Random post

Showing posts with label Dari Arkademi. Show all posts
Showing posts with label Dari Arkademi. Show all posts

Thursday, January 19, 2017

Pengetahuan Untuk Memecahkan Problem Nyata

Nilai diri kita tidak ditentukan dari apa yang kita tahu. Tapi dari apa yang kita bisa dan apa yang kita lakukan, khususnya bagi orang-orang di sekitar kita. ‘Tahu’ tak lagi menjadi sesuatu yang istimewa di masa surplus info ini. Bahkan, di zaman ini kita tahu hal-hal yang tak perlu kita ketahui.


Kita memerlukan pengetahuan yang membuat kita bisa dan melaksanakan ha-hal secara lebih baik. Pengetahuan yang berdampak faktual pada keseharian kita. Pengetahuan yang membuat kita bergerak untuk segala tujuan yang baik. Untuk diri kita dan orang lain.


Kewirausahaan selalu memikat saya. Dari sanalah saya bisa melihat begitu banyak hal-hal terbaik pada diri manusia: keberanian, tekad, kemandirian, tujuan, kerja keras, keluhuran, kepandaian, pantang menyerah, dan kepercayaan pada mimpi sendiri. Segala nilai yang membuat kehidupan di dunia ini menjadi berarti. Wirausahawan ialah orang yang membuat jalannya sendiri untuk menjangkau apa yang mereka percayai.


Mimpi-mimpi itu mesti dirawat dan ditemani semoga datang di tujuannya.


Salah satu rutinitas saya di internet ialah mengembangkan pengetahuan dan pengalaman. Baik melalui Facebook atau blog. Namun belakangan ini saya gelisah alasannya kebiasaan itu. Apakah saya melakukannya hanya alasannya saya suka, atau untuk membantu orang memecahkan persoalan yang nyata? Apakah yang saya bagi bisa membuat orang lain bergerak? Apakah yang saya bagikan bisa membuat dampak? Apakah sanggup mengantarkan seseorang dari tidak bisa menjadi bisa, bukan sekedar dari tidak tahu menjadi tahu?


Saya punya 30 lebih akta di bidang kewirausahaan, manajemen, pemasaran, digital marketing, hingga jurnalistik, dari institusi dalam dan luar negeri. Tapi belakangan saya masygul dan gundah. Sertifikat-sertifikat ini hanya sebuah kertas, bahkan bukan kertas sama sekali. Ia tak berarti apapun alasannya tak saya gunakan untuk membantu orang lain untuk memecahkan masalahnya.


Saya bahkan aib kepada seorang tukang kebun, yang tak punya akta apapun, tapi bisa membantu orang lain menghadirkan keindahan.



Saya rasa itulah salah satu persoalan besar dalam sistem pendidikan kita: berguru hanya untuk tahu, skor dan lulus, bukan untuk memecahkan persoalan yang nyata.



Kita semestinya sanggup menentukan apa yang hendak kita pelajari untuk membuat kita bisa dan bergerak: memecahkan persoalan secara lebih baik dan membantu orang di sekeliling kita. Bukan sekedar untuk tahu, lulus, atau mempunyai selembar kertas pengakuan. Kita semestinya juga bisa berguru dari sesama. Dari mereka yang tak hanya mempunyai pengetahuan, tapi juga keterampilan, pengalaman, serta budi — dan yang terpenting ialah harapan membantu orang lain.


Karena itulah Arkademi dilahirkan tak hanya sebagai ruang, tapi juga pergerakan. Bahwa kita bisa berguru dari sesama untuk bersama bergerak dan tumbuh. Kita saling mengajarkan dan mendorong sesama untuk bergerak dan bisa. Di Arkademi, kita membantu orang lain untuk terampil dalam memecahkan masalah-masalah faktual yang berafiliasi pribadi dengan hidup mereka.


Karena itu, Arkademi tak akan memperlihatkan akta apapun yang bernilai sebagai tanda pengakuan. Kita tak memerlukan kertas akta untuk menumbuhkan perjuangan kuliner, laundry, rental mobil, atau menjadi pemimpin yang menginspirasi. Kita tak perlu sertifkat apapun semoga bisa membantu memecahkan persoalan orang lain. Kita hanya harus bergerak dan mencobanya. Di Arkademi, kita akan saling menolong membuat orang lain bisa dan membantu merawat mimpi dengan terus bergerak. Kelas-kelas di Arkademi yang kelak mengatakan akta kelulusan hanya dipakai sebagai gamifikasi, menyerupai juga halnya lencana kelas (badge) dan leaderboard (peringkat seluruh siswa di dalam sebuah kelas).


Pembelajaran online bukanlah nilai utama dari Arkademi. Sudah terlalu banyak massive open online course (MOOC) di luar sana, baik yang berbahasa Indonesia maupun bahasa asing. Bahkan jauh lebih canggih dibanding Arkademi yang hanya project pribadi saya seorang diri. Nilai Arkademi ada dua: skenario faktual (real world scenario) untuk mengasah kemampuan memecahkan persoalan serta berpikir kreatif, dan sesama (social learning).


