian √ Cara Membuat Visa Jepang di Surabaya
cara mengisi form pengajuan visa jepang

Form ini sanggup diisi pribadi online, jadi gampang dan ekonomis waktu. Setelah selesai tinggal di print aja.


 


Pengisian Jadwal Perjalanan


Jadwal perjalanan ini salah satu yang wajib kalian bawa ketika pengajuan visa. Kalau pada galau gimana cara membuatnya, sangat simple kok. Tinggal diisi ibarat ini aja.

 


Sesuai dengan pengalamanku beberapa ahad kemudian √ Cara Membuat Visa Jepang di Surabaya
Itinerary perjalanan untuk pengajuan visa Jepang.

Ini bukan Perjalananku yang sebenarnya. Ah.. Kalian niscaya sudah tau itu. Kalau sebagian dari perjalananku selama di Jepang sanggup kalian baca di 12 Hours Without Indonesian.Setelah menciptakan kegiatan perjalanan, selanjutnya kau perlu surat undangan. Surat usul itu wajib diisi oleh orang jepang. Ini memakai bahasa jepang, jadinya saya nggak ngerti. Pada kasusku, surat usul ini diisi pribadi oleh Professor yang mengundangku.


 


Kemudian persyaratan lainnya itu kalian niscaya pribadi paham lah. Kalau kalian Mahasiswa dan jumlah dana di rekening kalian tidak cukup besar, maka sanggup pakai rekening orang bau tanah kalian aja. Tinggal menyertakan Rekening koran orang bau tanah kalian, Akte Kelahiran dan Kartu Keluarga.


 


Berangkat dari Malang ke Surabaya


Cerita ini yang paling penting. Aku kan tinggal di Malang, jadi untuk ke Surabaya butuh waktu 3 jam dengan kendaraan umum, itu kalau tidak macet. Kantor Konjen Jepang itu buka dari jam 8.15-12.00 untuk pengurusan Visa, kemudian buka lagi pada jam 13.15-15.30 untuk pengambilan Visa.Jadi kalau dari Malang jam 09.00 maka tidak akan sanggup mengurus Visa di hari yang sama.


Hari itu saya gres sanggup keluar Malang jam 09.00, memang salahku sendiri sih alasannya ialah kurang persiapan. Awalnya saya mau naik motor temanku, alasannya ialah dengan motor kita sanggup pangkas perjalanan menjadi 2 jam, dan juga sanggup dengan gampang mencari alamat Konjen Jepang di Surabaya. Tetapi motor temanku mau dipakai, maka opsinya ialah naik bus aja. Akhirnya saya naik bus dari Arjosari Malang ke Bungurasih.


Setibanya di Bungurasih saya pribadi aja naik Ojek, berhubung saya sudah malas banget mikirin angkutan lain. Biaya naik ojek ini saya diminta Rp. 40.000, alasannya ialah saya nggak tahu sama sekali tempatnya, maka saya sepakat aja. Akhirnya berangkatlah naik ojek.


 


Satpam Konjen Jepang Serem-Serem Baik


Tidak butuh waktu usang untuk hingga ke Konjen Jepang, sekitar 20 menit dengan motor. Sesampainya, saya bayar ojek dengan uangku Rp. 60.000, kemudian dikembalikan Rp.20.000. Nah sesudah itu saya mau ke Konjen, walaupun saya tahu itu sudah terlambat dan bukan waktunya alasannya ialah udah jam 1, tapi saya mau sanggup informasi aja dulu. Ketika di depan pintu gerbang masuk, saya ditanyain:”Dari mana Mas?”


“Malang Pak”

“Ngojek dari Bungur to?”

“Iya Pak”

“Disuruh bayar berapa Mas?”

“Empat puluh rebu Pak”

“Wooh.. semprul Kurang ajar”


Aku kaget plus panik, maksudku, apa salahku? Aku cuma penumpang ojeek Paaak.. Ampuni akuuu..


Pak Satpam pribadi keluar dan berteriak ke tukang ojek:



“Nang ndi omahmu? Anak buahe sopo kon?” *dimana rumahmu? anak buah siapa kamu?*

“Anu Pak.. Bungurasih..” Si tukang ojek menjawab dengan salah tingkah.

“Kurang didik kon, Bungur kene iku slawe ewu, kon narif mahal-mahal anak buahe sopo kon?” *Kurang ajar, Bungurasih ke sini itu tarifnya 25ribu, kau narif mahal-mahal anak buahnya sapa kamu?*

“Anu.. Pak.. Sebenarnya kalau nggak mau ya nggak papa”

“Nggak papa opo? Delok en sesok tak obrak abrik tempatmu!” *Liat aja, besok saya obrak-abrik tempatmu!*

Si tukang ojek pribadi ngacir ketika berhasil menstarter motornya.



Seketika itu juga saya gres sadar kalau Pak Satpamnya ternyata baik. Dia nggak mau kita ditipu tukang ojek. Tapi caranya preman banget emang.  Setelah itu satpam itu datangin aku, dengan perasaan yang masih bercampur, saya diem aja.”Besok-besok sampean naik kereta aja Mas kalau dari Malang” Pak Satpam memulai pembicaraan dengan tersenyum.



“Ohh.. Ini deket stasiun kah Pak?”

“Halah Mas.. 5 menit juga hingga stasiun Gubeng Surabaya”

“Yahh.. Kalau tahu gitu saya naik Kereta Pak”

“Iya Mas, besok-besok naik kereta aja”

“Sampean mau urus Visa atau ngambil Visa?”

“Ngurus Visa Pak”

“Waah… Terlambat ini, sudah jam stengah dua. Yaudah sampean masuk aja dulu, cek kelengkapan dokumennya, agar besok pribadi sepakat kalau ngurus”



Akhirnya saya masuk untuk mengurus persyaratannya, kemudian di dalam sanggup informasi mengenai percetakan foto yang bagus. Nah percetakan foto yang manis ini sebelumnya saya sudah sanggup informasinya di internet. Lokasinya berada belakang Konjen Jepang di Surabaya, jalan kaki 3 menit juga hingga tempatnya.


Jadi kalau kalian akan menciptakan Visa Jepang di Surabaya, sanggup cetak foto di daerah itu. Nama tempatnya Muara Photo , Jln. Raya Gubeng no. 50 Surabaya. Telp. (031) 5021437. Lokasinya yang saya lingkarin ini:


Sesuai dengan pengalamanku beberapa ahad kemudian √ Cara Membuat Visa Jepang di Surabaya
lokasi percetakan foto

Waktu untuk foto dan pencetakan foto ini sekitar 30-45 menit. Makara sanggup pribadi aja ditungguin sambil santai-santai istirahat gitu.


Setelah itu selesai, lengkaplah persyaratannya. Karena udah terlanjur lapar, saya alhasil cari makan di warung-warung kecil pinggir jalan. Seperti yang biasanya saya lakukan, kalau saya beli kuliner dan yang jaga warung tidak terlalu sibuk, saya ajak ngobrol. Dari dialog itu saya sanggup info kalau Pak Satpam Konjen itu memang terkenal, dulunya preman, tapi kini udah lebih baik dan ramah ke orang.


Baca Juga: Pengalaman Mencari Makanan Halal di Jepang


Setelah makan saya cari penginapan murahan lahh.. Soalnya sudah terlanjur di Surabaya, mau balik lagi juga capek, yah.. alhasil dapatlah Hotel Gubeng (ini aslinya salah tulis, harusnya Hotel Gubuk). Hotel ini cukup lah buatku, tapi bangunannya sangat-sangat bau tanah dan angker. (lebih kerasa lagi pas malamnya). Aku istirahat dan menginap di Hotel Gubeng semalam.


Pagi harinya saya pribadi berjalan mencari makan. Setelah makan saya pribadi mengurus Visa, Alhamdulilah sebentar aja kelar alasannya ialah yang mengantri masih sedikit, hanya tiga orang saja ketika itu. Visa akan kita dapatkan sesudah empat hari kerja. Makara kalau Senin mengajukan maka Kamis Visa jadi. Kalau Selasa mengajukan Jum’at akan jadi. Jika tidak ada masalah, ini niscaya sempurna waktu kok, pelayanannya juga sangat baik


Kemudian pada ketika mau pulang Pak satpam bilang “Udah mas, besok naik kereta aja, kau naik kereta jam 10 pagi dari sana”


“Owke Pak!.. Siiplahh. Terimakasih banyak Pak” Akhirnya saya pulang ke Malang.


Kemudian Ketika mengambil Visa saya naik kereta jam 7 pagi, alasannya ialah itu ialah hari Jum’at jadi kalau naik kereta yang jam 10.00 saya sanggup nggak Jum’atan. Semua lancar hingga semua urusan selesai. Ketika saya ke Konjen Jepang, Pak Satpam masih menyambutku dan mengingatku. Kami sempat ngobrol-ngobrol juga sebelum alhasil saya pamit pulang. “Sukses yah di Jepang” katanya, kujawab “Amin. Matursuwon Pak”.


