Random post

Wednesday, January 18, 2017

Gratis Berbayar Para Mastah

Baruan saya melihat feed dari Mastah Rifan Muazin. Screenshot grup WA menampilkan kekecewaan orang-orang yang bergabung ke sebuah grup pengajaran dan berharap gratis, ternyata berbayar. Fenomena ini menarik dan umum. Internet telah mengubah sikap insan dalam memperlakukan dan memandang isu serta pengetahuan sebagai komoditas yang umumnya gratis. Ketika sikap pasar berubah, dibutuhkan cara gres dalam mengkomersialkan pengetahuan. Salah satu cara umum yang dipilih oleh para pakar di internet yang biasa disebut ‘Mastah’ yakni dengan model bisnis freemium.



 


Mastah mengatakan pengetahuan dasar secara gratis sebagai umpan, dan memperlihatkan susukan ke pengetahuan yang lebih dalam dan lengkap secara berbayar. Baik lewat e-Book, video, atau seminar. Namun, seringkali hasil atau konversinya tidak menyerupai yang diharapkan. Ketika pengetahuan gratis diberikan, ada 1.000 like dan 500 comment. Tapi yang membeli e-book hanya 2 (konversinya di bawah 1%). Mastah kemudian berpikir harganya terlalu mahal. Lalu beliau menurunkan harga 50%. Konversinya tidak naik signifikan. Dimana salahnya?


THE PENNY GAP


Freemium yakni model bisnis yang hebat pada periode digital dimana biaya marginal sanggup ditekan serendah-rendahnya. Tersedianya banyak komoditas gratis, terutama isu dan pengetahuan, memang telah mengubah sikap pasar. Namun juga peluang untuk medemonstrasikan value kita secara bebas dan cuma-cuma kepada sebanyak-banyaknya calon konsumen kemudian mengkonversikannya sebagai pembeli. Tapi, mengubah dari gratis menjadi berbayar itu bukan urusan simpel meski harga kita murah sekalipun. Karena psikologinya berbeda. Fenomena ini disebut The Penny Gap.


Kita sebagai penyedia produk sering berasumsi bahwa ada konsistensi pada elastisitas harga: makin murah maka makin banyak yang beli. Lalu kita lomba murah-murahan. Padahal konsistensi menyerupai itu tidak berlaku.






Baruan saya melihat feed dari Mastah Rifan Muazin Gratis Berbayar Para Mastah



 


Kenyataannya, pada perjuangan gres yang menjalankan model bisnis freemium, tantangan terberatnya bukan menaikkan pendapatan dari Rp 10 ribu menjadi Rp 1 miliar. Tapi dari Rp 0 menjadi Rp 10 ribu (angka-angka ini hanya contoh). Perubahan persepsi dari komoditas gratis menjadi komoditas komersial yakni lompatan besar di sisi calon konsumen. Pada grafik The Penny Gap, ada celah sangat besar pada sisi ajakan ketika gratis dan harga $ 0,01 atau 1 penny. Kita mungkin awalnya berasumsi jikalau demand ketika gratis yakni 1.000, maka ketika ditetapkan harga Rp 10 ribu, maka demand-nya 800-900. The Penny Gap menandakan perkiraan itu keliru. Konsumen menghadapi barrier/penghalang yang besar untuk berpindah dari gratis menjadi berbayar berapapun nilainya. Jauh lebih sulit meminta konsumen dari gratis membayar Rp 10 ribu, ketimbang meminta mereka yang sudah membayar Rp 10 ribu upgrade ke Rp 50 ribu.



 


Kenapa gap itu terjadi?


Pada bukunya berjudul Free: The Future of a Radical Price, Chris Anderson memaparkan eksperimen terhadap 2 cokelat. Eksperimen pertama: cokelat A gratis, cokelat B 1 sen. Mayoritas konsumen menentukan cokelat A yang gratis. Dilanjutkan ke eksperimen kedua: cokelat A 1 sen, cokelat B 18 sen. Mayoritas konsumen menentukan cokelat B yang 18 sen dibanding 1 sen.


Jadi, mengubah gratis ke berbayar (berapapun harganya), tidak sama dengan menaikkan harga. Ketika keduanya sama-sama punya harga, yang lebih mahal dipersepsikan lebih baik. Tapi ketika yang gratis diubah ke berbayar, kita meletakkan sesuatu yang gres kepada konsumen: risiko dan komitmen.


Jadi, perbandingan antara produk gratis dan berbayar bukanlah soal produk lebih murah dan lebih mahal. Tapi produk berisiko dan produk tanpa risiko.


Analogi sederhananya begini. Produk gratis itu menyerupai pacaran. Bisa dilakukan tanpa kesepakatan apapun dan besok putus. Produk berbayar itu menyerupai menikah. Konsekuensi dan kesannya tidak mudah. Mengubah status dari pacar menjadi istri/suami bukan urusan gampang.


Ketika dihadapkan pada pilihan untung dan rugi, secara alamiah insan akan memprioritaskan tidak rugi (risiko) dulu ketimbang untung. Produk gratis akan membebaskan konsumen dari risiko. Sementara, produk berbayar berapapun rendah nilainya, akan menciptakan konsumen terpapar risiko rugi. Rugi berarti kalah. Dan insan tidak suka kekalahan berapapun nilainya.


Bukankah kita sering mendengar seorang konsumen yang komplain, “Saya tidak duduk perkara dengan harganya, tapi saya tidak mau diperlakukan menyerupai ini!”. Itulah kekalahan. Dan kekalahan seringkali tidak terpaut eksklusif dengan nilai kerugian.


Freemium tetap menjadi model bisnis yang andal, termasuk untuk para mastah yang menjual jasa pengajarannya di internet. Namun dari goresan pena ini kita tahu bahwa mengubah dari free menjadi premium itu sangat tidak mudah. Lebih sulit dibanding menaikkan harga. Diperlukan metode tertentu untuk mengelola produk freemium yang sukses.


Dalam beberapa hari ke depan, saya akan menyebarkan perihal cara yang sempurna mengelola dan menjual produk freemium, serta mengubah pengguna informasi/pengetahuan gratis menjadi berbayar tanpa harus diomeli.(*)



Sumber aciknadzirah.blogspot.com