Saya percaya pada 7 hal perihal belajar:



  1. Belajar harusnya bisa ditindaklanjuti secara faktual (actionable)

  2. Belajar mestinya mempertemukan kita pada skenario dunia faktual (real world scenario)

  3. Belajar harusnya bisa dilakukan antar sesama (social)

  4. Belajar harusnya menyenangkan (fun)

  5. Belajar harusnya dihadirkan dengan pengalaman gres (user experience)

  6. Belajar harusnya bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun (on-demand)

  7. Belajar harusnya berkelanjutan (continous)


 


Saya bukan guru atau berprofesi di bidang pendidikan. Tapi saya mempunyai 7 keyakinan di atas sebagai seorang pembelajar hingga dikala ini alasannya menemukan masalah-masalah tersebut dalam dunia pendidikan dan pembelajaran berkelanjutan. Tak ada satu teori pun yang saya pegang. Tapi itu tak menghalangi saya dalam menguji keyakinan di atas sebagai hipotesis lewat Arkademi yang dikala ini tengah dikembangkan.


Arkademi akan fokus pada tema-tema kewirausahaan untuk kalangan pemula dan menengah, bahkan yang belum mulai sekalipun. Pada kelas awal Arkademi (Menguji Ide, Produk, dan Pasar), saya berusaha keras mengkombinasikan 7 elemen di atas. Yang ketika dikerjakan, barulah saya menghadapi tantangan berat. Bukan hanya bisa membuat konten, kisah, skenario, dan kuis. Tapi juga mengembangkan teknologi dan user experience-nya. Tapi saya tak percaya ada yang besar di balik sesuatu yang mudah.


Tema pembelajaran di Arkademi akan terbatas pada hal-hal yang pribadi bisa dipraktekkan. Setiap teori akan dititikberatkan pada bagaimana dia bisa memecahkan persoalan yang nyata. Mentor di Arkademi ialah mereka yang mempunyai kombinasi pengetahuan, pengalaman, dan kebijaksanaan. Orang-orang itu umumnya ialah sesama kita sendiri. Umumnya, mentor MOOC ialah para akademisi dengan sederet gelar. Bukan para ‘amatiran’ menyerupai kita. Tapi saya percaya pada amatir. Karena para amatirlah yang menuntaskan masalah-masalah yang meski kecil namun nyata. Dari yang kecil itulah yang besar bermula.


Dunia ini ialah taman bermain bagi mereka yang terampil. Lewat Arkademi, saya hendak ikut ambil bab dengan mengirimkan lebih banyak orang ke taman itu. Arka ialah cahaya atau matahari dalam bahasa Sansakerta. Semoga Arkademi bisa membawa terperinci bagi banyak orang. (*)


 


Balikpapan, 18 Oktober 2017

Salam hormat,


Hilman Fajrian

Founder Arkademi








Sumber aciknadzirah.blogspot.com

Menguji Celah Ilmu Pengetahuan

Salah satu missing link dan celah terbesar dalam ilmu pengetahuan yaitu bagaimana sebuah ilmu pengetahuan dipakai untuk memecahkan duduk masalah faktual di dunia faktual untuk insan nyata. Di zaman inflasi isu menyerupai sekarang, insan mengetahui begitu banyak hal. Bahkan tahu yang tak perlu diketahui sekalipun. Namun, sesuatu yang kita tahu itu tidak ada keuntungannya bila tak dipakai untuk memecahkan duduk masalah nyata, minimal untuk diri sendiri.


Setiap distributor ilmu pengetahuan menyerupai guru, dosen, mentor, atau instruktur, niscaya berharap akseptor didik sanggup mempraktekkan ilmunya di dunia nyata. Tapi ada celah besar antara ‘Tahu’dan ‘Bisa’– yang ditunjukkan lewat praktek/implementasi. Kemampuan kita pada ‘Bisa’ lebih banyak sebab tacit knowledge: pengetahuan yang didapatkan menurut pengalaman. Kita menyebutnya keterampilan. Di sisi lain, keterampilan ditentukan menurut pengalaman, sehingga tidak mungkin kita bisa dapatkan tanpa praktek lebih dulu. Keterampilan itu selalu terpaut dengan kemampuan seseorang memecahkan duduk masalah yang dihadapinya. Sementara, pengalaman dan duduk masalah tiap orang berbeda.


Bila keterampilan itu diukur lewat kemampuan seseorang memecahkan masalah, bagaimana cara memindahkan sebagian ‘Terampil’ ini ke dalam celah antara ‘Tahu’ dan ‘Bisa’?


Karena bila seseorang sudah ‘Terampil’ terlebih dulu (dalam tingkat tertentu), ia akan lebih gampang dan cepat tiba di area ‘Bisa’ dan menjadi makin terampil di dunia nyata. Beberapa bulan terakhir aku bergelut dalam pertanyaan ini.


‘BERPERANG’ SEBELUM BERPERANG


Lalu aku membayangkan dunia militer. Kita anggap setiap prajurit di dunia ini tugasnya untuk berperang. Prajurit di masa-masa pendidikan diajarkan cara memakai senjata, memasang ranjau, mengatur strategi, mengelola logistik dll. Dengan demikian prajurit ‘Tahu’ cara berperang. Tapi apakah harus ada perang dulu untuk mengetahui seorang prajurit ‘Bisa’ berperang? Celaka namanya.


