“Nothing in life is perfect, but it’s pretty dam good right?” Mahfuzh tnt
Beberapa waktu kemudian saya bertemu dengan pendiri Kampung Inggris, tidak lain yaitu Mr Kalend Olsen. Ketika tiba dirumahnya, saya semakin tidak sabar menanti menyerupai apa sesungguhnya sosok legendaris itu.
Malam itu juga saya kesudahannya dapat bertemu dengan beliau. Mr Kalend yaitu seorang pemilik salah satu kursusan bahasa inggris terbesar di Pare, BEC, dia juga merupakan pengajar disana. Tetapi jikalau melihat pada daerah tinggalnya, Mr. Kalend hanya tinggal di rumah (kalau nggak boleh dibilang gubuk) reot dalam keadaan cukup saja.
Walaupun disekeliling rumahnya berdiri kemudahan pendidikan yang terbilang “wah” dan mewah, tetapi rumah dia dibiarkan dalam keadaan sangat sederhana.
Saat berbincang-bincang dengan beliau, saya jadi tau kalau dalam kehidupannya, Mr Kalend menempatkan uang dan kekayaan dalam posisi ke sekian. Beliau menghargai kehidupannya lebih dari sekedar uang dan harta. Hidupnya yaitu untuk berkarya.
“Kalau kita berkarya, biarkan orang lain juga menikmati karya kita Kalend Olsen”
Begitulah yang dikatakannya. Beliau berkarya membangun Kampung Inggris Pare, yang kemudian menunjukkan laba dan manfaat yang luar biasa bagi masyarakat sekitar. Itulah karya seorang Mr Kalend, karya yang telah dinikmati banyak orang.
Aku sangat menyukai caranya menghargai kehidupan. Dengan mulai menghargai kehidupan kita akan mulai berkarya, menunjukkan manfaat kepada orang lain.
Ketika usia kita muda, kita merasa kalau hidup kita masih lama, usia kita masih panjang dan perjalanan kita masih jauh. Namun sadarilah bahwa waktu tidak akan terasa, sampai tiba-tiba kita akan menjadi tua, renta dan tak berdaya. Saat itu datanglah pertanyaan “apa yang sudah kau lakukan dalam hidupmu?”
Mungkin alasannya merasa masih muda, makanya saya mulai menulis. Inilah caraku menghargai kehidupanku, dengan menyebarkan di blog mini ini.
Aku sadar kalau perjalananku masih panjang, tujuanku masih jauh dan saya perlu banyak berguru untuk mencapai tujuanku. Dengan menulis blog ini saya akan coba untuk menyebarkan denganmu wacana pelajaran hidupku.
Semoga saja blog ini menunjukkan manfaat ke kalian. Itu sebagai cara untuk saya menghargai hidup.
Yupz… Berjumpa lagi dengan penulis yang sudah kalian tunggu-tunggu postingannya.. :P. Kali ini goresan pena ringan saja dulu, aslinya saya mau nulis sains kimia, tapi kok rasanya kurang nyaman aja, lantaran ahad ini berbagai materi kuliah kimia yang saya sendiri belum ngerti. Rasanya kurang pas aja jikalau ngasih materi ilmu kimia, padahal materi yang seharusnya ku kuasai untuk kuliah, malah kutinggalkan belum kubaca-baca.
So kali ini sharing aja, sebagai materi pemikiran, atau materi perdebatan juga boleh. Tapi jangan debat dengan aku, saya orangnya malas berdebat. Kalau dibayar mungkin sanggup dipertimbangkan.
Jadi beberapa waktu kemudian saya menciptakan analisis amatir mengenai sungai segah yang mengalami fenomena lingkungan. Analisis yang saya lakukan hanyalah sebatas studi literatur, saya nggak melaksanakan kerja lapangan, bahkan nggak lihat gimana kondisi airnya. Analisis sok tahu ini sengaja kutuliskan sebagai sarana mengangkat atau menarik perhatian orang-orang semoga peduli pada warta ini.
Saat menulis, kuputuskan untuk menyampaikan “Analisis Amatir” pada penggalan judulnya, itu lantaran memang saya tidak melihat bagaimana kondisi sungai yang “tercemar” itu. Dan ibarat dugaan, analisisku meleset, salah total.
Kesalahan yang saya lakukan, sesungguhnya dari awal sudah kuprediksi. Hanya saja saya kekurangan bukti otentik (baik itu foto ataupun data lab) untuk menyimpulkan. Saat mendengar Sungai Segah terkotori limbah dan airnya berwarna hijau, saya eksklusif terpikirkan dua opsi. Opsi pertama ialah pembuangan limbah cat yang mengandung logam kompleks berwarna hijau ibarat yang pernah terjadi di sungai kawasan bontang (yang ditumpahi cat merah), dan yang kedua ialah adanya Cyanobacteria (hasil browsing).
Dari sekian keterangan dari keluarga dan teman-temanku dilengkapi dengan data dari internet dan jurnal-jurnal asing. Aku menciptakan analisa yang mengarah pada tercemarnya sungai disebabkan oleh limbah logam tembaga.