 


Rangkuman  [Penting]:


Jadi kalau kalian ingin mengurus Visa Jepang di Surabaya sebaiknya kalian memakai transportasi kereta api ke Stasiun Gubeng Surabaya. Dari stasiun Gubeng Surabaya ke Konjen Jepang cuma memakan waktu 10 menit jalan kaki.


Kalau kalian dari Malang, maka sebaiknya memakai kereta jam 5 pagi, sehingga jam 8 kalian sudah hingga stasiun Guben Surabaya. Setelah itu kalau kalian butuh foto 4.5×4.5 sanggup ke percetakan foto dulu, ini memakan waktu 45 menit, jadi nanti sekitar jam 09.00 kau sudah siap dengan semua perlengkapannya.


Dengan cara ini kau menghemat biaya penginapan dan perjalanan panjang ibarat yang terjadi padaku


Itulah dongeng singkatku seputar Perjalanan Internasional Pertamaku dan Mimpi Ke Jepang. Semoga Postingan wacana Cara Membuat Visa Jepang di Surabaya ini bermanfaat. Thanks



Sumber https://mystupidtheory.com

Thursday, November 8, 2018

√ Masakan Halal Di Jepang [Susah Bahagia Mencari Makan Di Negeri Sakura]

Blog ini kok jadi sok-sok jepangan terus postingannya? Kali ini masalah Makanan Halal di Jepang? Iya, saya kan dari sana jadi biar sekalian pamer gitu. Aku merencanakan setidaknya akan ada 7 hingga 8 postingan ihwal perjalanan singkatku itu ke negeri sakura. Itu dalam rangka biar perjalananku tidak sia-sia, makanya harus kutulis.


Mencari Makanan Halal di Jepang


Jepang ialah negara nonmuslim, maka hampir semua masakan dagingnya ialah haram. Aku tidak tahu persis bagaimana aturan halal haram itu, terutama pada bahasan yang sangat spesifik, tapi saya hanya tahu beberapa hal yang umum ini:


Haram




  1. Daging dan Semua Hal yang dari Babi Haram (walau hanya setetes lemak)

  2. Sake, Arak dan Alkohol Haram (sesedikit apapun jumlahnya)

  3. Jika Daging Ayam ataupun Sapi disembelih Tanpa Menyebut Nama Allah maka Haram (Ini yang banyak terlupa)



Halal




  • Semua Bahan Makanan dari Laut Halal (Sudah Bangkai Sekalipun)

  • Sayur Mayur yang Tidak Tercampur Makanan Haram ialah Halal(Waspada)

  • Makanan yang Beralabel Halal Oleh Alim Ulama Setempat InsyaAllah Halal.



 


Semua persyaratan diatas akan sangat simpel terpenuhi kalau kita berada di negara Muslim ibarat Indonesia. Tetapi akan sangat berbeda hal-nya saat berada di negara non-Muslim.


Makanan Halal Pertamaku di Jepang


Pertama kali masuk Ke Jepang, saya memakai penerbangan pesawat Air Asia. Penerbangan ini menghabiskan waktu sekitar 13 jam totalnya. Itu termasuk singgah, transit di Malaysia selama 3 jam. Ini terang saja menciptakan perutku lapar. Terutama sebab penerbangan ekonomi yang ekonomis banget nggak ngasih makan dan minum XD.


 


Sampai di Bandara Kansai-Jepang saya sangat lapar, tapi saya eksklusif menuju ke daerah penjualan tiket bus menuju Okayama. Ini lebih penting daripada makan siangku. Pasalnya budaya di negara ini sangat tertib, maka saya harus mengantri untuk pembelian tiket terlebih dahulu, biar tidak ketinggalan bus Bandara-Okayama.


Setelah urusan pembelian tiket berhasil, saya eksklusif bertanya daerah membeli masakan di Bandara. Petugas penjualan tiket menawarkan arahannya, saya eksklusif menuju ke lantai tiga bandara untuk membeli masakan halal dan minuman.


Menu Makanan Halal di Jepang


Ketika hingga di lantai 3 bandara, ada banyak masakan dan minuman disana, tetapi tidak ada makanan yang berlabel Halal, pun saya tidak tahu duduk kasus kandungan materi yang terdapat dalam masakan tersebut. Akhirnya saya hanya berputar-putar mencari-cari kalau ada yang jual nasi dan sayuran gitu. Saat itu, sayur mentah sekalipun merupakan pilihan yang baik.


Onigiri



Berkeliling di lantai tiga ini membuatku semakin lapar. Seperti yang saya tahu dari banyak informasi bahwasannya masyarakat Jepang sangat suka masakan laut, di lantai tiga ini ada aneka macam restoran yang menyediakan masakan laut. Tetapi sekali lagi, timbul pertanyaan “Apakah bebas sake?”. Akhirnya saya bertanya ke salah satu pelayan toko, “Apakah ada hidangan masakan yang sederhana? Yang hanya berisi nasi dan sayuran?” Kemudian tampaknya dia menyampaikan “Tidak ada”. Kemudian saya gres ingat pesan dari Lukman Sensei, kalau nanti di bandara beli aja nasi kepal “Onigiri” (sama spt lemper lah).


Akhirnya saya tanyakan dimana daerah jual onigiri? Kemudian diberitahu bahwa yang jual di lantai 2, nama minimarketnya “Family Mart”. Akhirnya saya pergi dehh ke Family Mart. Family Mart ini ibarat Alfamart dan Indomart kalau di Indonesia. Nah disitu ada banyak jenis onigiri, ini jadi kebingungan gres lagi buatku, Onigiri mana yang tidak mengandung daging (babi, ayam,sapi) dan sake?


Karena goresan pena komposisinya dalam bahasa Jepang yang tidak kumengerti. Akhirnya saya bertanya ke penjaga daerah tersebut. Agak sulit juga untuk komunikasi sebab penjaganya tidak mengerti Bahasa Inggris. Semakin sulit, kalau gitu saya ganti pertanyaanya “Mana onigiri yang isinya ikan salmon?” Akhirnya dia sanggup menunjukkan.


Onigiri ini menjadi masakan Andalanku selama 5 hari di Jepang. Rasanya saya suka, asin-asin salmon dan rumput laut, enak. Selain itu, produk ini ada di setiap Family Mart, dan Family Mart itu layaknya Indomart ada dimana-mana. Jadinya ini merupakan masakan halal yang paling simpel kuperoleh. Harganya ialah 120 yen, kalau dibandingkan dengan masakan di Indonesia sih ini sangat mahal sebab setara dengan Rp. 12.000 hanya sanggup nasi sekepal isi abon salmon sedikit. Tapi di Jepang ini tergolong murah.


“Hararu”


Cerita perjalananku menujur Okayama telah kuceritakan disini: Penerbangan Internasional Pertama Setelah hingga di Okayama, di depan Okayama University (Okadai) gerbang sains (Tsushima) ada Cafe. Cafe ini ternyata menyediakan hidangan masakan halal. Aku masuk ke dalam Cafe yang terletak di lantai dua. Awalnya saya berniat untuk pesan hidangan sayuran saja atau ikan rebusan aja.


Ketika masuk, saya disambut oleh pelayan, kemudian saya bilang kalau mau makan nasi dan salmon. Tetapi nggak ada, jadinya saya agak usang bangkit di depan menu. Setelah galau saya bertanya “Ada nggak yang tanpa Daging dan Sake?” kemudian pelayan tersebut menjawab “Hararu? Hararu?” Aku bingung. Kemudian dia menunjuk sebuah hidangan di cuilan atas, disitu berlabel Halal(yg goresan pena arab), eksklusif saya paham bahwa penyebutan kata Halal dalam logat Jepang ialah “Hararu”. Aku eksklusif oke.


Awalnya kukira masakan itu yakni Jamur, sebab tampilannya sudah berubah. Ternyata itu yakni ayam yang tulangnya sudah dicabut. Makara hanya ada dagingnya saja. Rasa makanannya, emm gimana yah? Hambar lahh.. Tidak terlalu terasa bumbunya. Menurut beberapa bacaan yang pernah kubaca ditambah pengamatanku, orang jepang memang suka mempertahankan rasa orisinil makanan, tidak terlalu banyak campur tangan bumbu. Ini sangat berbeda dengan kita orang Indonesia.


Setelah beberapa kunyahan, jadinya saya memutuskan untuk pakai saus sambal, biar ada rasa pedasnya. Habis juga akhirnya. Dari semua masakan Jepang, saya paling suka nasinya. Beberapa kali makan di Hoka-Bento saya selalu setuju bahwa dikasih nasi jepang dan saus sambal saja udah lahap saya makannya.


Baca Juga: Cara Menggunakan Sumpit Dengan Mudah


Dinner Dengan Professor (Diskusi Makanan Halal)


Ketika ujian wawancara telah selesai, saya dipanggil ke ruangan Professor yang akan menjadi supervisorku. Beliau ternyata mengajak “Dinner”. Acara makan malam ini antara aku, teman dari PPI Indonesia dan Professorku.