Namun tiap prajurit harus ‘Bisa’ berperang bila ada perang. ‘Terampil’ dalam berperang hanya bisa didapatkan dalam dalam peperangan — yang dihindari semua orang. Lalu, bagaimana cara memindahkan sebagian ‘Terampil’ itu di masa tenang untuk mengisi celah antara ‘Tahu’ dan ‘Bisa’? Berlatih!


Masa-masa tenang dipakai oleh prajurit untuk berlatih mengasah pengetahuan dan kemampuannya. Karena tak ada perang betulan, maka diciptakanlah skenario perang untuk berlatih. Skenario ini diciptakan semirip mungkin dengan perang faktual atau yang mungkin terjadi. Mulai dari gerilya, perang kota, merebut basis musuh, propaganda, intelijen, hingga cara bertahan sebagai tawanan perang. Dengan menghadirkan skenario perang sebelum terjadi perang, maka prajurit diharapkan sudah terampil lebih dulu sebelum perang terjadi. Prajurit dilatih untuk terampil memecahkan duduk masalah sebelum duduk masalah itu datang. Mereka dilatih untuk ‘Bisa’.


MENGUJI HIPOTESIS


Dari fenomena di atas, aku membuat hipotesis: celah antara ‘Tahu’ dan ‘Bisa’ dalam pengetahuan mesti diisi oleh ‘Terampil’ dalam memecahkan duduk masalah faktual dengan aneka macam skenario dunia nyata.


Hipotesis inilah yang sedang aku uji lewat Arkademi yang aku rilis versi awalnya pada Rabu kemarin, 18 Oktober 2017. Karena Arkademi yaitu social learning platform kewirausahaan, maka ‘Kurusetra’ kita yaitu dunia perdagangan, terutama skala kecil dan menengah.


Hipotesis ini juga lahir dari kegundahan aku sesudah mengikuti banyak kursus online bersertifikasi. Antara lain Google Ad Academy, Coursera, Udemy, hingga Hubspot. Yang membawakan kursus yaitu universitas populer dunia menyerupai The Wharton School, Ludwig Maxmilians University, University of California, hingga IE Business School. Saat ini aku mempunyai 30 akta lebih dari institusi di atas. Tapi — tanpa mengecilkan kebesaran nama-nama institusi di atas — ketika aku mencoba mempraktekkan apa yang sudah diajarkan untuk kebutuhan aku sendiri, aku sangat kesulitan. Mungkin sebab aku bukan orang pandai. Tapi bahkan orang yang tidak pintar menyerupai aku pun mesti dibantu.


Kesulitan itu utamanya terjadi sebab apa yang diajarkan memakai skenario ideal. Tapi hidup kita tidak ideal. Dan tak ada sebuah rencana yang selalu bisa mengikuti skenario ideal. Saya tak diajarkan cara untuk memakai pengetahuan itu sesuai dengan hal faktual yang aku hadapi, atau setidaknya yang mirip. Akhirnya aku hanya ‘Tahu’ saja. Tidak lebih. Bagi aku sekedar ‘Tahu’ tidak ada gunanya. Masalah ini yang hendak aku selesaikan di Arkademi.


Nilai Arkademi tak hanya terletak pada ‘WHAT’ (apa) yang diajarkan, tapi juga ‘HOW’ (bagaimana). Soal ‘What’, Arkademi akan fokus pada pengajaran kewirausahaan kecil dan menengah, bahkan untuk calon wirausahawan, dalam memulai dan menyebarkan usaha. Saya percaya bahwa makin banyak wirausahawan, makin baik pula dunia ini. Sementara masa-masa awal memulai perjuangan yaitu masa yang kritis dan rentan. Saya ingin semoga Arkademi bisa membantu mereka dalam menghadapi dunia yang mengatakan begitu banyak peluang sekaligus VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity).


‘HOW’ pada Arkademi terletak pada bagaimana sesuatu itu diajarkan. Arkademi akan memakai pendekatan ‘militer’ di atas. Peserta akan dilatih untuk memecahkan duduk masalah faktual dengan aneka macam skenario dunia nyata. Keterampilan itu yang hendak ditanamkan bahkan sebelum duduk masalah itu datang. Diharapkan, keterampilan dalam memecahkan duduk masalah sanggup membuat akseptor Arkademi makin percaya diri dan mantap dalam memulai dan menyebarkan usahanya.


Menghadirkan pengalaman (exprience) untuk memenuhi hal di atas bukan hal gampang buat saya. Apalagi aku bukan guru atau pendidik profesional. Tak pernah berguru teori soal pendidikan. Kalau Arkademi ditentang pendidik profesional, aku tak persiapkan bantahan apapun. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya seorang pembelajar awam yang mencicipi duduk masalah dalam metode pendidikan dan mencoba untuk memecahkannya secara mandiri. Saya hanya orang biasa yang ingin membantu orang lain dalam berguru kewirausahaan.