Tetapi terakhir saya mendapat kabar jikalau kondisi sungainya berlendir, artinya limbah tersebut ialah limbah organik. Perkembangan warna hijau dari limbah juga secara cepat menawarkan bahwa ini yaitu kerjaan kuman Cyanobacteria (yang terjadi secara eksponensial). Makara analisisku salah.
Sebenarnya saya sangat maklum jikalau akan ada yang menjawab bahwa ini analisisku salah dan ini yaitu kerjaan Cyanobacteria. Pun saya akan menanyakan beberapa hal terkait alasannya. Artinya, ini akan menjadi diskusi yang menarik.
Setelah sharing ke group Mahasiswa Berau, saya bukannya sanggup bantahan, atau kritikan yang mengarah pada tulisanku, tetapi malah sanggup hinaan yang sangat pedas.
Bayangkan, saya membaca beberapa jurnal Bahasa Inggris untuk menguatkan argumenku, bertanya-tanya ke keluarga, sahabat dan mencari info di internet untuk menciptakan sebuah kerangka analisis, kemudian dikatain “Orang ndak pernah sekolah aja sanggup jikalau cuma ngomong begini tanpa hasil” ?_?
Diskusi yang saling menyerang berlanjut ketika itu. Memang banyak yang lebih mendukung, walaupun satu orang ini tetap berfikir jikalau “Ada orang yang menulis analisa asal tuduh dan menciptakan masyarakat cemas”
Kenyataanya kalian sanggup baca sendiri bahwasannya tulisanku ihwal “Tercemarnya Sungai Segah” itu tidak mengandung tuduhan, saya tetap mengakhirinya tanpa kesimpulan lantaran memang hanya mengemukakan pendapat. Setuju atau tidak dengan pendapatku ialah kasus pribadi masing-masing sambil menunggu perkembangannya dari peneliti.
Dan hingga simpulan diskusi, sahabat yang menghinaku itu nggak memunculkan satu analisispun yang menentang tulisanku. Maksudku gini lho, jikalau kau rasa saya ngawur, silahkan ditanyakan, ditolak, disanggah penggalan yang terlihat ngawur, bahkan jikalau kau cukup berpendidikan, buatlah goresan pena yang lebih cantik dari punyaku.
Kalau hingga simpulan diskusi tidak ada goresan pena yang sanggup saya baca untuk melihat sudut pandang yang lain, maka jangan salahkan jikalau tuduhanmu malah lebih menyakitkan untukmu sendiri.
Bahwa “Orang ndak pernah sekolah aja sanggup jikalau cuma ngomong begini tanpa hasil”
Kalau tulisanku itu orang nggak sekolah aja sanggup membuatnya, maka kenyataan bahwa kau nggak sanggup menuliskan analisamu cuma mengambarkan jikalau kau lebih payah dari orang nggak sekolah. 😀
Memang benar yang dikatakan Carl Jung.
Berfikir itu sulit, itulah kenapa orang lebih suka menghakimi.
Semoga Manfaat.
Kalau kalian ada request goresan pena ilmiah eksklusif sampaikan di comment aja yap, nanti jikalau sanggup saya coba tuliskan. 🙂
Ada hal yang sangat menarik untuk dipelajari dari kekurangan orang Jepang dalam Berbahasa Inggris. Oke, saya ceritakan dulu kenapa kuanggap orang Jepang kurang bisa berbahasa Inggris, ini mungkin kesimpulan yang asal dan terlalu sempit, tapi biarkan saya bercerita dulu.
Kuliah Theoretical Chemistry di Jepang
Di beberapa kelas theoretical chemistry yang saya ambil, memakai buku wajib yang berbahasa Inggris, beberapa dosen juga memakai presentasi berbahasa Inggris. Terus apa yang kami lakukan dalam kelas?
Ini yang tidak akan kalian sangka, Yap.. Menerjemahkan bahasa inggris itu dalam bahasa Jepang (Kecuali aku, lantaran nggak bisa). Kalian terbayang kan?
Kuliah S2 Theoretical Chemistry dan kami cuma menerjemahkan buku Berbahasa Inggris di kelas, dan yang lebih mengherankan yakni semua anak membawa translator (semacam alfalink) untuk menerjemahkan buku tersebut.
Dari situ saya menyimpulkan bahwa bahasa inggris tidak terlalu diperhatikan di Jepang, berbagai mahasiswa S2 yang bahasa inggrisnya masih nol besar. Tetapi yang lebih mengherankan ialah, walaupun mereka tidak mengerti bahasa inggris, mereka benar-benar paham konsep-konsep sains dan matematika dalam kuliah tersebut.
Jadi gini, menurutku pribadi, Bahasa inggris yakni mutlak diperlukan oleh mahasiswa sains, terutama untuk yang S2. Karena memang sains itu berbicara mengenai alam dan penemuan teknologi yang terkini, semua trend (bahkan yang terlama) itu ada dalam bahasa inggris. Nature, ACS, RSC, JPC atau jurnal-jurnal saintis lainnya, mustahil kau baca kalau kau nggak ngerti bahasa inggris.