Pertemuan sebelumnya dengan Professor, saya ditawarin Beer Zero Alkohol, dia sudah paham kalau saya menghindari Alkohol. Tetapi dia tentu saja belum paham Halal Haram itu sepenuhnya. Saat itu saya menolak, saya pernah baca kalau memirip-miripkan dengan keharaman itu yakni haram. Artinya kalau daging babi itu haram, bagaimana kalau daging sapi diolah dengan cara tertentu, ditambahkan beberapa materi sintesis sehingga mempunyai rasa dan tekstur yang sama dengan daging babi, apakah ini haram? Tentu saja haram.



Sama ibarat Beer Zero Alkohol. Menyerupai rasa Beer walau tanpa Alkohol ialah Haram. Karena berusaha memirip-miripkan dengan yang Haram. Itu pemahamanku, mungkin orang lain punya pendapat berbeda.


Akhirnya pada kesempatan itu saya minum Coke “Kokakola”, padahal sudah hampir lima tahun saya nggak minum jenis kokakola, sprit dan panta. Tapi kokakola sanggup dikatakan halal, jadi kuambil kokakola saja.


Pertemuan membahas dinner ini, saya disuguhi teh. Seperti yang saya bilang sebelumnya, mereka suka rasa orisinil dari makanan. Teh itu rasanya hambar, tidak diberi gula. Kalau teh tawar anget kan saya sudah cukup terbiasa, tapi ini teh-nya dingin. Teh itu kuminum habis juga, sebab niscaya saya akan terbiasa.


Saat itu dia bertanya masakan apa saja yang saya hindari? Aku jawab, secara umum saya menghindari daging (tidak hanya babi sebab ayam dan sapi juga disembelih dengan tanpa melafazkan nama Allah), dan alkohol.


Kemudian dia bertanya lagi “Bagaimana kalau ikan mentah? Apa kau mau makan ikan mentah?” Aku sendiri belum pernah makan ikan mentah, tetapi saya ingin tau bagaimana rasanya ikan mentah itu. Namanya juga saintis, kan banyak penasarannya. Aku jawab “Saya belum pernah makan ikan mentah, tetapi saya sanggup makan ikan mentah dan saya tertarik ingin merasakannya”.


Beliau tersenyum “Baiklah.. Tetapi nanti mungkin akan ada sedikit sake pada sausnya”. “Emm.. Sesedikit apapun saya dihentikan mengkonsumsi sake kalau saya mengetahuinya, tetapi tidak duduk kasus kalau makan malam dengan ikan mentah bahkan tanpa saus, atau mungkin saya akan minta saus sambal saja” saya menjawab dengan cara itu biar dia tidak repot mencari daerah makan nantinya. “Sedikit saja untuk aroma sausnya juga tidak boleh? Kau tidak akan mabuk sebab itu”.  “Sesedikit apapun tidak boleh, this is our faith” saya tersenyum. Beliau tersenyum juga, kemudian berkata “Baiklan. Tetapi nanti mungkin saya sendiri akan memesan Wine atau Sake” kemudian dia melanjutkan:


“Kata Senseimu, Lukman, Japanesse can’t life without sake”


Aku jawab “Dan tampaknya itu benar” Kemudian kami tertawa. 😀


Keesokan harinya saya dinner dengan Professor. Kami ke sebuah restoran, dan kami tidak pernah menyangka bahwa restoran tersebut sanggup menghidangkan makanan halal di jepang. Kisah Makan Malam ini sangat menarik, InsyaAllah akan saya ceritakan  berikutnya di Restoran-Restoran Halal di Jepang.



Dari pengalamanku mencari masakan di Jepang, saya sanggup bilang kalau dunia bisnis restoran di Jepang sedang mencar ilmu duduk kasus masakan halal.




Sumber https://mystupidtheory.com

Monday, November 5, 2018

√ Cara Paling Gampang Memakai Sumpit Tanpa Perlu Latihan

Baiklah.. Karena beberapa postingan yang kemudian saya sudah memperlihatkan cerita mencari masakan Halal di Jepang, kali ini saya mau share tentang cara memakai sumpit dengan mudah. Ini mungkin skill dasar yang harus kau tahu sebelum masuk ke Jepang, atau minimal sebelum kau masuk di rumah makan jepang atau china.











 Karena beberapa postingan yang kemudian saya sudah memperlihatkan  √ Cara Paling Praktis Menggunakan Sumpit Tanpa Perlu Latihan
cara memakai sumpit

Tutorial ini sesungguhnya kupikirkan dikala kemarin makan di HokaBento yang tidak perlu disebutkan namanya. Saat pegang sumpit jadi kepikiran pengalamanku di Jepang dikala ditraktir Professor untuk dinner. Itu pengalaman pertama mulutku kejar-kejaran sama ikan mentah dan udang tepung (tempura), maklum tanganku kan cuma terbiasa pegang laptop dan cangkul, jarang banget pegang pulpen apalagi harus menguasai sumpit yang ibarat memegang dua pulpen itu. Dari situ saya jadi mau tuliskan cara termudahnya.



Cara Menggunakan Sumpit Dengan Mudah


Beberapa hal yang perlu kalian catat ialah:


Cara ini yaitu teknik yang kukembangkan menurut percobaan pribadi, ini tanpa melaksanakan riset pendahuluan, studi literature ataupun tinjauan pustaka, semuanya spontan. Teknik ini tidak mempunyai paten, sehingga bebas disebarkan dan dipakai dimanapun. Terakhir, teknik ini sedikit berbeda dengan cara orang Jepang, China ataupun Hongkong, tetapi mempunyai simpulan yang sama, masakan akan hingga tujuan dengan mudah.


Langkah gampang memakai sumpit ialah:



  1. Pertama, pisahkan kedua sumpit. Biasanya sumpit di RM jepang yang belum dipakai selalu melekat sepasang (*ciee.. sumpit aja punya pasangannya)

  2. Kedua, pegang sumpit dan gunakan dengan tangan kanan. 

  3. Ketiga, masakan yang ingin kau ambil, tusuk dengan ujung sumpit hingga masuk (perhatikan gambar). Pada gambar, saya memakai satu sumpit sebagai teladan dan memegangnya dengan tangan kiri, ini alasannya tangan kananku yang sedang membawa handphone untuk foto(sory:) 

  4. Keempat, Nahh.. Sekarang kau dapat dengan gampang memakannya ibarat makan sate. 












 Karena beberapa postingan yang kemudian saya sudah memperlihatkan  √ Cara Paling Praktis Menggunakan Sumpit Tanpa Perlu Latihan
cara gampang memakai sumpit



Kelemahan teknik



  • Tidak dapat dipakai untuk masakan yang ukurannya kecil. 

  • Untuk masakan yang agak keras, ibarat daging sapi atau daging rino liar kau perlu meraut sumpitmu biar lebih tajam. 


Semoga postingan ini bermanfaat. Jus For Fun. 😛

Tetapi buat yang bener-bener nggak bisa memakai sumpit, ini niscaya solusi jitu kan? Hahaha 😀



Sumber https://mystupidtheory.com

Tuesday, October 2, 2018

√ Ramadhan Pertama Di Negeri Sakura

Hi guys! Salam Ramadhan!


Malam pertama Ramadhan saya nggak ikutan teraweh di masjid. Aku lupa jikalau masuknya bulan Ramadhan dimulai dari malam hari, sehingga ada sholat teraweh berjama’ah. Walaupun bekerjsama di group Line sudah ada yang mengabari jikalau malam itu akan ada teraweh berjamaah, tapi memang pemberitahuannya sangat mepet dengan waktu isya’ dan kebetulan posisiku lagi di luar, jauh dari Masjid, untuk belanja keperluan sahur satu bulan penuh.


Malam pertama Ramadhan ini saya nggak sanggup tidur, mungkin alasannya ialah saya terlalu banyak tidur di hari minggu, alhasil nggak ngantuk-ngantuk, yaudah saya lanjutkan aja hingga sahur. Sahur di negri sakura ini waktunya sangat awal, sekitar jam 03.03 sudah shubuh, jadi saya sahur sekitar jam 2.30.



Ini bukan pertama kali-nya saya sahur sendirian sih, saya sudah cukup terbiasa untuk sahur sendirian, tetapi ini pertama kalinya sahur tanpa suara-suara dari TOA masjid, terasa sepi sekali. Setelah sahur, saya  sholat subuh dan tidur. Karena jam 03.03 sudah masuk waktu shubuh, maka sehabis sahur saya sanggup tidur lagi sekitar 5 jam hingga jam 8, cukuplah buat beraktifitas kembali.


Senin, 8.40 saya ada kelas Physical Chemistry of Surface, salah satu kelas paling berat buatku. Sebenarnya ini kelas yang kurang ideal buatku, alasannya ialah persyaratan untuk masuk kelas ini harusnya sudah memahami Quantum Chemistry, dan saya belum paham sama sekali.


Ketika masuk kelas, sensei eksklusif membagikan kertas soal kemdian menyampaikan “Hari ini ujian, kita akan ambil nilai tengah semester kalian”,  “Upss… I’m in a real trouble now”.


Dan ibarat dugaan, tak ada satu soalpun yang saya yakin sanggup mengerjakan. Bahkan yang paling dasar aja saya lupa. Aku ingat di beberapa bagian, tetapi lupa detailnya. Kacau dahh.. Dari enam soal yang muncul hanya dua soal yang saya tahu citra umum-nya, sisanya nihil..