Menghadirkan ‘HOW’ itu memerlukan pendekatan gres pada konten. Saya tak bisa memakai pendekatan mainstream menyerupai hanya konten video atau text block. Harus benar-benar baru. Karena itu, di kelas perdana Arkademi dengan tema Menguji Ide, Produk, dan Pasar, bentuk konten yang aku pilih yaitu jalan kisah mengalir dan interaktif. Peserta diminta untuk membantu seorang aksara fiksi memulai perjuangan kecilnya di bidang kuliner. Mirip permainan petualangan. Di tiap seri disajikan aneka macam kuis skenario dunia nyata. Lewat konten story telling dan kuis real world scenario itu aku menguji pendekatan gres dalam ‘HOW’.


BELAJAR DARI SESAMA


Ada nasehat begini: tiap insiden yaitu ilmu, tiap kawasan yaitu sekolah, tiap orang yaitu guru. Nasehat ini melahirkan hipotesis gres bagi saya. Yakni menguji ‘WHO’ (siapa) dalam dunia pembelajaran.


Benar bahwa ‘Tiap orang yaitu guru’, terlebih di kala keterhubungan menyerupai ketika ini. Kita bisa berguru dari siapapun. Saya bisa tahu dan berguru banyak dari teman-teman aku di Facebook atau blog crowd source. Para guru-murid ini — mungkin kita sendiri yaitu guru di mata orang lain — perlu mendapat ruang untuk mengatakan dan mendapat pengetahuan lebih baik agi. Mereka hingga ketika ini berkumpul di tempat-tempat dengan penuh keterbatasan menyerupai grup Facebook atau grup WA/Telegram. FB atau WA yaitu communication based platform dengan fungsi yang generik (umum). Banyak limitasi dalam mengatakan pengalaman pembelajaran yang baik untuk output yang lebih maksimal. Misal membuat kuis, mengatakan tugas, atau membuat pembahasan spesifik mengenai tema tertentu melalui forum. Masalah ini akan diselesaikan oleh Arkademi sebagai social learning platform yang mempunyai skalabilitas sangat tinggi dalam menyebarkan teknologi dan fitur-fitur yang diharapkan untuk membuat cara pembelajaran yang lebih baik.


Arkademi yaitu platform atau ruang kawasan bertemunya pengajar dan akseptor didik. Yang keduanya bisa siapapun. Berbeda dengan massive open online course (MOOC) lain yang para mentor umumnya yaitu dosen atau profesional high profile. Tapi tidak dengan Arkademi. Siapapun yang berniat menjadi pengajar kewirausahaan atau hal-hal yang berkaitan dengan itu (keterampilan tertentu, misal membuat kue), sangat boleh membuka kelasnya sendiri. Pengajar juga bisa memanfaatkan Arkademi untuk kepentingan ekonominya dengan cara menarik iuran dari akseptor didik. Gratis pun apalagi, sangat boleh. Arkademi aku lahirkan dengan niat untuk membantu orang lain, bukan untuk membuat diri aku sendiri kaya raya (dan aku bukan orang kaya).


Jadi, bila seseorang ketika ini bisa membuat kesejahteraannya lewat perdagangan barang secara online, harusnya begitu juga dengan jasa pendidikan. Siapapun yang merasa bisa jadi pendidik dan pengajar sebab pengetahuan, pengalaman, keterampilan dan kecerdikan mereka, bisa membuat kesejahteraan dari sana. Arkademi membuat ruang itu. Seberapa cantik seorang mentor yang memilih yaitu akseptor didik sendiri lewat rating, ulasan, dan berapa orang akseptor yang bergabung ke kelasnya.


Dengan demikian, Arkademi berada pada two sided market, atau pasar dua sisi. Kekuatannya terletak crowd (kerumunan), yakni pada mentor dan akseptor didik, atau stake holder lain. Arkademi akan menjalankan kiprah dan fungsinya sebagai network orchestrator.


***


Dunia ini yaitu taman bermain bagi mereka yang terampil. Lewat Arkademi, aku hendak ikut ambil kepingan dengan mengirimkan lebih banyak orang ke taman itu. Arka yaitu cahaya atau matahari dalam bahasa Sansakerta. Semoga Arkademi bisa membawa terperinci bagi banyak orang. (*)






Sumber aciknadzirah.blogspot.com

Wednesday, January 18, 2017

Mendemokrasikan Pembelajaran Berkelanjutan

Beberapa bulan kemudian saya bertemu Mas Eko, seorang pengemudi Gocar yang mobilnya sedang saya tumpangi di Balikpapan. Di perjalanan kami mengobrol. Eko usianya awal 30-an. Selain narik Gocar, ia punya perjuangan laundry di rumah yang usia usahanya 3 tahun. Karyawannya 7 orang.


Saya tanya berapa modal awalnya memulai perjuangan laundry.


“Saya tidak pakai modal. Modal saya mesin basuh rumahan yang sudah saya punya, jadi tidak beli lagi. Saya dan istri basuh setrika sendiri,” ucap Eko.


