Random post

Wednesday, January 4, 2017

Inovasi Bukan Untuk Pengecut

Dunia ini diubah oleh para pemberani.


Berapa orang mati dan uang terbuang untuk membuat pesawat terbang yang aman?


Berapa banyak orang tersengat untuk membuat listrik yang kita kenal?


Berapa banyak orang yang bersedia terpapar penyakit ganas untuk menemukan sebuah obat?


Tiap penemuan mempunyai sisi gelapnya sendiri. Yang tak tampak oleh orang luar. Namun dijalani oleh pelakunya dengan mengambil risiko besar dan kesepian. Setiap inovator mesti meniti jalan pedang yang perih dan licin.


Saya percaya siapapun yang berinovasi tidak diniatkan untuk men-disrupt siapapun. Bukan dimulai dengan niat mengancam. Namun untuk memecahkan persoalan atau memenuhi sebuah kebutuhan secara lebih baik. Bahwa yang lebih baik akan menggantikan yang tidak lebih baik, itu keniscayaan.


Tapi sesuatu yang gres tak hanya harus berhadapan dengan incumbent yang telah berhasil mengambil begitu banyak keuntungan, terutama secara ekonomi. Namun juga mengguncang tatanan sosial dan nilai-nilai yang dianggap ‘normal’. Status quo tak hanya telah terbukti membuat keuntungan, namun kestabilan dan kepastian. Setiap orang suka mendengar kata ‘Inovasi’, namun akan bergeming mempertahankan status quo-nya masing-masing.






Berapa orang mati dan uang terbuang untuk membuat pesawat terbang yang kondusif Inovasi Bukan untuk Pengecut



 


Inovasi secara pasti akan masuk ke area abu-abu: wilayah tanpa regulasi. Ini minimal. Karena regulasi dibentuk oleh regulator menurut persitiwa yang sudah terjadi. Bukan sebaliknya. Regulasi dibentuk dengan proses dan hukum baku yang tidak mungkin bisa mengikuti kecepatan inovasi.


Mungkin ini bisa jadi contoh pertama: jikalau anda berinovasi di wilayah yang sudah teregulasi, mungkin anda tidak sedang berinovasi.


Gojek yakni contoh nyata. Ojek tak diatur dalam regulasi transportasi di Indonesia. Namun ketika ojek dikomersialkan secara institusional oleh Gojek, persoalan muncul. Orang-orang mulai mempertanyakan dan menggugat keabsahannya. Masalah tak hanya muncul dari sisi regulasi, tapi juga tatanan ekonomi dan sosial dari para penikmat status quo. Pertengkaran dengan ojek pangkalan hingga sopir angkutan umum.


Begitu pula dengan Gocar, Grabcar atau Uber. Mereka bahkan masuk ke area hitam. Karena angkutan komersial roda 4 itu high regulated. Di dalamnya ada pelaku perjuangan dan investor yang telah berinvestasi sangat besar untuk menguasai pasar. Jejaring lobi mereka ada dimana-mana: organisasi, pemerintah, parlemen, hingga komunitas.


Kalau kini kita menikmati setiap layanan Gojek dan Grab dengan leluasa, hal itu tidak dicapai dengan duduk manis. Tapi melalui pertempuran sangat keras di balik layar antara inovator dan incumbent. Pertempuran berbiaya sangat mahal, menguras waktu, tenaga, dan sumberdaya.



Seperti yang kita lihat pada video di atas. Seorang dokter yang melaksanakan operasi jarak jauh. Kita mungkin bertepuk tangan dan kagum. Tapi tidak dengan asosiasi medis atau dokter. Dunia kesehatan itu sangat high regulated alasannya yakni menyangkut nyawa manusia. Sebuah perusahaan farmasi untuk ujicoba obat ke insan pun luar biasa syaratnya. Apalagi operasi pakai robot, jarak jauh pula.


Mesin ciptaan yang jago hanya salah satu syarat dari penemuan yang berhasil. Syarat lain yakni keberanian (baca: kenekatan). Bukan hanya dari pelakunya, tapi juga orang-orang yang menyediakan diri menjadi penguji, dan setiap orang yang percaya pada penemuan tersebut serta bagaimana ia bisa membuat dampak.


Pada akhirnya, penemuan bukanlah untuk pengecut. Inovasi yakni milik orang para pemberani. Dan keberanian itu privilage.



Kita bisa berguru hampir segala hal ketika ini. Termasuk berguru membuat sesuatu yang baru. Dari buku, internet, sekolah, atau peer network. Kita mungkin bisa cukup tekun mengutak-atik sesuatu hingga ia menjadi penemuan yang luar biasa. Namun ketika penemuan itu dibawa masuk ke pasar, ia menuntut lebih banyak hal ketimbang hanya ketekunan, kecerdasan, dan uang. Anda akan butuh banyak bekal keberanian. Berani menghadapi derajat ketidakpastian yang tinggi dan serangan dari status quo. Pertarungan yang membutuhkan kesabaran dan stamina seorang pelari marathon. Serta budi supaya bisa menang sebelum kehabisan sumberdaya.


Keberanian. Kesabaran. Kecerdikan. Setiap hal yang tidak diajarkan oleh buku apapun. (*)




Sumber aciknadzirah.blogspot.com