Random post

Saturday, January 21, 2017

√ Majas Penegasan (Bagian 2)

wCEAAkGBxIQEhUTERMVFhUXGCAWFhgXFxYeHxsdGhgbIRseGBodHiggGx √ Majas Penegasan (bagian 2)
11. Antiklimaks ialah gaya bahasa untuk menentukkan satu hal atau gagasan yang penting atau kompleks menurun kepada hal atau gagasan yang sederhana.
Cpntoh:
a. Persiapan pemilihan umum telah dilaksanakan secara serentak di Ibu Kota Negara, ibu kota-ibu kota provinsi, kabupaten, kecamatan, dan semua desa di seluruh Indonesia, sampai di tingkat RW maupun RT.
b.  .... Hilang dirinya, hilang harga dirinya, tak bisa berbuat melawan hasrat. Selalu saja minta dipenuhi kebutuhannya akan asap dari surga.
("Battumi Anging Mamiri", Sakti Wibowo)

12. Antanaklasis ialah gaya bahasa yang memakai pengulangan kata yang sama, tetapi maknanya berlainan.
a. Ada dua buah rumah beling di halaman rumah Pak Saiman.
b. Pada tanggal 20 September 2008, gigi susu Aliya mulai tanggal. Saat itu, Aliya berusia empat tahun

13. Pararima ialah bentuk pengulangan konsonan awal dan simpulan dalam kata atau kepingan kata yang berlainan.
Contoh: bolak-balik, lika-liku, kocar-kacir.

14. Koreksio ialah gaya bahasa yang pada mulanya menegaskan sesuatu yang dianggap kurang tepat, kemudian diperbaiki. 
Contoh:
a. Kalau tidak salah, saya pernah memberikan hal ini dua hari yang lalu. Ah bukan, kemarin.

b. "Tujuan kami menghadap Pak lurah, ingin mengadakan program Parade Beduk, maksudnya meminta izin untuk mengadakan program Parade Beduh".

15. Sindeton ialah gaya bahasa untuk mengungkapkan suatu kalimat atau tentang yang setiap bagiannya dihubungkan oleh kata penghubung. Bila kata hubung yang dipakai dari satu atau banyak disebut polisindeton. Namun bila kata hubung tidak dinyatakan secara eksklusif atau dilepaskan, disebut asyndeton.
Contoh:
a. Polisindeton
Dan kinkin percaya Bapak tidak berbohong. Ibu juga tidak. Ia pun mendadak merasa menerima limpahan dari langit, anugrah. Sebab beliau buta, maka beliau tidak perlu menangis menyerupai Bapak alasannya ialah beliau buta, maka beliau bisa menentukan apa yang ingin dilihatnya, dengan mata imaji, untuk selalu hanya membiaskan hal-hal yang menyenangkan ....
("Pelangi Kinkin", Asma Nadia)

b. Asyndeton
Angin bertiup kencang menebarkan hawa hambar yang cukup menggigiti tulang sumsumnya. Ia menekuk lutut, (lalu) menautkan pada perut seraya terus duduk meringkuk di dalam becaknya, (dan) mencoba membuat kehangatan di tengah angin puting-beliung yang semakin menderas.
("Seorang Lelaki dan Selingkuh". Afifah Afra)

16. Eklamasio ialah gaya bahasa yang memakai kata seru.
Contoh:
a. "Wah, kenapa Bapak dan Ibu gak pernah mengajak melihat sawah, ya? Kalau begitu kau yang harus ajak aku, Giarti."
("Pelangin Kinkin", Asma Nadia)
b. Lha, kau ini bagaimana?
c. Wow, sungguh luar biasa! Ternyata kau bisa membuat lukisan sekelas Affandi.

17. Alonim ialah pengguanan varian nama untuk menegaskan.
Contoh:
a. "Kamu ruwet, Kin!"
    "Biar!"
    ("Pelangi Kinkin", Asma Nadia)
    Kin ialah varian dari Kinkin
b. "Bagaimana kalau sekali lagi Krakatau meletus, Prof?" saya memotong pembicaraan Prof. Siswoyo
("Matahari Tergadai", Sunarno)
Prof ialah varian dari professor.
c. Mae ialah carian dari Maemunah dalam sinetron "Munajat Cinta"
di RCTI, 2008

18. Interupsi ialah gaya bahasa yang menyisipkan keterangan suplemen di antara 
unsur-unsur kalimat.
Contoh:
a. Orang bilang, istri juragan haji, tetua di kampungnya yang sudah naik haji berulang-ulang, sombongnya minta ampun... .
b. Ia ingat Mang Karta yang sebatang kara, yang malam ini sibuk menjadi amil di masjid di daerah mereka berdua tinggal, mati-matian berusaha membunuh sepi.
("Bunga Fitri", El-Syifa)

19. Preterio ialah ungkapan penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang sebenarnya.
Contoh:
a. Lupakan semua ucapannya, anggap saja angin lalu.
b. Takperlu saya sebut orangnya, setiap orang di ruangan ini niscaya sudah tahu.

20. Silepsis ialah gaya bahasa dengan enggunakan dua konstruksi sintaksis yang dihubungkan oleh kata sambung. Namun, hanya salah satu konstruksi yang maknanya utuh.
Contoh:
a. Fungsi dan perilaku bahasa.
Seharusnya: Fungsi bahasa dan perilaku bahasa.
Fungsi bahasa maknanya 'Fungsi dari bahasa' perilaku bahasa maknanya 'sikap terhadap bahasa'.
(Diksi dan Gaya Bahasa, Gorys Keraf)
b. Ia sudah kehilangan topi dan semangatnya.
Seharusnya: Ia sudah kehilangan topi dan kehilangannya semangatnya. 
Kedua konstruksi kalimat tersebut memiliki makna gramatikal yang berbeda. Konstruksi yang satu bermakna denotasional dan yang lainnya bermakna kiasan.
(Diksi dan Gaya Bahasa, Gorys Keraf)


Sumber http://bukueyd.blogspot.com