Saya tak ragu pada jawaban itu. Meski, beberapa waktu sebelumnya sobat saya seorang pengusaha laundy yang lain pernah bilang bahwa modal minimal perjuangan laundry itu Rp 35 juta, idealnya Rp 80 juta. Saya agak skeptis waktu itu. Karena besar sekali modalnya untuk sebuah perjuangan kecil. Tapi lantaran beliau pengusaha laundry dan saya bukan, maka saya serap saja gosip itu. Namun Eko menunjukan bahwa ada cara lain dalam memulai perjuangan laundry dengan modal sangat minimal, tapi bisa terus tumbuh. Bahkan kini Eko punya perjuangan sampingan sebagai supplier alat dan material laundry di Balikpapan.


Usaha laundry. Tanpa modal. 3 tahun dengan 7 karyawan. Menurut saya Eko telah berhasil melahirkan dan mengembangkan usahanya secara sehat. Kemampuan, pengalaman, dan pengetahuan Eko dalam melahirkembangkan perjuangan laundry-nya sangat perlu disebarkan ke orang lain. Dia bisa menginspirasi dan membantu ekonomi banyak orang. Kita hanya harus menemukan daerah dan caranya.


MENGEKSTRAK NILAI


Sejak permulaan zaman, insan mempertahankan hidupnya dengan cara mengekstrak nilai yang terdapat pada dirinya untuk dipertukarkan dengan kebutuhannya, baik yang disediakan alam atau orang lain. Nilai itu yakni kemampuan, kapabilitas, keahlian. Tak ada seorang pun hidup tanpa kapabilitas, atau ia tak akan bisa mempertukarkan apapun untuk memenuhi kebutuhannya. Nenek moyang kita memenuhi kebutuhan itu dengan cara memakai nilai pada dirinya untuk mengekstrak nilai yang disediakan alam. Seperti berburu, mengolah materi baku, mengelola lahan, hingga membuat perangkat dari kayu dan batu.


Seiring waktu, nilai tersebut tak hanya bisa diekstrak dari alam, tapi juga individu lain. Manusia kemudian saling mendistribusikan dan bertukar nilai untuk memenuhi kebutuhan masing-masing: memakai nilai pada dirinya yang diubah ke bentuk barang dan jasa untuk ditukar dengan sesuatu yang ia butuhkan. Dalam ekonomi kita mengenalnya sebagai perdagangan dan ketenagakerjaan. Jadi, percayalah bahwa setiap orang cukup umur yang masih bernafas, termasuk kita, niscaya mempunyai kapabilitas sebagai nilai untuk kita tukarkan dengan kebutuhan hidup.



Namun meningkatnya kompleksitas hidup membuat setiap individu harus menempa kapabilitasnya terus-menerus. Tak hanya demi meningkatkan nilai pada dirinya, tapi juga menjaga biar nilai tersebut tetap bisa dipertukarkan.



Sementara, globalisasi, teknologi, dan volatilitas ekonomi membuat persaingan nilai makin ketat. Persaingan tak hanya terjadi antar individu, tapi juga individu dan teknologi. Para pekerja call center dan customer service di AS dan Eropa kehilangan pekerjaannya lantaran kegiatan dipindah ke India atau Bangladesh yang bisa menyediakan pekerja dengan nilai yang sama namun bisa dipertukarkan dengan nilai yang 3-5 kali lipat lebih rendah. Begitu pula dengan para pengemudi Gojek kini bisa menangkap nilai sebagai pelaku perjuangan moda transportasi dengan biaya, risiko, dan upaya jauh lebih rendah ketimbang menjadi pekerja di perusahaan transportasi umum (yang dulu menjadi satu-satunya pihak yang menyediakan nilai tersebut).


DISTRIBUSI NILAI


Sementara, teknologi balasannya membuka pintu-pintu yang dulunya tertutup: saluran gosip dan komunikasi pada level global. Berbagai cara gres meningkatkan nilai dieksperimenkan, ditemukan, dan didistribusikan, yang pada balasannya bisa meningkatkan daya saing individu dengan cara berbeda namun lebih efektif dan efisien. Seorang penjual masakan bisa menemukan resep gres di banyak sekali blog dan mengolah materi lebih baik lewat berguru di Youtube. Mas Eko bisa memulai perjuangan laundry tanpa modal lantaran terinspirasi oleh seseorang di media umum dan berguru tekniknya dari banyak sekali sumber di internet.


Nasehat bahwa hidup yakni proses berguru tanpa henti menjadi makin konkret di zaman ini. Setiap orang makin perlu menjaga, memelihara, menempa, dan mengembangkan nilai dirinya dalam dunia yang begitu cepat berubah, flat, dan bersaing sengit. Tanpa itu, nilai pada dirinya tidak akan relevan lagi atau menurunnya daya saing. Kita mesti menemukan cara dan pendekatan gres dalam pembelajaran yang berkelanjutan demi peningkatan nilai diri secara kontiyu. Kita tidak bisa terlalu berharap kepada institusi pendidikan formal yang tertatih-tatih mengejar kecepatan perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya yang berbasis kompetensi. Kita perlu mengikuti sebuah nasehat tua: Setiap orang yakni guru, setiap daerah yakni sekolah. Kita mesti berguru dari setiap orang dan dimanapun untuk menjaga dan meningkatkan nilai diri.