Ini pertanyaannya, kembali lagi, kenapa orang Jepang bisa mengerti sains yang terbaru padahal mereka tidak terlalu menguasai Bahasa Inggris? Jawabannya yakni terjemahan. Beberapa kali saya ke toko buku, perpustakaan dan melihat buku-buku terjemahan.
Jepang merupakan negara penghabis kertas nomor satu di dunia, alasannya sudah terang kan? Karena goresan pena mereka besar-besar.. (hehe.. just kidding). Karena mereka memproduksi berbagai buku. Banyak sekali buku sains yang diterjemahkan disini, itulah sebabnya mereka tidak pernah punya problem dalam mengakses informasi-informasi sains terkini.
Penerjemahan Manuskrip pada Masa Khalifah Islam
Berbicara wacana penerjemahan buku, pada masa kejayaan islam pemimpin-pemimpin negara mempunyai perhatian khusus dan mendalam mengenai buku-buku sains. Salah satu penerjemah yang paling masyhur dan mempunyai donasi yang luar biasa pada sains sampai dikala ini yakni Al Kindi.
Al Kindi bersama dengan Al Khawarizmi merupakan penerjemah resmi yang ditunjuk pribadi oleh Al Ma’mun, Khalifah pada dikala itu untuk menerjemahkan buku-buku dan dokumen sains yang telah dicapai oleh peradaban Yunani.
Salah satu karya Al-Biruni
Bahkan dikala itu dibangunkan sebuah House Of Wisdom, semacam perpustakaan dimana karya-karya sains dari Yunani diterjemahkan dan dikaji oleh para cendikiawan muslim. Di kawasan itu pula berkembangnya ilmu astronomi berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan oleh bangsa Yunani.
Indonesia Harus Mulai Memperhatikan Penerjemahan Buku-buku Sains
Di Jepang, para Professor menerjemahkan buku-buku berdasarkan bidang yang mereka masing-masing. Ada berbagai buku spesifik wacana sains yang diterjemahkan. Kalau dibilang apakah menerjemahkan buku ini akan menguntungkan atau tidak, saya juga nggak tahu. Tapi untuk sebuah negara, menerjemahkan buku-buku sains yang penting pastilah menguntungkan.
Contoh kasusnya mungkin ibarat ini. Kalau berfikir dari sisi ekonomi secara langsung, maka ini akan merugikan. Gini deh.. Contohnya menerjemahkan buku Physical Chemistry by Mc Quarrie, Bayangkan saja, siapa yang akan membacanya di Indonesia ? Berapa orang? 500? 1000? 3000? Padahal untuk menerjemahkannya mungkin butuh waktu satu sampai dua tahun.
Jadi untuk peminat buku yang sangat sedikit itu, biaya produksi buku tidak akan kembali dari pembelian. Ini mutlak, lantaran itulah penerbit-penerbit buku yang biasa tidak akan mau menerbitkan buku terjemahan macam itu.
Tetapi kalau kita lihat dari sisi negara, harusnya negara menyiapkan anggaran untuk penerjemahan dan penerbitan buku-buku penting semacam ini. Karena ketika ada satu atau dua orang pelajar yang tertarik untuk mempelajari buku Physical Chemistry, kemudian terkendala lantaran tidak adanya buku terjemahannya, negara mengalami kerugian yang sangat besar, lantaran pertama peminat sains ibarat ini sangatlah sedikit, dan mereka akan berhenti berguru sains lantaran tidak menemukan sumber bacaan. Makara sudah peminatnya dikit, fasilitasnya susah diakses lagi, semakin berkurang dan habislah peminatnya. Makanya nggak heran kalau kita kurang maju dalam sains dan teknologi.
Jadi salah satu cara untuk menyelamatkan kaum-kaum pemikir ini yakni dengan memperlihatkan resource yang cukup. Ini bukan berarti para kaum intelek Indonesia jadi nggak perlu pinter Bahasa Inggris, itu hal lain lagi. Tetapi kalau ingin meningkatkan jumlah pemikir dan ilmuwan di Indonesia, maka menerjemahkan buku-buku sains penting merupakan langkah awal yang harus diambil.
Persis ibarat halnya di Jepang ini, Buku-buku sains penting diterjemahkan dalam bahasa Jepang, bahkan beberapa jurnal dan laporan penelitian telah ada dalam versi Bahasa Jepangnya. Itulah kenapa para pelajar disini tidak pernah mengalami kekurangan resource bacaan.
Contoh kecilnya kalau ingin dibandingkan yakni buku wacana Fortran Programming. Saat diIndonesia dulu, satu-satunya buku yang bisa kubaca wacana Fortran Programming yakni berasal dari catatan Kulian Dosen ITB(Cuma PDF). Itupun menurutku sangat kurang dan sebatas perkenalan saja. Sedangkan disini berbagai buku yang membahas wacana FORTRAN PROGRAMMING, teman-teman di Lab.ku banyak memakai buku-buku tersebut.
Yang ingin saya tekankan dalam goresan pena ini ialah perhatian pemerintah ataupun institusi mengenai penerjemahan buku-buku sains yang penting. Mungkin sudah saatnya Universitas-universitas di Indonesia mulai mengadakan penerjemahan buku-buku sains yang penting.