Kelasku ini diisi oleh mahasiswa Indonesia(aku sendiri), Jepang dan Cina. Akibat ujian dadakan ini, saya sanggup eksklusif menilai beberapa hal. Selama ujian sensei sibuk sekali sehingga kami ditinggal di ruangan, dengan perjanjian awal: kerjakan sendiri, nggak boleh lihat catatan dan buku cetak.


Setelah beberapa menit ujian dimulai, sahabat dari Jepang tetap santai dan mengerjakan ujiannya, sahabat yang dari cina sudah membuka-buka buku catatannya, dan kalian tahu donk mahasiswa Indonesia lagi ngapain? Mengamati keduanya. Aku sudah pada titik dimana nggak ada lagi yang saya pahami, jadi yah sudah hanya mencoba menerka-nerka beberapa persamaan yang kemungkinannya 90% salah total.


Teman dari Jepang memang mempunyai budaya yang sangat berbeda, mereka mengutamakan kejujuran diatas segalanya, sedangkan sahabat dari China mungkin mengutamakan nilai. Tetapi yang paling menarik ialah dikala Sensei kembali untuk mengecek pekerjaan kami, ia mendapati bahwa sahabat dari China itu membuka buku cetak dan buku catatannya. Tahukah kalian apa yang pertama ditanyakan?


“Kamu nggak melihat buku cetak dan buku catatan kan?”


Aku (dalam hati)  “What?”. Maksudku, pertanyaan macam apa itu? Sedang ujian dan diatas meja ada buku cetak dan buku catatan yang terbuka, apa Sensei masih perlu mengkonfirmasi? 😀


Kalau kita di Indonesia niscaya eksklusif diambil kertas jawabannya, tetapi ini Sensei malah mengkonfirmasi dengan cara yang kasatmata lagi!


Bukannya bertanya “Kamu nyontek buku yah?” tapi malah kebalikannya “Kamu nggak lihat buku kan?”. Benar-benar nggak habis pikir aku.


Setelah dikumpulkan, sensei bilang jikalau ujian ini nggak akan diambil nilainya. Aku lega lahh.. Secara nilaiku sanggup dibilang nol atau mungkin recehan lah. Dan temanku yang lihat buku diampuni, hanya dibilang jikalau itu tidak baik. XD


Puasa hari pertama berakhir dengan nikmat di Masjid menikmati makanan yang disediakan oleh brother muslim dari pakistan. Semoga saja Allah memperlihatkan jawaban terhadap kebaikan mereka. Amin.. >_<



Sumber https://mystupidtheory.com

Monday, October 1, 2018

√ Wisata Petik Stroberi Di Yakage, Jepang

Ini bisa di bilang suuuper late post. Perjalanan wisata petik stroberi di Jepang ini sudah saya lakukan pada Juni lalu. Tapi alasannya ialah memang belum sempat menulis (dasarnya males aja), kesudahannya terbengkalai sampai kini gres kepikiran untuk posting di blog ini. Soalnya sesudah dilihat-lihat lagi foto-foto, kok sayang gitu jika nggak di posting. Kaprikornus di bawah inilah dongeng wisataku:


 


 Wisata Petik Stroberi di Yakage, Jepang.


Di Okayama University, ada cafe yang menampung para pelajar ajaib dan pembelajar bahasa asing, namanya L-Cafe, di cafe ini kita biasanya datang, cari teman dan ngobrol, diskusi, membahas perbedaan budaya. Kaprikornus yang mendominasi di daerah ini ialah pelajar bahasa dan budaya. Mahasiswa sains sejenisku jarang sekali ditemukan di daerah ini.


Tapi alasannya ialah saya merasa sebagai mahasiswa ajaib (sok bule gitu), jika nganggur atau penat tiba ke daerah ini. Nah dari L-Cafe ini saya ditawarin untuk ikut trip singkat wisata petik stroberi di Yakage, Jepang. Karena memang momennya pas saya nggak ada agenda, saya ikutan deh.Belakangan saya gres tahu jika L-Cafe ternyata mempunyai berbagai jadwal wisata untuk para mahasiswa asing. Umumnya kita dikenalkan dengan wisata lokal di sekitar kota. Kadang sanggup penginapan gratis, makan gratis, ataupun transport gratis. Syaratnya biasanya sangat sederhana, menyerupai ikut meramaikan dan bergabung di program sosial.


Nah kali ini kunjungan wisata petik stroberi ini syaratnya harus mempresentasikan wacana stroberi di negara masing-masing. Buat kertas presentasi kemudian maju deh jelaskan di depan anak-anak.


 


Keberangkatan ke Yakage


Dari  Okayama, saya dan rombongan berangkat ke Yakage memakai mobil. Waktu tempuh ntuk mencapai lokasi petik stroberi ini ialah 3jam dari kampus Okayama. Selama perjalanan saya melihat pergantian pemandangan sekitar yang begitu menarik.


Dari kota, ke desa, melihat jalur kereta, hutan, hutan yang kayunya gres saja di panen, dan tentu saja bunga sakura alasannya ialah ini awal demam isu semi.



 Perjalanan wisata petik stroberi di Jepang ini sudah saya lakukan pada Juni kemudian √ Wisata Petik Stroberi di Yakage, Jepang
Sampai di Yakage, Kaprikornus bule paling item



Petik Stroberi


Sampai di lokasi, kami eksklusif menuju ke lahan stroberi. Charge yang dikenakan untuk petik stroberi selama dua jam ialah  ‎¥1500 atau sekitar Rp. 180.000 cukup murah jika mengingat harga stroberi di Supa (super market).


Lahan stroberi disini memakai rumah kaca, untuk menjaga temperaturnya supaya tetap hangat +-24C. Selain itu, penanaman stroberi-nya eksklusif ke tanah yang di Jepang sudah jarang dilakukan. Kata petaninya jika stroberi yang di super market itu ditanam di pot, supaya ekonomis lahan dan panennya lebih banyak, tetapi rasa dari stroberi-nya kurang manis, nggak sebagus yang ditanam eksklusif ke tanah.



 Perjalanan wisata petik stroberi di Jepang ini sudah saya lakukan pada Juni kemudian √ Wisata Petik Stroberi di Yakage, Jepang
Teknik Tanam Stroberi Langsung di Tanah


Begitu masuk ke dalam rumah kaca, kami eksklusif memetik stroberi dan menikmatinya. Beberapa peraturan yang perlu diperhatikan saat masuk dalam rumah beling ialah:



  1. Dilarang melompati gundukan tanaman stroberi.

  2. Tangkai stroberi yang dipetik harus dimasukkan plastik (yang udah disediakan).

  3. Jangan muntah di dalam (kebanyakan stroberi)


Seperti yang dikatakan oleh petani tersebut, stroberi-nya manis banget. Stroberi disini ukurannya besar-besar dan manis banget. Kaprikornus jika selama ini stoberi yang pernah kumakan itu kecil-kecil dan rasanya kecut, kali ini berbeda sama sekali. Stroberi disini rasanya sangat manis dan ukuranny besar.



 Perjalanan wisata petik stroberi di Jepang ini sudah saya lakukan pada Juni kemudian √ Wisata Petik Stroberi di Yakage, Jepang
Stroberi Raksasa


Setelah makan berbagai stroberi, kami istirahat, mengobrol dan bercanda sejenak. Setelah itu, saya menantang Celeb, teman dari New Zenland untuk lomba makan stroberi. Aku kalah total, telak! He’s really in a different level!


Celeb kemudian dongeng jika dulu beliau sempat ikut bertani stroberi, jadi beliau bisa memetik stroberi dengan cepat. Belum lagi fisiknya yang emang jauh lebih besar dari aku, yah kalah telak dehh. XD



Melihat Bunga Tsubaki (Camelia)


Setelah kenyang dengan stroberi, kami menuju ke sebuah perayaan kecil dimana orang-orang berkumpul untuk melihat bunga Tsubaki. Aku sudah pernah lihat bunga Camelia di indonesia, tetapi gres sekali saya lihat tampilan bunga Camelia yang sebagus ini.



 Perjalanan wisata petik stroberi di Jepang ini sudah saya lakukan pada Juni kemudian √ Wisata Petik Stroberi di Yakage, Jepang
Bunga Camelia (Tsubaki)



Di ekspo kecil ini, mereka juga mengembangkan makanan, dan manisan(arum manis). Aku sendiri mengantri bersama bawah umur kecil untuk sanggup satu arum manis. XD


Masih disekitar situ, ada bunga sakura yang lebat dan anggun banget. Alhamdulillah Aoi-san, rombongan kami yang juga sebagai penerjemah mau ambilin fotoku.


 


Presentasi Poster


Dari awal berangkat kami sudah tahu jika akan mempresentasikan poster wacana stroberi di negara masing-masing, tapi kami nggak pernah tahu jika presentasinya di sekolahan. Sambutan di sekolah ini luar biasa. Mereka mempersiapkan pembawa program yang berbahasa inggris (walaupun masih perlu dibantu oleh teman kami dari Okayama University).