Jadi, ketika kebutuhan untuk pembelajaran berkelanjutan itu konkret di sisi pembelajar, tapi bagaimana dengan sisi pengajar?


Ketika seseorang bersedia mendistribusikan nilai dan kapabilitasnya kepada orang lain melalui pengajaran, apa kebutuhannya yang terpenuhi?


Apa nilai yang bisa ia tangkap dengan mengajari orang lain?


Mengapa mengajari orang lain itu lebih bernilai ketimbang ia mengalokasikan waktu dan energinya di daerah lain?


Apa untungnya bagi dia?


Kita bisa bersyukur bahwa teknologi tak hanya menjadi alat untuk mendistribusikan nilai seseorang kepada orang lain. Tapi juga mengubah sikap insan terhadap gosip dan kapabilitas yang ia simpan. Dulu seorang pengerajin kayu jati di Jepara (misalnya) hanya bisa mendistribusikan gosip atas keahliannya kepada orang-orang di desa atau kotanya. Kini ia bisa membuat video sederhana perihal mengolah kayu jati dan dipublikasikan di Youtube biar bisa disaksikan seluruh dunia.


Tapi, apa untungnya pengerajin kayu jati menpublikasikan keahliannya di Youtube?


Tergantung motif dan model bisnis.


Distribusi nilai melalui gosip sangat mungkin mengandung motif ekonomi dan model bisnis. Baik dalam jangka pendek hingga jangka panjang. Misal, model bisnis jangka pendek si pengerajin kayu yakni mendapat penghasilan dari monetisasi videonya di Youtube. Dalam jangka menengah ia bisa mendapat pelanggan yang mengenalnya dari video tersebut, atau dibayar sebagai pengajar. Sedangkan dalam jangka panjang ia bisa mengekspansi pemasaran ke luar negeri lewat promosi videonya atau mendapat investor. Dari situ kita tahu bahwa motif ekonomi menurut waktu bisa mempunyai model bisnis yang berbeda-beda.


Model bisnis atas distribusi gosip menurut nilai pada diri seseorang menyerupai ini tolong-menolong kita saksikan tiap hari. Anda mempunyai toko kue, kemudian rajin membagikan gosip dan edukasi perihal cara mengolah camilan manis di media sosial. Dari situ anda berharap jejaring anda akan terkonversi sebagai pembeli. Atau anda spesialis dalam internet marketing dan rajin banyak sekali wawasan perihal bidang tersebut, dengan keinginan orang-orang akan membayar anda menjadi mentor internet marketing lewat seminar atau workshop.



Jadi, biar seorang individu bersedia mendistribusikan keahliannya melalui gosip pengajaran, maka harus ada nilai yang bisa ia tangkap dari sana. Karena itu dibutuhkan ruang dan pendekatan yang mengatakan model bisnis tertentu kepada mereka. Model bisnis terbaik yakni yang bisa mengatakan imbal hasil (return) paling segera.



Model bisnis inilah yang ditawarkan Arkademi.


Arkademi yakni network orchestrator pada dua sisi pasar (two-sided market). Yakni pasar pengajar yang disebut mentor, dan pembelajar yang disebut siswa. Kedua sisi ini mempunyai duduk masalah dan kebutuhan berbeda yang memerlukan pemecahannya sendiri-sendiri. Tapi keduanya beranjak dari nasehat yang sama: “Setiap daerah yakni sekolah, setiap orang yakni guru”.


DEMOKRATISASI PELUANG


Pada sisi pasar mentor, Arkademi memecahkan duduk masalah demokratisasi peluang, skalabilitas, administrasi kelas, teknologi dan kualitas pengajaran, serta fokus market.


Seminar, pelatihan, workshop dsb, sudah ada dimana-mana semenjak dulu. Tapi tidak semua orang bisa ambil kiprah sebagai sumber. Memang tidak semua orang layak atau bisa menjadi sumber. Namun sangat banyak orang yang mempunyai keahlian, pengalaman, kebijaksanaan, dan kesuksesan, pada suatu bidang namun tak mendapat peluang tersebut. Atau, peluang itu mungkin tersedia tapi tidak mengatakan model bisnis yang menarik. Bisa juga nilai yang tersedia untuk ditangkap dengan menjadi sumber tidak sesuai dengan yang diharapkan.


Beberapa bulan kemudian saya bertemu Mas Eko Mendemokrasikan Pembelajaran Berkelanjutan


Beberapa bulan kemudian saya bertemu Mas Eko Mendemokrasikan Pembelajaran Berkelanjutan


Survei online yang Arkademi lakukan pada September kemudian pada 140 responden, 87% menyatakan bahwa mereka lebih menentukan praktisi sebagai sumber atau mentor. Yang menentukan sumber akademisi hanya 5%. Pada hasil survei Arkademi yang lain menyebutkan cara berguru peningkatan kompetensi yang paling banyak dipilih yakni kelas online dari praktisi. Artinya, siapapun yang mempunyai keahlian pada bidang tertentu punya potensi pasar pembelajar/siswa online. Maka, peluang menjadi mentor harus dibuka seluas-luasnya kepada setiap orang yang mempunyai keahlian pada bidangnya masing-masing.