Karena memang jikalau berharap kepada penerbit-penerbit buku ibarat Gramedia, dan buku lainnya ini tentu saja tidak menguntungkan secara ekonomi.
Universitas bisa saja mengumpulkan para ahlinya dan memperlihatkan proyek khusus berupa penerjemahan buku-buku sains yang dianggap sangat penting dan berpengaruh. Dengan begitu, mahasiswa bisa dengan gampang mendapat isu dan pengetahuan terbaru dari buku tersebut.
Meningkatnya jumlah bacaan yang berkualitas dikalangan akademisi (terutama Mahasiswa) akan meningkatkan kualitas pendidikan kita.
Untuk dikala ini, dunia literasi sains di Indonesia masih sangat miskin resource. Bacaan sains untuk anak, yang paling dikenal hanyalah majalah Quark, selain persebarannya belum merata di seluruh Indonesia, bacaan ini juga masih terbatas pada usia SD.
Lalu ketika Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengan Atas apa yang bisa mereka baca? Mungkin memang mereka bisa membaca Ensiklopedi sains, tetapi rata-rata ensiklopedia sains harganya mahal atau sangat mahal, sehingga tidak banyak yang bisa mengakses isu tersebut.
Harapanku semoga Indonesia bisa memalsukan Jepang dan Generasi Islam masa lampau yang begitu memperhatikan dunia literasi dan sains dengan sangat mendalam. Sehingga kedepannya akan banyak dilahirkan para cendikiawan-cendikiawan hebat dari Indoensia.
Aku bakalan bahas lagi wacana usaha Einstein nanti, tapi kali ini saya mau tulis wacana bahan yang ringan dan mudah-mudahan menarik. Iya, wacana insiden yang masih hangat, yaitu serangan t3r0ris di jalan Thamrin. Kaprikornus saya tertarik menulis wacana ini alasannya yakni sebelumnya saya buat diskusi kecil di kelas Bahasa Inggris disini. Sebenarnya kelas Bahasa Inggris ini judulnya “Academic English For Natural Sciences” tapi itu cuma judul, nyatanya kelasnya santai banget, sanggup ngobrolin apa aja, semuanya bebas asalkan pakai Bahasa Inggris.
Jadi ahad ini saya memimpin diskusi, diskusi yang saya olok-olokan ini wacana betapa mudahnya otak kita tertipu. Tetapi alasannya yakni adanya insiden bom di Jakarta yang ‘unik’ itu, saya kesannya kumpulkan foto-foto menarik yang akan saya tampilkan di kelas. Kupikir sensei akan oke-oke aja dengan hal itu.
Ketika awal memimpin diskusi, saya pribadi mengatakan foto-foto unik bin asing ini Berikut komentarku:
So in the night of Friday 13 January there is a t3r0rist attact in Paris. Kemudian sebulan sesudah itu, pada 14 Januari pagi terjadi serangan t3r0ris di Jakarta. Dan apa yang terjadi saat t3r0ris menyerang Indonesia?
Terorist attact
Orang orang berkendara dengan santai, bahkan seseorang berjalan dengan santainya.
Terorist attack 2
Masyarakat berdatangan ke lokasi insiden untuk melihat apa yang terjadi. Mereka menonton seorang t3r0ris yang menenteng senjata, mengacungkan senjata.
Terorist attack 3
Polisi lebih sibuk mengamankan masyarakatnya daripada menyergap t3r0ris ini. Dan 100 meter dari lokasi peledakan kau akan lihat ini:
Terorist attack 4
Ini yakni 100 meter dari lokasi ledakan, dan sanggup kalian lihat, penjual ini tetap melayani pembelinya yang ramai dan padat. Selain orang ini, transaksi jual beli di sekitar lokasi insiden juga banyak, kalian sanggup lihat ini:
Terorist attack 5
Setelah presentasi singkat ini, senseiku ketawa-ketawa. Dia orangnya asik, Orang amerika, sudah berpetualang ke banyak negara, jadinya ia pribadi tahu jika ini yakni budaya. Sedangkan semua sobat sekelasku merasa heran, bahkan ada yang menatap ngeri.
Pertanyaanpun muncul:
Ask: Kenapa mereka tidak lari?
Ans: Kalau yang penjual itu, alasannya yakni ia punya banyak sekali pembeli. Kalau orang lainnya itu alasannya yakni mereka ingin tau dengan apa yang terjadi.
Ask: Crazy! Apa mereka nggak takut?
Ans: Emm… Mungkin takut, tetapi secara statistik, banyak orang yang datang, berarti akan aman-aman saja berdasarkan mereka.
Setelah itu saya jelaskan jika agresi t3r0risme ini bukanlah aliran agama Islam. Di dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa membunuh satu orang saja itu sama dosanya dengan membunuh seluruh insan di bumi, menyelamatkan satu orang itu mempunyai keagungan yang sama dengan menyelamatkan orang di seluruh dunia.
Setelah diskusi foto dadakan ini selesai, saya jadi kepikiran pertanyaan-pertanyaan mereka yang sudah kujawab. Berarti kesimpulannya, rasa ingin tau orang Indonesia itu mengalahkan ketakutan mereka pada kematian.
