Random post

Sunday, January 22, 2017

√ Majas Penegasan (Bagian 1)

QBgRXhpZgAASUkqAAgAAAACADEBAgAHAAAAJgAAAGmHBAABAAAALgAAAAAAAABHb √ Majas Penegasan (Bagian 1)
1. Apofasis atau preterisio ialah gaya bahasa untuk menegaskan sesuatu dengan cara seakan-akan menyangkal hal yang ditegaskan.
Contoh:
a. Rasanya berat bibir ini untuk menyampaikan bahwa kucing kesayangannya sudah mati tadi siang alasannya ialah tertabrak mobil.
b. Reputasi Anda di hadapan para karyawan sangat baik. Namun, dengan adanya pemecatan karyawan tanpa alasan saya ingin menyampaikan bahwa Anda gres saja menghancurkan reputasi baik itu.

2. Repitisi ialah pengulangan kata, frasa, atau belahan kalimat yang dianggap pentik untuk menunjukkan penekanan.
Contoh:
a. Bukan uang, bukan mobil, bukan juga rumah glamor yang saya harapkan dari ayah dan ibu. Aku hanya ingin dan ibu ada di sini. Aku hanya ingin perhatian. Hanya itu, tidak lebih.

b. Segala, segala
Ani, ya Aniku, Ani,
mengapa kamas engkau tinggalkan?
Lengang sepi rasanya rumah
(Sutan Takdir Alisjahbana)

3. Aliterasi ialah pengulangan konsonan awal kata secara berurutan.
Contoh:
a. ....
Mengalir, menimbu, mendesak, mengepung,
memenuhi sukma, menawan tubuh
("Perasaan Seni", J.E. Tatengkeng)

b. Budi baik bagai bekal bagi kehidupan kita.

4. Pleonasme ialah satu pikiran atau gagasan  yang disampaikan secara berlebihan sehingg ada beberapa keterangan yang kurang dibutuhkan.
Contoh:
a. Kami mendengar kabar itu dengan pendengaran kami sendiri
b. Naiklah ke atas dengan hati-hati
c. Api yang panas telah meluluhlantakkan pasar tradisional itu.

5. Paralelisme ialah gaya bahasa yang menggunakan kata, frasa, atau kalusa yang kedudukan sama atau sejaar.
Contoh:
a. Baik golongan yang tinggi maupun golongan yang rendah harus diadili jikalau bersalah.
b. Segala kupinta tiada kuberi
    Segala tanya tiada kau sahuti.
    ("Nyanyi Sunyi", Amir Hamzah)

c. Mereka boleh memburu
    Mereka boleh membakar
    Mereka boleh menembak
    ("Afrika Selatan", Subagio Sastrowardo)

6. Tautologi ialah gaya bahasa berupa pengulangan kata dengan menggunkan sinonimnya.
Contoh:
a. Ia jadi murka dan murka kepada orang yang menyerempet motor kesayangannya.
b. Rapat direksi akan dibuka oleh pak Amri pukul 08.00 pagi.

7. Inversi ialah gaya bahasa mendahulukan predikat sebelum subjek dalam suatu kalimat.
Contoh:
a. Kubelai rambutya yang panjang.
b. Ada perbedaan sudut pandang antara beliau dan saya.
c. Terpaksa mengemis bocah itu di pinggiran jalan.

8. Elipsis ialah gaya bahasa yang menghilangkan beberapa unsur kalimat. Unsur-unsru yang menghilang tersebut gampang ditafsirkan oleh pembaca.
Contoh:
a. Andai saja kau mau mengikuti saranku, tentu ...
    Sudahlah semuanya sudah terjadi, tidak perlu dibicarakan lagi.
b. Aku sudah memberimu modal uang, barang, bahkan waktuku bersama keluarga, tetapi jadinya ....

9. Retoris ialah gaya bahasa untuk menanyakan sesuatu jawabannya telah terkandung dalam pernyataan tersebut.
Contoh:
a. Adakah orang yang ingin sakit selama hidupnya?
b. Siapa yang ingin hidup bahagia?
c. Dapatkah harimau terbang?
d. Mungkinkah orang yang sudah mati hidup kembali?

10. Klimaks ialah gaya bahasa untuk menuturkan satu gagasan atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana meningkat kepada gagasan atau hal yang lebih kompleks.
Contoh:
a. Aku menangis, meledak-ledak menyerupai mau memecahkan rongga dada.
    ("Ziarah Batu", M.N. Furaqon)
b. "Tahu enggak, Zak, sungguh, saya ingin mewarisi semangat urung hud-hud. Burung kecil yang
     terbangnya rendah, namun ia bisa melintasi gurun, menahan angin kencang, menebas
     rintangan, hingga ia bisa menempuh perjalanan yang demikian jauh, dari Yaman menuju
     negeri putri Saba' di Palestina"
     (Elang Hilang Sayap, Titaq  Muttaqwiati)


Sumber http://bukueyd.blogspot.com