 Perjalanan wisata petik stroberi di Jepang ini sudah saya lakukan pada Juni kemudian √ Wisata Petik Stroberi di Yakage, Jepang
Presentasi Poster ke Anak SMP


Di presentasi ini, saya menceritakan wacana proses penanaman stroberi di Magetan dan pengolahannya. Banyak sekali yang tertarik ke pengolahan stroberi yang saya presentasikan, yaitu wacana pembuatan dodol stroberi. Walaupun saya nggak tahu secara detil tapi saya jawab semampuku aja. 😀



Melukis Bersama Anak-Anak


Bagian paling tak terlupakan pada perjalanan kali ini ialah program melukis bersama bawah umur ini. Sangat seru!



Jadi kita diberi papan, cat warna dan spidol, kemudian bebas mau menggambar apapun. Pertama-tama saya diajak menuntaskan lukisan bareng sama warga lokal. Lukisannya beliau udah anggun banget, saya tinggal nambahin garis-garis yang nggak jelas. XD



 Perjalanan wisata petik stroberi di Jepang ini sudah saya lakukan pada Juni kemudian √ Wisata Petik Stroberi di Yakage, Jepang
Melukis random

 Perjalanan wisata petik stroberi di Jepang ini sudah saya lakukan pada Juni kemudian √ Wisata Petik Stroberi di Yakage, Jepang
Hasil Karya Anak Bangsa


Kedua kalinya saya joinan sama Sarah-san, teman dari kanada. Dia menggambar beruang kutub. Karena beliau udah gambar binatang, saya buat juga gambar kucing. Tapi saya kasih warna persis pikachu dan kunamai pikachu. Semua yang lihat pada ketawa dan protes alasannya ialah pendengaran pikachu harusnya panjang. Well.. Whatever. Yang penting saya senang.. 😀



 Perjalanan wisata petik stroberi di Jepang ini sudah saya lakukan pada Juni kemudian √ Wisata Petik Stroberi di Yakage, Jepang
Selesai Acara


Aku sesungguhnya pengen lebih usang main bersama bocah-bocah ini, secara level bahasa jepang-ku khan masih sangat bocah, jadi jika ngobrol ama mereka menyerupai bocah ketemu bocah. Seneng banget melihat tingkah mereka yang mencari perhatian, super kawaii. Tapi pada kesudahannya kami harus pulang. Bye-bye.. Thanks for the memories… You are so adorable. 🙂


Sebulan kemudian, beberapa dari bawah umur ini tiba ke kampus untuk ketemu kami lagi. And I got some letter from their cute litle hand. Nantikan ceritanya di postingan berikutnya.


Special thanks to :


Aoi -san for all the picture and photograph.

L-Cafe for all the support in this trip


Sumber https://mystupidtheory.com

Friday, September 21, 2018

√ Jalan-Jalan Ke K- Computer Di Kobe, Supercomputer Tercepat Di Jepang

Salah satu dongeng paling menarik dalam bidang Kimia Komputasi yang saya pelajari ialah wacana digunakannya bahasa pemrograman Fortran 95 dalam membangun sistem K-Computer. K-Computer ialah superkomputer yang dimiliki oleh pemerintah Jepang. Pak Lukman, dosen pembimbingku pernah ikut dalam salah satu project yang memakai K-Computer ini. Tapi yah masuk akal lah… Beliau emang superior juga kemampuannya, beda dengan rakyat jelata macam aku. XD



yang saya pelajari ialah wacana digunakannya bahasa pemrograman Fortran  √ Jalan-Jalan ke K- Computer di Kobe, Supercomputer tercepat di Jepang

Tidak disangka, dongeng pembimbingku wacana K-Computer alhasil bisa saya lihat dengan mata kepala sendiri. Bulan kemudian ketua PPI-Okayama meminta saya hadir dalam program FunScience yang diadakan oleh PPI-Kobe, acaranya ialah mengunjungi superkomputer milik pemerintah Jepang ini.



Perjalanan Naik Densha


Pertama-tama, bisa dibilang bila saya masih ‘cupu’ di Jepang ini, selama ini belum pernah pergi keluar dari Okayama sendirian, biasanya bareng teman-teman ataupun ikut orang lain. Kaprikornus untuk urusan penggunaan transportasi ibarat densha (kereta) masih belum banyak tahu. Seingatku gres sekali saya naik densha sendirian, itupun ketika ke Bandara untuk balik ke Indonesia. Tapi ketika sanggup ajuan untuk ikut seminar ke supercomputer tersebut, saya eksklusif aja meng-iyakan. Setelah itu saya cari rute kereta yang harus saya gunakan, rute hampir seluruh kereta di Jepang bisa diakses di web www.hyperdia.com. Setelah tahu rutenya, baiklah saya siap berangkat!


Yosh! Hari Jum’at pagi saya alhasil meluncur, perjalanan sendirian naik densha. Dengan level nihonggo (bahasa jeapang) yang bersahaja alias miskin kosakata, saya bisa juga beli kippu (karcis). Harga karcisnya ¥2.590 atau setara Rp. 270.000. Tergolong mahal untuk perjalanan selama 3 jam. Tapi alasannya saya menggantikan Pak Ketua PPIO maka biaya ini akan digantikan, tidak mengecewakan perjalanan gratis XD


Sepanjang perjalanan di kereta, saya selalu bertanya ke orang untuk mengonfirmasi kereta yang saya ambil benar. Karena sangat khawatir salah kereta atau terlambat. Padahal bila diperhatikan dari awal perjalanan, tidak ada jadwal kereta yang meleset, hampir semuanya sempurna waktu, bahkan satu menitpun tidak bergeser waktu keberangkatan keretanya. Tapi dasarnya orang nggak ngerti yang jadi gitu, gundah sendiri. Begitu sifat alami manusia, akan selalu takut pada hal-hal yang tidak diketahui. 🙂



Naik Roler Coaster Keliling Kota


Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, alhasil saya hingga juga di Sannomiya Eki (stasiun). Dari kawasan ini kita bisa memakai Sannomiya Port Liner untuk ke K-Computer. Awalnya saya nggak tahu yang namanya Port Liner, maklum lah makhluk dari hutan Borneo gini. Ternyata port liner itu ibarat roler coaster tetapi versi lebih besarnya.











pemandangan dari atas roler coaster kota alias Port Liner Kobe


Port Liner ini punya jalur yang melayang (berada di atas tanah atau setara lantai 4 gedung-gedung setempat). Naik transportasi ini, kita bisa melihat betapa majunya dan luar biasanya kota Kobe di Jepang ini.


Ketika masuk roler coaster ini, saya pengen banget ambil kawasan paling depan terus berdiri sambil lihatin kota Kobe, tapi ini nggak bisa kulakukan alasannya kawasan terdepan sudah dikuasai oleh bawah umur kecil. XD



RIKEN AICS (Advanced Institute For Computatiional Science)


Setelah beberapa jam, alhasil hingga juga di gedung RIKEN, gedung yang megah ini ialah lokasi keberadaan K Computer.











yang saya pelajari ialah wacana digunakannya bahasa pemrograman Fortran  √ Jalan-Jalan ke K- Computer di Kobe, Supercomputer tercepat di Jepang
Gedung Riken AICS Kobe

Dulu ketika diceritakan oleh dosen pembimbingku wacana K-Computer ini, saya kira sebuah ruangan berisi rak-rak komputer yang terhubung. Dugaanku itu cukup tepat, tetapi belum cukup menggambarkan bagaimana K Computer yang sebenarnya. K Computer berada di gedung RIKEN, gedung ini terdiri dari 6 lantai (ruang kerja normal) dan 4 lantai ruangan superkomputer.











Bagian Pintu Masuk

Ruang superkomputer yang dimiliki oleh Riken terdiri atas 4 lantai. Lantai 4 yang merupakan ruangan paling atas ialah kawasan processor komputer yang berisi 864 rak-rak komputer. Kemudian di lantai bawahnya ialah ruangan yang khusus dipakai untuk mengontrol udara pada ruangan processor komputer, jadi ruangan ini dipakai khusus untuk mendinginkan 864 rak komputer yang bekerja di atasnya. Lantai 2 merupakan ruangan berisi Global File System, yaitu kawasan menyimpan data yang dihasilkan oleh processor di lantai paling atas. Dibawahnya (lantai satu) ialah ruangan khusus untuk mengontrol udara pada Global File System.




Selain pendinginan struktur bangunan juga dirancang untuk tahan gempa dan tahan terhadap korosif asam maupun alkali. Kaprikornus ini bukan sekedar kawasan superkomputer K tetapi sebuah gedung yang menjamin keamanan dari komputer yang ada didalamnya dari gangguan-gangguan luar dan pengotor di dalam gedung.





Selain sistem ketahanannya (durability) yang luar biasa, gedung ini juga dilengkapi dengan panel surya dan sistem yang bisa menghemat energi hingga tingkat efisiensi 75%.











foto di depan satu unit rack superkomputer



Spesifikasi K Computer


K computer atau Kei Computer memperoleh namanya dari bahasa Jepang Kei yang berarti “1016” yang dalam kanji dituliskan ibarat ini:




Spesifikasi dari K Computer ialah kecepatan kerja 10.62 PetaFlops (1016 perhitungan setiap detik), kapasitas penyimpanannya ialah 1.26 PetaByte dan sistem network yang dipakai ialah Tofu interconnect.




