Angka kegagalan itu nggak ada artinya, bahkan mungkin menjadi pujian ketika kita telah berhasil Mahfuzh tnt
Beberapa waktu kemudian seorang teman curhat ke aku, pasalnya lagi-lagi ia mendapat tanggapan email bahwa aplikasi kerjanya ditolak oleh perusahaan tujuan. Lebih menyakitkan lagi, ini yakni penolakan yang ke-7.
Menanggapi hal ini, saya dengan santai menjawab “Nggak papa, lanjut lagi aja”. Jawabanku kacau banget kan ya? Nggak peka banget! Tapi jikalau dipikir ulang, memang harus lanjut lagi, sudah ditolak 7 kali, mau di apa?
Kejadian gagal berkali-kali semacam ini sudah lumrah jikalau dalam kehidupan. Terutama kehidupan mahasiswa kasta sudra macam aku.
Dimaki, Ditolak Terus Mau Gimana?
Pengalaman dikala selesai perkuliahan dulu, saya harus menuntaskan salah satu laporan pertanggung jawaban Praktek Kerja Nyata, PKN (bukan nama sebenarnya). Laporan sudah saya jilid dengan rapi, dan ketika saya berikan kepada dosen yang bertanggung jawab, saya dimaki, pasalnya nggak janjian dulu. Setelah dimaki, proposalku ditolak mentah-mentah.
Menyerah?
Belajar dari pengalaman, saya memutuskan untuk menghubungi terlebih dahulu dosen yang bersangkutan. Saat saya telepon, telepon di angkat dan sesudah tahu bahwa yang berbicara ialah mahasiswa, saya eksklusif kena maki lagi “Mahasiswa itu SMS, semenjak jaman dulu gitu! Kok sok kaya, mahasiswa nelpon!”
Maka dari itu sesudah kena maki saya SMS. Tidak dibalas.
Menyerah?
Berikutnya Aku SMS lagi (setelah yang kemarin tidak dibalas). Akhirnya dibalas dan diberikan waktu janjian. Datang ke lokasi lebih awal semoga tidak terlambat, kemudian ketika bertemu saya kena maki lagi (di depan umum), katanya tiba terlalu cepat jadi ia nggak bisa istirahat (padahal ketemunya sempurna waktu). Tapi ya sudah lah.. apalah cuma mahasiswa kasta sudra. Laporanku hasilnya dibaca(sangat sedikit) dan habis dicoret2.
Menyerah?
Aku tiba lagi dengan laporan yang sudah saya edit lengkap. Semua yang dicoret-coret saya edit dan bagaimanapun menjadi paragraf yang berbeda dari sebelumnya. Kemudian janjian lagi (tentu saja campur makian). Setelah ketemu saya sodorkan kedua laporan yang dicoret-coret dan yang baru. Yap hasilnya laporan yang gres diedit lagi dengan editan yang nggak signifikan.
Menyerah?
Proses editing ini jikalau nggak salah lebih dari 8kali sampai hasilnya ditandatanganin.
Baca Juga: Menang dari Keadaan Terburuk
Dicuekin, No Respon
Setelah lulus kuliah, nggak kalah seru pengalamanku. Emang menyerupai yang saya bilang, mahasiswa kasta sudra harus tahan banting. Saat itu saya emang terobsesi untuk kuliah di Luar Negeri, alasannya yang paling akrab ialah beasiswa AAS, Australia Awards Scholarship, maka saya berencana mendaftar beasiswa tersebut.
Sebelum mengirimkan seluruh berkasnya, saya berencana untuk mendapat Professor di Australia yang bersedia (setidaknya) memberi harapan semoga saya bisa masuk ke laboraturiumnya. Demi mendapat professor ini, saya mengirimkan beberapa email. Setidaknya ada lebih dari 50 email yang saya kirimkan. Dan setiap email berbeda satu sama lainnya. Untuk menuliskan email ini setidaknya saya harus mencari profile professor tersebut, membaca satu jurnalnya dan mencoba membangun komunikasi.
Hingga selesai nyaris deadline pengumpulan berkas AAS, saya tidak sanggup tanggapan dari email-emailku. Tetapi hasilnya saya bisa juga ke Luar Negeri tanpa tanggapan email-email Professor Tersebut.
Baca Juga: Melakukan Kesalahan Adalah Kemajuan Penting Dalam Belajar
Angka Kegagalan itu Nggak Ada Artinya
Pada dongeng pertama, sesudah saya mendapat tanda tangan persetujuan, semua jumlah editing dan makian yang banyak itu nggak ada artinya. Semuanya sirna, berakhir dengan fakta bahwa seorang Mahfuzh sukses mendapat tanda tangan persetujuan LPJ-nya.
Pada dongeng yang kedua, hasilnya saya nggak sanggup tanggapan dari 50 email yang saya kirimkan, pun nggak diterima beasiswa AAS. Tetapi di kemudian hari, pembimbingku memperlihatkan kontak ke Professornya di Jepang, kebetulan ada anggaran untuk membiayai orang absurd di laboraturiumnya. Aku mendapat rekomendasi dan berangkat ke Jepang untuk melanjutkan studiku.
Jadi kisah 50 email itu sudah terasa nikmat berkat keberhasilan yang tidak disangka-sangka. Tapi intinya, 999 kegagalan sekalipun tidak akan ada artinya ketika kita bisa berhasil satu kali saja!
Kesimpulannya ialah berapapun koleksi gagalmu, tetap fokus pada tujuanmu dan teruslah berusaha mewujudkan impian. Tidak ada harapan ketika kau menyerah, alasannya itu coba lagi, mantapkan tujuan dan perbaiki usaha!
Sumber https://mystupidtheory.com