OMG! Ini keren banget. Ini yakni bukti paling konkret jika orang Indonesia itu rasa ingin tahunya sangat tinggi. Kaprikornus ada t3r0rist nihh, kita merasa nggak percaya, penasaran, dan nggak hening jika nggak lihat langsung. Akhirnya tetap saja mendekat, walaupun ini t3r0rist attack! Belum lagi fakta bahwa puluhan, atau mungkin ratusan orang pribadi menganalisa apa yang sebetulnya terjadi, baik itu skala lokal, interlokal maupun yang t3r0risme global! Hebat! Sangat hebat!
Kalau melihat sejarah sains, ada beberapa penemu yang harus mengorbankan nyawa demi mengungkap diam-diam alam (sains). Karena rasa penasarannya yang tinggi seorang Carl Scheele keracunan logam-logam berat dan gas berbahaya dari laboraturiumnya, walaupun tidak menerima Nobel Prize alasannya yakni publikasinya selalu terlambat, Carl Scheele punya nama besar dalam dunia sains. Karena keingintahuannya wacana radiokimia Madam Marie Curie mencoba banyak sekali cara untuk mengisolasi banyak sekali zat radioaktif, sebagai dampaknya rumah madam Curie menjadi rumah paling Radioaktif di dunia, dan mempunyai satu-satunya buku resep kuliner yang lebih radioaktif dibandingkan alat elektronik apapun dimasa sekarang. Madam Curie menerima sanjungan tertinggi sebagai saintis perempuan pertama yang meraih Nobel Prize dan banyak prestasi lainnya yang membanggakan.
Jadi jika melihat perilaku orang-orang yang nggak takut mati untuk mengetahui sesuatu menyerupai dua orang diatas, tentunya masyarakat Indonesia punya kualitas yang sama. Hanya saja menurutku masyarakat kita belum benar-benar diarahkan pada pengetahuan-pengetahuan yang penting.
Mengetahui pekerjaan, gaji, calon istri dan selingkuhan tetangga itu yakni isu yang nggak penting, tetapi masyarakat kita suka sekali mencari tahu hal-hal macam itu. Sedangkan hal yang keren, penting dan mencerdaskan menyerupai mengetahui bagaimna cara handphone bekerja? Bagaimana ilmuwan memilih massa atom?Bagaimana cara sabun bekerja?Bagaimana cara menghitung diameter bumi? Ini yakni sains dasar yang penting untuk melatih kecerdikan berfikir.
Hal-hal itulah yang perlu kita pelajari. Rasa ingin tau kita yang tinggi sangat layak diarahkan untuk memikirkan bagaimana alam bekerja, aturan apa yang berlaku. Mungkin ini akan menguras pikiran, tenaga dan waktu, tetapi jangan menyerah, mempertaruhkan nyawa untuk mengetahui insiden pengeboman saja mau, masa cuma menguras waktu, tenaga dan pikiran untuk pengetahuan yang benar-benar bermanfaat kita nggak mau?
Yap sudah malam, saya mau balik lagi ke apato, biar saja goresan pena ini bermanfaat. Setidaknya menciptakan kalian berfikir. Thank You.. Wassalam.
Impossible is just attitude, not fact on the ground! Mahfuzh tnt
Kau Bahkan Bisa Melukis Berkanvas Langit
Mustahil
Sekitar tiga ahad yang kemudian kuliah terakhir untuk mata kuliah Statistical Mechanics selesai, dan kiprah final yang harus kami kumpulkan ialah menciptakan grafik hubungan antara ekses potensial kimia dengan perubahan jarak antara atom. Ini yaitu materi kuliah terakhir kami, dimana harus menghitung ekses potensial kimia yang diperoleh ketika suatu pelarut ditambahin zat terlarut.
Baiklah, ini sangat kimia, dan sangat teoritis. Kita tidak akan panjang lebar membahasnya. Tetapi point pentingnya ialah saya harus menciptakan jadwal simulasi molekular memakai metode monte carlo untuk mendapat sebuah grafik.
Dari awal kiprah ini diberikan, sanggup dikatakan 90% saya nggak paham bagaimana cara melakukannya. Tetapi bab dimana harus memakai metode simulasi monte carlo itu pernah saya lakukan. Kaprikornus saya cukup familiar dengan bentuk programmingnya, itu yaitu 10% yang saya ngerti.
Setelah seminggu, saya tidak sanggup mengerjakan kiprah itu, bahkan saya tidak mencobanya alasannya citra besar ihwal jadwal ini tidak kuketahui sama sekali, ini project yang mustahil. Akhirnya saya mengajak temanku yang sama-sama mendapat kiprah untuk bertanya ke Professor ihwal tugasnya. Setelah menghadap ke Professor, bukannya paham, saya semakin merasa jikalau 10% yang saya tahu itu hilang begitu saja. Aku nggak paham sama sekali ihwal materi ini! Ini nggak mungkin kuselesaikan. Tetapi dikala itu, temanku bilang “Santai Huda-san (Aku), jadwal yang saya buat sudah sesuai dengan yang diinginkan professor, kau nanti sanggup pakai jadwal saya saja”. Alhasil, aku nyontek dehh.