Sistem network Tofu ini dikembangkan khusus hanya untuk K computer, jadi ini merupakan sistem yang original milik Jepang. Sedangkan dalam satu rak sistem superkomputer K ini diusung teknologinya oleh perusahaan elektronik terkemuka Fujitsu.






Penggunaan K Computer


Penggunaan dari K Computer ini pada umumnya dalam bidang simulasi sains. Hampir semua bidang sains sanggup didukung memakai simulasi komputer. Diantara bidang-bidang yang telah diteliti oleh tim Riken memakai K Computer ialah bidang kesehatan yaitu desain obat-obatan gres memakai simulasi komputer, bidang pencegahan tragedi yaitu prediksi tragedi dan simulasi penyelamatan manyarakat, bidang energi dengan pengembangan desain sumber energi higienis dan murah, bidang-bidang sains dasar yakni simulasi evolusi alam semesta, simulasi supernova, simulasi sistem clathrate hydrate, simulasi detak jantung insan dan masih banyak lagi.



Souvenir


Seperti kunjungan pada umumnya di Jepang, saya sanggup beberapa bundle souvenir yang keren dan ciamik. Ini souvenirnya:





Buatku ini menjadi kenang-kenangan biar saya punya kesempatan bekerja ataupun mencar ilmu di sistem K Computer, atau lebih keren lagi bila bisa Postdoc di Riken. (Nothing impossible kan? X)


Terakhir thanks banget buat PPI Kobe dan Okayama yang telah memperlihatkan kesempatan saya buat main-main ke K computer. Kegiatan yang sangat menginspirasi dan mencerdaskan. Aku tunggu seminar sains selanjutnya!


Perjalanan selanjutnya mengunjungi Masjid Kobe Jepang.



Sumber https://mystupidtheory.com

Wednesday, September 19, 2018

√ Mengunjungi Masjid Kobe Jepang

Melanjutkan perjalan sehabis mengunjungi K Computer, superkomputer tercepat di Jepang, saya mengunjungi Masjid Kobe. Walaupun rangkaian program di K-Computer dilaksanakan oleh PPI, Persatuan Pelajar Indonesia, tetapi waktu itu ada orang jepang yang ikutan di program ini. Aku pribadi aja ajak kenalan, Kotaro namanya.



Melanjutkan perjalan sehabis mengunjungi  √ Mengunjungi Masjid Kobe Jepang


Kotaro kuliah di jurusan Ilmu Komputer dan sangat tertarik pada penanganan bencana, itu sebabnya ia mengikuti Fun Scientific Event. Dia juga tiba ke program dengan memakai kaos Bandung, yang pertanda ia pernah ke Bandung, Indonesia.


Setelah program saya mengobrol sebentar dengan Kotaro, lalu ia bergabung dengan kelompok mahasiswi indonesia. Kebetulan ternyata teman-teman mahasiswi ini mau ke Masjid Kobe, mendengar itu saya pribadi memperkenalkan diri dan bilang bila mau gabung juga lihat Masjid Kobe. Dari percakapan, ternyata Kotaro juga mau ikutan ke Masjid Kobe, hanya saja kami naik Port Liner (semacam kereta) sedangkan ia sendirian naik sepeda motor.


Di perjalanan menuju Masjid Kobe kami melewati kuil. Ada yang menarik di sini, di depan kuil itu banyak orang yang berkumpul. Mereka berkumpul di depan kuil untuk main Pokemon Go. Aku tanyak ke teman-teman “Kenapa mereka main pokemonnya terpusat disini?”, masih kurang terang jawabannya apa. Yang niscaya banyak banget yang main pokemon di gerbang depan kuil itu, bahkan udah menyerupai kawasan wisata.











Orang-orang main pokemon di depang Kuil


Masjid Kobe


Masjid Kobe lokasinya bersahabat dengan Sannomiya Eki, jadi sehabis hingga ke Sannomiya Eki, pribadi aja jalan kaki sekitar 15 menit. Di Masjid Kobe, Kotaro sudah menunggu, ia mengobrol dengan seseorang, mungkin orang Pakistan atau Bangladesh, dari cara bicaranya.


Aku tiba dan pribadi menuju ke pintu masjid. Kemudian kotaro menyusul dan bilang

“Apa yang diucapkan orang muslim dikala bertemu orang lain?”

“Assalamualaikum” saya jawab sambil jalan.

Ketika sudah hingga di pintu masuk, saya duduk melepas sepatu.

“Assalamualaikum” Kotaro pribadi masuk, benar-benar menyerupai orang muslim.

Aku senyum-senyum aja lihat dia, omoshiroi! (interesting)


Pertama saya menuju kawasan wudhu, Kotaro mengikuti. Setelah itu ia minta diajarin wudhu, antara resah dan bahagia saya ajarin aja step by step wudhu. Dia ngikutin. Kami masuk ke ruangan sholat, ruang utama Masjid.


Ruang sholat masjid terbagi menjadi dua, lantai 1 dan lantai 2. Lantai 1 untuk pria dan lantai 2 untuk perempuan. Karena saya masih merasa pria saya menuju lantai 1 aja, :D. Sebelum sholat saya kasih sedikit panduan ke Kotaro, melihat tingkahnya tampaknya ia bakalan ikutan sholat. Aku sholat dzuhur dan ashar, dijamak dan qoshor, lantaran kondisiku masih dalam perjalanan dan menuntut ilmu.


Masjid Kobe ini mempunyai arsitektur gaya timur tengah, persis sekali dengan yang biasa kita temui di Indonesia. Beda jauh dengan masjid di Okayama yang bentuk bangunannya masih Apato, tanpa kubah ataupun goresan pena arab di potongan depannya.



Melanjutkan perjalan sehabis mengunjungi  √ Mengunjungi Masjid Kobe Jepang

Kondisi di sekitar Masjid kobe ini juga tampaknya didominasi oleh orang-orang Muslim, terdapat beberapa kawasan makan timur tengah di sekitarnya.


Masjid Kobe ini termasuk bangunan yang bersejarah di Jepang, khususnya wilayah Kobe. Bangunan ini yaitu salah satu bangunan yang bertahan dikala terjadinya gempa bumi di Kobe, 17 Januari 1995. Karena itu bangunan masjid dipakai sebagai kawasan pasokan persediaan masakan darurat. Melihat tugas ini menciptakan banyak orang Jepang yang mengenal Masjid Kobe.






Tuhan Ada di Segala Tempat


Setelah final sholat saya ngobrol-ngobrol lagi dengan Kotaro. Ia punya ketertarikan yang luar biasa pada hal-hal baru, terutama budaya. Dia bilang “Aku mau menikmati budaya luar, bukan sekedar pemandangan saja. Itulah sebabnya setiap tiba ke kawasan lain saya lebih menikmati berkomunikasi dengan orang lain, melihat budayanya, berguru bahasanya dibandingkan mengambil foto pemandangan”.


Prinsip orang Jepang, kepercayaan Shinto ialah Tuhan ada di mana-mana. Orang Jepang meyakini ada banyak Tuhan yang berada di setiap tempat. Seperti di hutan ada Tuhan, di lautan ada Tuhan, pun Kotaro menganggap di kawasan ibadah orang muslim ada Tuhan, itulah sebabnya ia ikut masuk dan beribadah menyerupai orang muslim dikala masuk ke Masjid Kobe.











Bareng Kotaro

Tidak ada satu doktrin pakem dalam prinsip agama shinto dan agama ini berasal dari rasa terimakasih kepada alam, sehingga kemanapun mereka pergi mereka akan menghormati alam dan menghormati kepercayaan orang lain. Tidak akan pernah kita lihat orang Jepang yang berdebat wacana kepercayaan orang lain, atau mengkritisi bahwa Tuhan ini salah, Tuhan itu benar. Karena bagi mereka Tuhan itu yah memang banyak dan ada di setiap tempat.



Sumber https://mystupidtheory.com

Saturday, September 15, 2018

√ Hanabi Di Okayama – Melihat Keindahan Kembang Api Jepang

Akhirnya sesudah sekian postingan saya sempatkan juga menulis perihal pengalaman di Jepang. Summer pertama di Jepang ini tampaknya akan sulit saya lupakan. Ada setumpuk ehhhh.. segudang pengalaman gres yang saya dapatkan. Semuanya luar biasa, dan sangat menarik menurutku.





Dari runtutan foto-foto di HP tampaknya saya harus ceritakan tentang Hanabi di Okayama Jepang. Setelah seminggu sebelumnya saya mengunjungi Masjid Kobe yang bersejarah, momen selanjutnya ialah Hanabi di Okayama. Momen melihat kembang api di Jepang merupakan ketika yang ditunggu-tunggu. Hampir di seluruh kota di Jepang mempunyai program malam kembang api di setiap tahunnya. Itulah sebabnya PPI-Okayama bersama dengan teman-teman Sahabat Indonesia (orang Jepang yang berguru Bahasa Indonesia) mengadakan program Hanabi, melihat kembang api bersama. 




