Random post

Thursday, February 23, 2017

√ Fakta Ironi Lingkungan Di Kota Bandung



Kota Bandung sekarang sudah berubah menjadi menjadi  salah satu metropolitan  di Indonesia. Tentu banyak faktor yang menciptakan kota berjuluk Paris Van Java ini berubah wajah diusianya yang sudah mengijak 2 kala lebih, tepatnya berusia 208 tahun.

Kota yang dikenal sebagai daerah yang  sejuk nan asri siapa sangka akan menjadi sosok menyeramkan bagi para penghuninya. Faktanya kerusakan lingkungan terjadi di seluruh penjuru kota. Rata-rata warga kota  memprotes atas kerusakan lingkungan kepada para wakil rakyat.  Pertanyaannya, siapa yang merusak lingkungan? Siapa yang tidak peduli lingkungan? Siapa yang mencicipi akibatnya? Istilah yang cocok untuk menjawab pertanyaan  tersebut yakni dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat.
Perlu disadari oleh seluruh penghuni kota Bandung bahwa kesadaran menjaga lingkungan bukan sekadar motto tetapi harus dilaksanakan berdasarkan aturan, tidak sulit mematuhi hukum selagi kita ingin menjaga lingkungan tetap higienis dan tertib.

Salah satu referensi kerusakan lingkungan di kota berpenduduk 3 juta jiwa pada siang hari ini,  adalah sampah yang menumpuk pada sejumlah sudut kota, ironisnya sampah-sampah itu menggunung di samping daerah pembuangan sampah yang disediakan pemkot (Pemkot) Bandung yang kebanyakan justru tidak dipakai. Namun kurangnya kesadaran masyarakat sekitar menciptakan sampah tersebut tergeletak bukan pada tempatnya, padahal pemerintah kota telah menyediakan daerah sampah di sepanjang jalan raya namun dirusak begitu saja oleh tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab. Kaprikornus mereka membuang sampah di pinggir jalan dengan alasan tidak tersedianya daerah untuk membuang sampah padahal alasan tersebut sangat bertolak belakang dengan fakta yang ada. Sampah yang seharusnya dipisahkan sesuai penggolongannya (organik dan anorganik) malah digabungkan dalam satu kantong plastik dan dibiarkan begitu saja menunggu petugas kebersihan mengambilnya.

Contoh di daerah lain yakni sampah yang membusuk di daerah yang tergenang air, hal ini sanggup memicu populasi nyamuk sehingga menimbulkan penyakit. Namun belum banyak warga yang sadar akan hal ini.

Pemilihan dan pemilahan sampah organik dan anorganik memang perlu dijaga guna mengetahui penguraiannya. Masalah lain alasannya yakni sampah terjadi di lingkungan pendidikan, logikanya masih saja orang yang mengenyam pendidikan membuang sampah bukan pada tempatnya menyerupai di sudut kelas atau di bawah meja. Tentu ini bukan adat yang baik dalam pendidikan, namun faktanya memang menyerupai itu adanya.

Jika berpikir memakai logika, beberapa daerah di kota Bandung melaksanakan hal yang sama, bayangkan seluruh warga kota Bandung menciptakan sampah di pinggiran jalan atau di pinggiran sungai. Akan menyerupai apa wajah kota Bandung di masa yang akan datang? Cerminan ini memang sudah menjadi kebiasaan  turun temurun bagi warga masyarakat yang sangat sulit dilarang alasannya yakni sudah mendarah daging.

Ini menjadi pelajaran khususnya warga kota Bandung bahwa pentingnya untuk menjaga lingkungan dan kesadaran masyarakat mengenai kebersihan lingkungan harus segera diterapkan. Walaupun kegiatan peduli lingkungan sudah marak diterapkan namun masih saja ada orang yang cuek.

Ditinjau dari segi pendidikan, gerakan peduli lingkungan atau lebih dikenal dengan istilah Program Adiwiyata telah dilakukan di beberapa sekolah. Namun ada sesuatu yang menjadi ganjalan bagi kegiatan tersebut. Pertanyaan-pertanyaan logis muncul dari lisan para siswa yang bersekolah di salah satu sekolah yang menerapkan Program Adiwiyata, salah satunya yakni “Beberapa sekolah berlomba-lomba membersihkan lingkungan semoga lingkungan higienis atau mengejar gelar sebagai sekolah Adiwiyata tingkat kota Bandung?”

Di satu sisi kegiatan ini membangkitkan semangat peduli lingkungan tapi di sisi lain sanggup saja hanya ingin mendapat gelar. Coba saja jikalau tidak ada paksaa kegiatan ini, apakah warga sanggup dengan berdikari bergotong royong memberantas sampah itu? Mungkin belum tentu.
Yang menjadi persoalan utama kerusakan lingkungan bukan hanya alasannya yakni banyak pabrik berdiri atau lahan yang dijadikan perumahan, tapi kita mulai dari diri sendiri. Kesadaran peduli lingkungan warga Indonesia menjadi nomor sekian dari seluruh negara di dunia.
Kota Bandung sekarang sudah berubah menjadi menjadi  √ Fakta Ironi Lingkungan di Kota Bandung
Apakah insan diciptakan untuk merusak lingkungan? Dimana insan akan tinggal sesudah seluruh daerah rusak dan tidak layak untuk ditinggali? Lalu apakah sependek itu pikiran mereka yang membuang sampah ke sungai, di bawah pohon, di atas jembatan? Dan siapa yang akan bertanggung jawab? Sangat minim orang yang berpikir hingga ke sana.
Seharusnya warga terancam dengan semua itu, sanggup saja persediaan air higienis akan habis atau oksigen dari pepohonan akan berkurang.

Dalam peringatan hari jadi kota Bandung kemarin sangat ditekankan untuk berbudaya lingkungan alasannya yakni kita sanggup membandingkan bagaimana Bandung yang dulu dan ketika ini.
Warga kurang sanggup membaca kalimat dalam foto tersebut sehingga sampah tetap menggunung di tepi sungai maupun di aliran sungai.

Berkaitan dengan persoalan sungai, ini hanyalah salah satu sungai yang terkotori dari sekian banyak sungai di Bandung. Ditambah limbah dari banyak sekali pabrik dialirkan ke sungai yang muaranya sama. Sangat disayangkan anugrah dari Tuhan terbuang sia-sia jawaban pencemaran yang kita lakukan sendiri namun banyak ego masyarakat yang keukeuh tidak mau mengakui kesalahannya. Intinya, jikalau ingin lingkungan higienis kerjasamalah dalam kegiatan peduli lingkungan.


Sumber http://naditya-blog.blogspot.com