Setelah deadline tiba, kesannya saya memakai jadwal temanku itu. Tapi bergotong-royong secara garis besar saya hanyalah mencontek. Aku sendiri nggak ngerti bagaimana cara programnya bekerja. Setelah melihat hasilnya, kurasa masih ada beberapa yang kurang pas.
Completely Wrong!
Karena deadline, kesannya saya kumpulkan, dan ternyata benar yang saya khawatirkan. Programnya salah total (Professor bilang “Completely Wrong!”). Sebenarnya saya sudah mengira akan menyerupai ini ketika melihat grafik yang dihasilkan sangat aneh. Tapi kupikir, ahh yudahlah… yang penting selesai, lagian dari beberapa tugas, salah satu kan nggak terlalu masalah. Ternyata salah satu ini dilema besar!
Professor mengembalikan tugasku, dan menyampaikan “Akan saya berikan embel-embel waktu, kau sanggup mengumpulkan ke saya hari Senin (4 hari lagi). Apa yang tidak kau mengerti dari kiprah ini?” mendengar pertanyaan professor, saya eksklusif diam. Mampuss dehh…. Gua nggak begitu ngerti nih jadwal ngapain aja. Ini sih bukannya memperbaiki, bisa-bisa saya buat jadwal baru. Tapi saya coba berfikir keras ke dasar teori yang saya ngertiin dan mulai bertanya. Professor dengan tidak sabar terpaksa harus menjelaskan ulang semuanya.
It’s All Make a Sense Now!
Setelah mendapat kesempatan lagi untuk “memperbaiki programku”, sengaja kutulis dalam tanda kutip alasannya memperbaiki jadwal itu terang tidak mungkin alasannya itu jadwal orang lain yang sama sekali tidak kupahami. Kembali ke ruangan kerja, saya ambil kapur dan mulai mencoret-coret bagan kerja jadwal yang dibutuhkan. Hasilnya, citra besar bagaimana jadwal bekerja sudah ada dikepalaku. Oh my… It’s all make a sense now!
Mulailah saya mengetik programnya (coding) kemudian membagi beberapa langkah dan menuntaskan tiap langkah yang dibutuhkan satu persatu. Aku memulainya dari yang paling sanggup saya lakukan, yaitu kebijaksanaan jadwal Monte Carlo kemudian diikuti dengan langkah-langkah lainnya.
Alhasil kesannya saya menuntaskan programnya dalam 3 hari, walaupun dengan lembur dan pulang jam 3 berturut-turut. Program yang saya buat bekerja dengan sangat cepat, saya sebelumnya sudah tanya ke teman-teman yang lain yang menuntaskan jadwal dengan benar. Program yang mereka buat memerlukan waktu 4 jam untuk melaksanakan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh programku dalam 15 menit. Artinya programku berjalan dengan baik dan lebih efektif.
Sekarang Semuanya Mungkin!
So.. Sebenarnya dalam banyak kesempatan, seringkali kita berfikir “Mustahil jikalau saya sanggup mengerjakannya.. Aku nggak ngerti sama sekali bagaimana memulainya” padahal justeru dikala itu kita harus berfikir “Sepertinya ini mungkin kulakukan, saya kan pernah sanggup menciptakan ini, itu, blah..blah..blah..”
Ketika jadwal berhasil kuselesaikan, dan kukumpulkan kiprah ke Professor, ia bertanya “Apakah kau mencar ilmu sesuatu dari kiprah ini?” Aku jawab “A lot (banyak)”. Banyak sekali pelajaran berharga dari kiprah ini, tentu saja Professor mengira jikalau kata “banyak” itu mengenai ilmu kimia teoritis yang saya dapatkan, tetapi bergotong-royong lebih dari itu, saya mencar ilmu ihwal kehidupan.
Bahwasannya ketika kita mendapat kiprah apapun, yang perlu kita ketahui bukanlah apa kita sanggup melakukannya atau tidak bisa, tetapi kapan kiprah itu harus diselesaikan dan bagaimana caranya? Dengan dua pertanyaan itu kita sanggup melaksanakan apapun.
Satu-satunya cara untuk tidak pernah melaksanakan kesalahan ialah dengan tidak mencoba sama sekali Mahfuzh tnt
Beberapa hari yang kemudian saya mendengarkan sebuah video talk show sains. Salah satu pembicara yang muncul ialah Richard Dawkins, spesialis biologi yang telah menulis beberapa buku ilmiah, dan ilmiah populer.
Kisah Burung Cuckoo
Dalam show ini Richard Dawkins menceritakan tentang bagaimana uniknya salah satu fenomena alam dalam dunia biologi, yaitu mengenai burung Cuckoo. Burung Cuckoo merupakan burung yang sangat unik, alasannya yakni burung ini tidak pernah mempunyai sarang semenjak ia dilahirkan, atau dalam istilah ini brood parasite.
Karena tidak mempunyai sarang maka burung Cuckoo menitipkan telurnya pada sarang burung lain. 90% telur-telur Cuckoo dititipkan di sarang burung Reed weebler dan Meadow pipit. Karena menitipkan telurnya pada sarang burung lain, burung Cuckoo memproduksi telur-telurnya sehingga ibarat telur burung lain (dalam hal ini mirip Reed weebler dan Meadow pipit).