Di Arkademi, setiap orang bisa menjadi mentor. Tanpa biaya apapun. Gratis. Selamanya. Tiap mentor berhak menentukan tarif kelas per siswa, atau kelas gratis sekalipun. Tiap mentor punya kebebasan menentukan model bisnis, model pendapatan, dan model harganya masing-masing. Inilah demokrasi di Arkademi: dari komunitas dan untuk komunitas. Semua orang jadi serpihan penting dalam kerja sama peningkatan nilai.



Sebagai platform online, Arkademi mempunyai skalabilitas global. Setiap kelas di Arkademi bisa diakses oleh siapapun tanpa dibatasi geografis. Hal ini memecahkan duduk masalah skalabilitas pada mentor untuk mendapat siswa kelas sebanyak-banyaknya tanpa terikat tempat. Beda halnya bila si mentor membuka kelas offline dengan jumlah siswa terbatas dan berbiaya tinggi lantaran perlu pengerahan sumberdaya (sewa tempat, makan, ATK).


Sebagai Edutech (education technology), Arkademi memecahkan duduk masalah mentor dalam mengelola kelas dan membuat konten yang bisa meningkatkan kualitas pengajaran. Melalui dashboard-nya, mentor bisa mengatur harga kelas, aktivitas buka kelas, jumlah maksimal kursi, mengupload dan mengupdate konten, berdiskusi di lembaga kelas, membuat kuis, mengatakan tugas, mengirimkan pengumuman, hingga membuat kupon diskon. Begitu juga dengan pembayaran dari siswa yang diproses secara elektronik dan otomatis oleh Arkademi. Melalui dashboard-nya, mentor bisa memantau berapa rupiah yang sudah ia hasilkan. Semua teknologi ini disediakan oleh Arkademi yang mengatakan pendekatan dan solusi gres dalam belajar-mengajar.


Ekosistem Arkademi dibentuk khusus untuk pasar pengajar dan pembelajar. Mereka yang bergabung ke Arkademi hanya untuk berguru atau mengajar. Ekosistem ini yakni pasar yang siap untuk dimanfaatkan mentor untuk mendapat siswa lebih banyak.




Bergabung menjadi mentor Arkademi sekarang




BELAJAR ON-DEMAND


Arkademi tidak diciptakan untuk menggantikan atau mendisrupsi apapun. Saya tidak pernah berniat mendirikan Arkademi untuk mendisrupsi sekolah, perguruan tinggi, kursus, dan lembaga pendidikan apapun. Saya percaya bahwa berguru yakni pengalaman sosial dimana kebutuhan akan interaksi langsung/fisik akan selalu ada. Tapi saya juga percaya bahwa kita perlu cara gres dalam berguru yang tak hanya terbatas pada metode, tapi juga kapan (tempus) dan dimana (locus).


Sebagai sebuah platform online, Arkademi mengatakan solusi atas kebutuhan berguru dimana saja dan kapan saja atau on-demand. Setiap kelas bisa diakses kapan pun dan dimanapun selama ada perangkat dan internet. Begitu juga dengan interaksi antara siswa-mentor atau siswa-siswa yang bisa dilakukan dengan cara diskusi di lembaga kelas.


Format pengajaran disediakan melalui pilihan yang luas. Semua konten digital bisa disajikan. Mulai dari video, audio, slide, PDF, teks, gambar dsb. Tergantung pilihan mentor.


Metode pengajaran di Arkademi ditekankan pada sasaran dan tujuan yang terperinci serta harus bisa diimplementasikan secara langsung. Itu sebabnya praktisi dibutuhkan sebagai mentor. Materi pengajaran harus sanggup mengatakan dampak konkret pada kehidupan siswa. Sehingga, berguru di Arkademi bukan hanya soal output (tahu atau lulus kelas). Tapi outcome (hasil) yang bisa siswa dapatkan dari belajar, dan itu harus nyata. Siswa berguru di Arkademi bukan untuk lulus atau sekedar tahu, tapi mendapat ilmu kompetensi yang akan mengatakan dampak konkret pada kehidupan siswa sehari-hari.



Pengajaran di Arkademi bertujuan biar siswa sanggup memecahkan duduk masalah konkret dengan solusi konkret pada bidangnya masing-masing dan kehidupan nyata. Siswa berada di Arkademi bukan untuk menghapal, mendapat nilai, atau lulus.



Misi ini ditunjang dengan lewat konten yang praktikal dan fitur berlatih menyerupai kuis dan tugas. Arkademi akan membantu mentor membuat akomodasi berlatih yang mempertemukan materi pengajarannya dengan skenario dunia nyata. Arkademi memastikan tak ada akomodasi berlatih dalam kelas yang hanya mengandalkan ingatan atau hapalan. Namun harus mendorong kemampuan analisa dan kreativitas para siswa untuk memecahkan masalah.