Sejarah Singkat Kembang Api Jepang



Kembang api merupakan salah satu aspek penting dalam kebudayaan Jepang. Sejak diperkenalkannya oleh pemerintahan Ieasu Tokugawa (periode Edo). Kemudian pada tahun 1733 pemerintahan Yoshimune Tokugawa, pemimpin ke-8 Shogun, mengadakan Sumida River Fireworks Festival yang akan diadakan setiap tahunnya. Event ini disiapkan untuk menghilangkan roh jahat, mengantarkan orang-orang yang mati dan menghilangkan kesialan jawaban penyakit epidemik yang menyerang edo setahun sebelumnya.  Hingga kini kembang api telah berkembang sangat jauh di Jepang dengan variasi yang jauh lebih menarik. 





Pengrajin Kembang Api



Di Jepang menjadi seorang pembuat kembang api merupakan sebuah passion yang digarap dengan serius. Skill merakit dan berbagi ledakan kembang api ini diturunkan secara bebuyutan dan menjadi komoditi khas dari suatu daerah. Seorang pembuat kembang api biasanya sudah sibuk minimal semenjak enam bulan sebelum dilaksanakannya pameran kembang api Hanabi. 





Festival Kembang Api di Jepang



Kembang api ini menjadi icon summer pameran di Jepang setiap tahunnya. Belum summer di Jepang kalau belum lihat kembang api atau hanabi. Saat ini ada setidaknya 7000 program bertema kembang api setiap tahunnya di seluruh Jepang.




Hal menarik lainnya ketika akan menyaksikan kembang api ini adalah, orang Jepang renta muda, laki-laki wanita, beramai-ramai memakai pakaian khas yukata (bentuk non formal dari kimono). Ini menciptakan kita merasa benar-benar berada di Jepang, bahkan kalau memungkinkan kita juga sanggup memakai yukata menyerupai mereka. Sebuah pengalaman yang unik dan takkan terlupakan tentunya. 




Aku bersama PPI-Okayama melihat pameran kembang api ini di pecahan samping dari Asahi Kawa (sungai Asahi), sekitaran Kourakuen Garden. Inilah beberapa foto ketika orang-orang berkumpul untuk menikmati pesta kembang api tersebut:









Kembang Api Malam Hari




Saat malam hari merupakan ketika yang paling ditunggu-tunggu. Seperti gambar di atas, orang-orang telah siap dan duduk elok di tempat masing-masing. Kemudian muncullah ledakan pertama: 













Sorry banget cuma pake kamera HP XD

Pada moment ini, semua orang berusaha menikmati kembang api yang berlangsung selama sekitar 1.5 jam. Mereka menikmatinya tanpa merusak kenyamanan orang lain. Tidak ada yang bangun ketika melihat kembang api ini, semua duduk dengan nyaman di tempatnya masing-masing. Yang mengambil foto akan sibuk dengan fotonya masing-masing, tetapi mereka tetap tidak akan berdiri.





Orang-orang Jepang mempunyai budaya dimana “Merepotkan dan mengganggu orang lain ialah hal yang sangat buruk”, oleh lantaran itu mereka akan memastikan kalau apa yang dilakukan tidak merusak kesenangan orang lain. Ini merupakan budaya yang tertanam apapun yang terjadi, entah itu dalam kondisi sendiri, berdua, ataupun beramai-ramai menyerupai pada momen hanabi di Okayama ini. Setelah final acara, semua sampah telah berada di tempat sampah, lapangan luas telah bersih, and everybody happy!

Baca Juga: Kurashiki Kota Sejarah di Okayama Jepang






Yap.. Segitu dulu dongeng travelling Jepang kali ini.. Berikutnya saya akan dongeng perihal Pendakian ke Gunung Fuji, Mengikuti Summer Camp Bersama Anak-Anak dan Jalan-jalan di Hokkaido. 


Sumber https://mystupidtheory.com

√ Pendakian Gunung Fuji Jalur Yoshida (Kawaguchiko)

Yeah! Sebenarnya pendakian gunung fuji ini nggak pernah terlintas di pikiranku. Maksudku, saya suka jalan-jalan tapi bukan pendaki gunung dan terobsesi untuk menginjakkan kaki di dataran tertinggi. Aku lebih ke ikut-ikutan saja selama ada banyak udara segar. Maka siapa tahu kalian traveller sepertiku, sanggup menyimak pengalaman serta tips pendakian gunung fuji yang saya ceritakan di bawah ini:


Kalau bicara obsesi perihal gunung, saya lebih terobsesi untuk menikmati sunrise di gunung (manapun, pendek sekalipun gak papa) dan sunset di pantai dalam satu hari. Artinya saya mau mengikuti siklus gerak matahari selama sehari, hingga ia turun tertutup lautan. Tapi entah kapan sanggup saya lakukan. Eh.. Oke, balik lagi ke dongeng mendaki Fuji!



Rencana Pendakian Gunung Fuji


Oke. Berawal dari Mas Acing senior PPI-Okayama yang mengajak untuk mendaki Fuji-san, hasilnya saya ikutan saja, alasannya yakni memang ketika itu diajak ramai-ramai supaya biaya sanggup lebih irit. Ya kalian tau sendiri kalau udah dengar kata “irit”, murah”, “hemat” dan “gratis”, mahasiswa kasta sudra menyerupai saya ini niscaya eksklusif terhipnotis. Udah menyerupai serangga malam melihat cahaya, eksklusif menyambar. Aku eksklusif baiklah dan setuju untuk berangkat.

Akhirnya diskusi dilanjutkan di group Line. Karena saya belum pernah mendaki gunung sama sekali, saya benar-benar nggak tahu informasi penting apa yang harus saya punya. Untungnya ada Mas Acing dan Mappe yang punya pengalaman mendaki gunung ketika mahasiswa dulu, dari mereka semua informasi dibagikan di Line. Mas Acing yang sudah usang di Jepang memimpin tim dan menentukan Pendakian Gunung Fuji Jalur Yoshida yang melalui stasiun Kawaguchiko.



Banyak yang bilang kalau mendaki gunung fuji perlu latihan, persiapan fisik dan kesiapan mental. Aku kan enggak paham, jadi di pikiranku pokoknya kalau Mas Acing dan Mappe bergerak, saya tinggal ikutin. Gitu aja. Kemudian dari perlengkapan, saya pinjam aja ke teman-teman. Tas saya pinjam ke Mappe sedangkan senter kepala saya pinjam Puteri. Selebihnya sih barang-barang biasa untuk travelling.


Awalnya yang berencana gabung dalam tim Mendaki Gunung Fuji ada lima orang, tetapi pada hari H dua orang mengundurkan diri dan sisanya ialah Aku, Mas Acing dan Mappe. Tentu saja dari ketiganya saya yakni Si amatir dan merepotkan. XD


18 Kippu Okayama-Kawaguchiko


Pertama perjalanan dari Okayama menuju Kawaguchiko kami tempuh dengan memakai tiket kereta berjenis 18kippu (JyuHachiKippu). Kalau berada di Jepang kalian harus tahu perihal  Ultra Sudra Level Ticket ini, dengan tiket ini kita hanya sanggup mengakses kereta api JR biasa dan local train. Tapi sisi baiknya yakni harga tiket ini sekitar ¥12.000 untuk lima tiket yang sanggup dipakai dua orang atau lebih. Keren kan? Perjalanan dari Okayama menuju Kawaguchiko ditempuh dalam waktu sekitar 13 jam. Cukup melelahkan walaupun kenyataanya kami hanya tidur di kereta. Oh ya, dalam perjalanan ini Mas Acing membawa seluruh anggota keluarganya, jadi kami ditemani oleh dua orang bocah yang lucu, sangat mewarnai perjalanan ini.

Foto perjalanan di kereta:



 



 


Penginapan K’s House


Setelah itu kami berjalan ke penginapan K’s House yang telah dipesan oleh Mas Acing. Harganya tidak mengecewakan miring, hanya sekitar ¥3.300/malam. Penginapan ini jenisnya share-house. Makara bergotong-royong di pengingapan ini kita sanggup masak pakai peralatan dapur yang udah disiapkan, dengan begitu akan lebih irit, tapi lokasi penginapan jauh sekali dari toko sembakau, jadi  kami lebih menentukan makan di kombini (convinience store macam Alvamart). Beberapa foto di penginapan:












Hoax level 999


Danau Kawaguchi


Pagi hari kami tetapkan untuk jalan-jalan ke Danau Kawaguchi (河口湖). Rencana perjalanan kami ialah mendaki gunung Fuji pada sore hari, jam 5, jadi dari pagi hingga siang kami akan berjalan-jalan. Di Danau Kawaguchi ini Mas Acing membawa keluarganya jalan-jalan menikmati danau, sedangkan saya dan Mappe terobsesi memotret gambar bagus.