Imitasi telur yang dilakukan oleh Cuckoo ini tidaklah sempurna, sehingga 20% dari telur-telur ini tertangkap tangan oleh pemilik sarang dan dibuang. Kemudian Cuckoo akan meningkatkan kualitas imitasinya, sehingga akan lebih mirip dengan telur inangnya, dan yang menarik ialah burung Meadow pipit dan Reed webler juga meningkatkan kemampuannya mengenali telur imitasi tersebut dari generasi ke generasi.
Peristiwa peningkatan kualitas imitasi telur oleh Cuckoo dan pengenalan telur imitasi oleh meadow pipit dan red webler ini merupakan proses yang berkelanjutan sampai sekarang. Karena skill keduanya meningkat secara bersamaan maka jumlah telur yang dikenali oleh pemilik sarang dan dibuang bertahan pada angka 20%.
Tidak Perlu Menunggu Sempurna
Kalian niscaya sudah bisa membayangkan jika burung Cuckoo harus menunggu bisa menciptakan telur imitasi yang tepat dulu gres kemudian bertelur dan menitipkan pada inangnya. Pastilah kini ini kita tidak akan pernah mengenal burung Cuckoo.
Seringkali dalam hidup ini, kita punya sebuah keinginan ataupun impian, tetapi kita tidak berani memulai langkah pertama alasannya yakni takut salah. Ekspektasi kita ialah ketika kita melaksanakan sesuatu maka itu harus jadi sempurna, bagus, tanpa cacat. Kenyataanya hal ini tidak akan terjadi begitu saja.
Kita harus mengalami gagal, mirip burung Cuckoo yang selalu gagal 20%. Dengan kegagalan itu kita akan berguru lagi dan lagi untuk bisa lebih baik. Sama mirip kisah burung cuckoo, gagal 20% tetapi sukses 80%, masih efektif bukan? Jangan lupa untuk terus meningkatkan kualitasnya!
Aku masih ingat ketika saya berguru berenang dulu. Ya, berenang. Aku berguru berenang di empang pesantren. Empang itu semacam danau yang terletak di pesantren bersahabat rumahku di Berau. Empang ini Cukup dalam, jadi kalian tahu kan jika gagal berenang maka saya akan mirip 20% telur burung Cuckoo.
Tapi saya mulai berenang dengan jarak 0.5 meter kemudian 1 meter, dan pada hari ke lima saya sudah bisa melompat ke danau sejauh 3 meter. Mungkin awalnya saya ditertawakan, diolok oleh teman alasannya yakni berenang 3 meter saja sudah panik, ketakutan, terkadang terminum air danau alasannya yakni tidak kuat, tapi begitulah hidup, tidak ada yang memulai dengan sempurna.
Pun sama hal-nya dengan menulis. Awal pertama-tama saya berguru menulis, saya bahkan nggak ngerti tanda baca yang benar. Alih-alih menulis dengan manis dan mengalir, saya menulis dengan sangat berantakan. Beberapa orang bahkan berkomentar negatif terhadap tulisanku. Dan memang jika membaca tulisan-tulisan lamaku, saya selalu ingin tertawa, dan selalu merasa bodoh.
Tapi saya ingin bersyukur pada semua goresan pena udik yang pernah saya tuliskan, setidaknya mereka yakni titik dimana saya memulai. Dulu saya perlu waktu 6-7 jam untuk menuliskan satu tulisan, tetapi kini hanya dengan 30 menit saya bisa menuliskan sebuah goresan pena utuh yang lebih lezat dibaca. Ya, hidup ini yakni ihwal proses belajar. Sekarang setidaknya sudah ada 500 judul goresan pena di dunia maya yang sudah saya tuliskan. Begitulah, tidak ada yang mustahil.
Melangkahlah Sekarang Juga
Jika kalian menginginkan sesuatu, ingin melaksanakan sesuatu, ingin berguru hal baru, maka mulailah kini juga. Saat ini, saya ingin bisa berbahasa inggris dengan lancar, sopan dan benar. Aku ingin suatu ketika bisa menjadi public speaker bahasa inggris.
Oleh alasannya yakni itu, saya mulai berlatih, berlatih sepuluh menit berbicara bahasa inggris di depan kamera. Video latihanku ini, sangat kacau, salah disana-sini dan nggak terperinci arahnya. Tapi saya tahu bahwa satu-satunya cara semoga tidak pernah salah ialah dengan tidak mencoba sama sekali.
Aku yakin, sepuluh menit video yang ketika ini berbagai kesalahan grammar, vocab, dan pronounciation itu akan saya syukuri di kemudian hari. Suatu hari nanti saya ingin tertawa, menertawakan video-video amatir ini dan kemudian mensyukurinya, bahwasannya saya sudah memulainya dengan banyak kesalahan.
Jika kalian ingin melihat bagaimana latihanku Berbahasa Inggris di depan kamera, silahkan lihat di link ini: Start Speaking English. Bisa sebagai materi tertawaan jika kalian sedang bosan.