Ohh.. Ya, Mappe ini sudah usang berkecimpung dalam dunia fotografi,  bahkan sudah menang beberapa kontes foto, jadi sanggup dibilang fotografer handal. Makara saya beruntung banget, udah ada pendaki berpengalaman, dan fotografer handal, jatahku cuma berpose aja biar dapa foto bagus. Ini beberapa foto keren yang kami dapat:





Sponsored by Lawson


Setelah di sekitar danau selama satu jam lebih, kami tetapkan untuk istirahat menunggu jam 4 sore untuk persiapan pendakian gunung fuji jalur yoshida. Mas Acing sekeluarga kembali ke penginapan, sedangkan saya dan Mappe nggak sanggup lagi beristirahat di penginapan alasannya yakni hanya bayar penginapan untuk satu malam.  Jadi selanjutnya kami nongkrong (ngegembel) di depan Lawson (convinience store). Ini melengkapi status sebagai traveller level sudra. Beberapa kreativitas yang terekam kamera:












Sponspored by Lawson

Jam lima sore kami sudah siap di stasiun Kawaguchiko, menunggu bus untuk menuju ke garis start pendakian. Di sini kami bertemu dengan cewek Australia yang juga akan mendaki, ia bilang  gugup alasannya yakni ini akan jadi pendakian pertamanya.  Saat itu juga, Mas Acing tanya ke aku;


“Kamu pernah mendaki sebelumnya Fuzh?”

“Ini juga pendakian pertama saya Mas” Aku nggak menghitung pendakian di Bromo.

“Ada penyakit pernafasan Fuzh?”

“Nggak ada sih” Aku jawab dengan yakin nggak akan ada masalah.


Kemudian kami naik bus, kebetulan ketika itu saya sempat ngombrol panjang lebar dengan orang irlandia yang duduk di sebelahku. Kami ngombrolin perihal kehidupan di Irlandia yang cukup menarik. Aku bahkan nggak sadar kalau bus sudah hingga di lokasi.



Nah di start awal ini saya sangat was-was dan khawatir. Langit-nya mendung gelap soalnya, jadi ada kemungkinan hujan, atau mendung terus. Aku sih nggak ada problem kalau hujan, yang saya paling takutkan itu kalau sesudah hingga di puncak kemudian mendung dan kami tidak sanggup melihat sunrise. Soalnya itu pengalamanku dulu waktu mendaki Bromo.


Mulai Pendakian Gunung Fuji


Sebelum mendaki kami akan sholat Magrib jamak Isya’, ada yang lucu disini, sebelum kami tiba, kami melihat ada rombongan lain yang sholat, nah.. Rombongan ini kiblat-nya itu berlawanan dengan yang saya cek pakai kompas HP-ku. Kemudian sesudah mereka selesai sholat, gantian kami yang sholat, beberapa dari mereka sadar dan bilang “Wahh.. Iya.. kita tadi kok salah yah arah kiblatnya?”. “Yah.. Sudah terlanjur, Allah ngerti kok kalau kita nggak tahu” jawab temannya. Kebetulan itu dalam bahasa Indonesia. Aku pribadi nggak ngerti Fiqh perihal hal ini. Hanya saja ini masalah yang menarik untuk diceritakan. 🙂


Persiapan selanjutnya sebelum melangkah ke pendakian gunung fuji ialah membuka bekal masakan yang disiapkan Mbak Mila, istrinya Mas Acing. Bekal masakan isinya lemper! Karena Mas Acing dari Makassar maka disebutnya gogos! Gogos goes to Fuji! XD



Setelah perut penuh, stamina oke, ibadah komplit, Bismillah.. Kami lakukan pendakian. Jalur Yoshida ini rutenya menyerupai ini:



Jadi di awal pendakian, jalurnya sangat landai, hampir tidak terasa ada tanjakan. Tapi anehnya gres berjalan beberapa menit dari start awal ini, saya udah kecapean. Bahkan di start awal ini saya sudah merasa “Waduh.. Bisa nggak hingga puncak nihh kalau begini”, tapi menyerupai prinsip di awal, asalkan Mas Acing dan Mappe bergerak saya ikutin.


Tak berapa usang sesudah melewati stasiun ke-6, senter Mas Acing mulai meredup dan hampir padam, masalahnya senter yang ia bawa tidak ada batre cadangannya. Makara alasannya yakni senterku yang paling terang, maka saya ambil posisi di tengah, jadi semuanya sanggup mampu cahaya senter.











Stasiun ke 7 Gunung Fuji

Pada tanjakan ke-8 barulah terlihat perbedaan kecepatan menanjak, Mappe melaju duluan alasannya yakni tidak sanggup berjalan lambat, sedangkan saya berjalan santai mengikuti Mas Acing dan menyenterin jalannya. Jauh beda dari perkiraanku, ternyata gampang sekali melalui tanjakan di Gunung Fuji ini. Aku malah merasa lebih capek ketika medannya landai menyerupai sebelumnya.


Medan pendakian gunung fuji ini berupa pasir, jadi saya sendiri tetapkan kalau menginjak watu yakni solusi terbaik. Sepanjang pendakian saya selalu menginjak batu, resiko dari menginjak watu ini ialah bila ternyata batu-nya tidak cukup kokoh pada posisi-nya, kita sanggup terjatuh, tapi manfaatnya ialah pijakan kaki sanggup mantap jadinya kita sanggup lebih cepat jalannya. Trik lainnya ialah ketika menghadapi tanjakan yang sangat miring, saya eksklusif merayap ke atas, jadi memakai tangan dan kaki untuk naik. Sejauh yang saya lihat trik ini sangat sukses buatku, soalnya saya beberapa kali naik melewati beberapa rombongan. Bahkan saya sempat naik-turun alasannya yakni terpisah dari Mas Acing dan Mappe.


Banyak yang bilang kalau angin, angin puting-beliung dan hujan di puncak Gunung Fuji ini sangat mengerikan. Bahkan banyak yang gagal mencapai puncak gunung alasannya yakni memang sedang ada badai. Untungnya di stasiun ke-8 kekhawatiranku kalau bakalan mendung, angin puting-beliung ataupun hujan udah hilang. Langit di stasiun ke-8 sangat cerah. Bahkan saya sempat melihat beberapa bintang jatuh. Keren banget!


Baca Juga: Melihat Kembang Api di Jepang


Setelah hingga di puncak, saya eksklusif menuju ke toilet, dan antri di puncak ini sangat panjang. Sementara saya antri toilet, Mappe sudah keliling mencari posisi manis untuk memotret sunrise. Mas Acing beberapa menit kemudian berbaris juga dibelakangku untuk ke toilet.


Setelah dari toilet saya eksklusif menuju ke spot yang didapat Mappe, spotnya emang manis sih ada semacam gapura gitu. Keren lahh.. Masih ada sekitar satu setengah jam sebelum sunrise, saya tetapkan untuk tidur walaupun kondisinya sangat dingin. Aku tidur sekitar 45 menit, sesudah itu bangkit dan sholat shubuh berjamaah. Selesai sholat shubuh kami sudah siap untuk mengambil gambar terbaik sunrise di gunung Fuji.


Hanphoneku hanya berhasil mengambil dua gambar kemudian batrenya mati total. Temperatur yang sangat masbodoh menciptakan batre HP cepat sekali habis, ini sudah pernah terjadi sebelumnya ketika saya kemah di pegunungan tempat Malang. Makara saya eksklusif maklum. Ini foto yang berhasil saya ambil:













IG: @huda.tnt

Setelah tubuh terasa hangat, dan puas foto-foto, kami berdiam di atas, hanya sekedar menunggu satu orang bergerak untuk turun. Dan Mappe yang mulai bergerak turun, saya mengikuti disusul oleh Mas Acing. Ini beberapa foto di puncak yang diambil dari kamera Mappe:



 


Perjalanan turun dari Gunung Fuji ini yakni momen paling tidak menarik buatku. Perjalanan turun ini dibentuk rute zig-zag yang landai. Mungkin ini setting yang manis buat semua orang jadi sanggup dengan santai menyusuri rute turun. Tapi nggak tahu sepatuku yang nggak pas atau emang cara jalanku yang salah, kakiku sakit banget pas dibawa turun ini. Bagian jari telunjukku terkelupas kulitnya alasannya yakni tergesek permukaan sepatu. Karena udah sakit banget, hasilnya saya putuskan untuk turun lebih cepat, sehingga lekas menyudahi penderitaan ini.


Alhamdulillah.. Akhirnya pendakian gunung fuji jalur yoshida selama 13 jam selesai juga.. Thanks banget buat Mas Acing sekeluarga yang sudah mengajak saya gabung mendaki Gunung Fuji. Sebuah pengalaman luar biasa. Thanks Mappe foto-foto-nya, dan Thanks buat Lawson sudah menyediakan toilet dan tempat istirahat gratisan.


“Terkadang jalan yang begitu terjal dan mengerikan membuatmu tertantang dan bergerak lebih cepat, sedangkan jalanan yang landai dan nyaman membuatmu lelah dalam kebosanan”


Thanks sudah baca.. Silahkan share kalau ini menarik… Selanjutnya saya akan membuatkan pengalaman Summer Camp Bersama Anak-Anak Kecil di Jepang.


Picture by: @mappretz



Sumber https://mystupidtheory.com