Stop stunned to the bad luck, start creating a new opportunity Mahfuzh tnt
Bagaimana warna langitmu hari ini? Apa Kamu melihat langit sangat gelap? Bergemuruh? Seolah-olah akan runtuh? Baiklah….. Mungkin kau perlu membaca kisah Marie Curie, seorang fisikawan dan kimiawan perempuan pertama di dunia, sekaligus saintis pertama yang memperoleh dua Nobel Prize. Kalian tahu kan jika Einstein yang super jenius itu pun cuma punya satu Nobel Prize, tapi Madam Curie ini mendapatkan dua Nobel Prize.
Kisah Hidup Marie Curie
Marie Curie lahir di Polandia pada 1867. Ini merupakan masa-masa terburuk untuk dilahirkan di Polandia, sebab negara itu sedang dijajah oleh Rusia. Ketika Ia berusia 11 tahun, Ibunya meninggal dunia, sehingga lalu beliau hanya diasuh oleh seorang ayah.
Setelah menuntaskan SMA-nya Marie ingin melanjutkan untuk kuliah, tetapi ketika itu Universitas di Polandia tidak ada yang mau mendapatkan wanita, sebab keadaan ini, Ia balasannya pergi ke Paris untuk melanjutkan studinya. Marie berjuang untuk menuntaskan studinya dalam keadaan kelaparan hampir setiap harinya.
Setelah menikah dengan Piere Curie hidupnya menjadi sangat menyenangkan sebab Ia dan Suaminya sama-sama saintis. Mereka melaksanakan penelitian bersama dan mendapatkan Nobel Fisika. Tetapi tak usang sesudah itu, suaminya (yaitu Piere Curie) terbunuh sebab kecelakaan. Saat itu Marie Curie telah mempunyai dua anak.
Tetapi bukannya murung berkelanjutan, Marie Curie memutuskan untuk mengajar di Sorbone dan menjadi Professor perempuan pertama disana. Beberapa tahun lalu beliau mendapatkan Nobel Prize pada bidang Kimia dan berada sejajar dengan Albert Einstein.
Walaupun menjadi sosok saintis perempuan paling ternama di masa itu, tetapi Mada Curie tetap bisa merawat dan membesarkan anak-anaknya. Anaknya Joliot-Curie mewarisi ketertarikannya pada sains dan mendapatkan Nobel Prize dalam bidang Kimia.
Langit Akan Runtuh
Terkadang kita berfikir bahwa langit akan runtuh, hanya tinggal menunggu waktunya saja. Muncul anggapan percumah saja memikirkan, bekerja keras, melawan, sebab seluruh keadaan tidak mendukung. Keadaan ibarat ini, saya sendiri beberapa kali mengalaminya.
Tetapi bukankah cerita Madam Curie diatas sungguh lebih parah daripada apa yang bisa kita alami? Ia hidup di masa penjajahan, ibunya meninggal, sebab ia seorang perempuan Universitas menolaknya, hidupnya miskin ketika kuliah, suaminya meninggal ketika mereka gres saja mulai berbahagia.
Pada balasannya beliau mengambarkan bahwa dirinya tidak akan mengalah pada keadaan. Ia mengambarkan pada dunia bahwa dirinya yaitu pemenang dengan meraih Nobel Prize keduanya.
Terkadang seluruh keadaan tidak mendukungmu, tidak punya uang, tak punya kekuasaan, tak punya kekuatan dan langit seakan-akan akan runtuh membebani kita. Tetapi yang perlu dilakukan ialah terus melangkah.
Bukankah seorang Marie Curie ialah menjadi perempuan yang pertama melangkah dalam dunia sains? Wanita pertama yang menjadi Professor? Ilmuwan pertama yang meraih dua Nobel Prize? Ya, Ia yaitu sosok yang terus melangkah, melaju, melihat masa depan.
Jangan hanya tertegun melihat apa yang terjadi, mulailah sesuatu untuk membuat kesempatan-kesempatan baru.
Teruslah Melangkah!
Jika saja langit runtuh, maka kau bisa mulai menyingkirkan kepingan-kepingannya. Mulailah untuk menatap masa depan, persiapkan segalanya, segeralah ambil keputusan dan lakukanlah hal yang harus kau lakukan. Jangan berlama-lama larut dalam perasaan sedih, kecewa dan frustasi (read: Jangan baper).
Segeralah berfikir dan bertindak, bukalah pikiranmu untuk kemungkinan-kemungkinan yang akan datang.
Seperti ketika suaminya meninggal, Madam Curie tidak berlarut-larut dalam kesepian, Ia bisa berfikir logis lalu menangkap peluang untuk menjadi Professor di Sorbone. Keputusannya ini membawanya pada Nobel keduanya.
Life is 10% what happens to you and 90% how you react to it Charles R. Swindoll
Dengan tanggung jawab yang begitu banyak, ujian hidup yang tak berkesudahan, Marie Curie berhasil mengambarkan bahwa beliau tetap bisa sukses, bisa memperjuangkan apa yang menjadi keinginannya, menjadi Ibu yang luar biasa dan mencapai puncak karirnya sebagai saintis. Lalu bagaimana dengan kita?