Gunakan kupon diskon 30% untuk semua kelas premium/berbayar di Arkademi hingga 31 Desember

Kode kupon: SELAMATDATANG




LEARNING MARKETPLACE 2018


Menciptakan kesejahteraan lewat pendidikan dan pembelajaran bukan hal gres di dunia ini. Orang menjadi guru sekolah, guru les, dosen, mentor, instruktur, hingga motivator. Mulai dari yang bayarannya kecil hingga bertarif puluhan juta rupiah per jam. E-learning juga bukan barang gres dan sudah hadir dalam banyak sekali bentuk. Pertumbuhan bisnis E-learning Indonesia salah satu yang tertinggi di dunia, rata-rata di atas 25% per tahun. Artinya, kebutuhan masyarakat Indonesia untuk berguru (secara online) terus meningkat. Kebutuhan ini tak saja hanya harus diimbangi dengan penawaran (supply) pendidikan dan pembelajaran yang berkualitas, tapi juga kebutuhan akan ruang untuk supply-demand tersebut. Arkademi mengambil kiprah untuk menyediakan ruang tersebut.


Arkademi sudah menuntaskan seluruh tahap validasinya dengan 3 jenjang. Tahap pertama yakni pengujian platform di sisi siswa (Oktober), tahap kedua pengujian administrasi kelas melalui dashboard mentor (November), tahap ketiga yakni pengujian purchase intent (customer validation) dan teknologi pembayaran yang dimulai 15 Desember kemudian dan hasilnya sesuai harapan. Dengan demikian Arkademi sudah siap didistribusikan lebih luas.


Tahun 2018 Arkademi masuk ke pasar early adopter atau pengguna awal dengan sasaran mengakuisisi 100 mentor, membuka 150 kelas, 50.000 siswa, dan rata-rata 250 siswa per kelas. Pengembangan teknologi juga terus dilakukan. Antara lain Arkademi Studio yang menyediakan banyak sekali tool online untuk mempermudah mentor merancang dan membuat konten, serta aktivitas kerjasama dengan penyedia jasa studio di kota-kota besar. Lalu implementasi mobile app yang menyebabkan penggunaan dan interaksi jadi lebih mudah, termasuk menyaksikan kelas secara offline (tanpa saluran internet). Direncanakan juga pengembangan marketing tool untuk memudahkan mentor memperluas exposure atau mempromosikan kelasnya.


Dari segi pembelajaran, Arkademi 2018 akan mengimplementasikan learning path yang tujuannya memperkuat spesialisasi siswa di sebuah bidang. Learning path yakni sebuah paket pembelajaran yang merupakan adonan beberapa kelas terpisah pada tema yang sama. Tujuan learning path yakni sebuah pembelajaran terspesialisasi dari tahapan paling dasar (pemula) hingga tahap ahli, yang pembelajarannya dikemas dalam 1 kelas secara berurutan. Dengan learning path, mentor bisa menjual lebih banyak kelas dan siswa bisa meraih spesialisasi di tamat kelas.


Ini merupakan sasaran yang kasar dan menjadi skenario ideal 2018. Arkademi ketika ini masih didanai dari dana saya pribadi (bootstrap) dan hanya diurus berdua oleh saya dan Echy. Uang yang dikeluarkan untuk membangun Arkademi hingga Desember hanya sekitar Rp 700.000 (ribu, bukan juta). Untuk mencapai skalabilitas dan sasaran di atas demi mewujudkan visi dan misinya serta memberi dampak pada lebih banyak orang, Arkademi akan menyebarkan visi dan misi itu dengan para pemodal/investor.


Tapi hidup tidak pernah ideal dan skenario lain mesti dirancang. Bila pun tak ada pemodal luar, saya pastikan Arkademi akan terus berjalan. Secara ekonomi, Arkademi sudah balik modal dan untung dari penjualan kelas yang ada ketika ini. Operasional selama 1 tahun ke depan tak ada yang harus ditanggung lantaran server sudah disediakan IDCloudhost (terima kasih, sob!). Hosting video privat masih memakai kuota gratis. Bila harus ditambah lantaran ada konten video dari mentor baru, berarti otomatis ada pemasukan profit sharing dari mentor tersebut. Dari awal saya merancang operasional dan teknologi Arkademi sangat ramping (lean) namun sekaligus mempunyai skalabilitas. Hal ini sangat penting bagi sebuah perjuangan rintisan untuk mengelola ketidakpastian dan kewajiban untuk meningkatkan learning curve.


Penggalangan dana investasi akan dilakukan biar Arkademi bisa memberi dampak lebih luas dan lebih cepat lagi. Diperlukan kemampuan ekonomi untuk mewujudkan misi itu pada sekup yang lebih luas. Bukan biar founder-nya kaya. Arkademi tidak diciptakan untuk menghasilkan kekayaan buat para pendirinya — dan kami bukan orang kaya. Namun untuk melayani, memberdayakan, dan meningkatkan daya saing rakyat Indonesia melalui pasar pembelajaran berkelanjutan on-demand.


Terima kasih telah menjadi serpihan awal Arkademi. Bila teman-teman mempunyai sebuah perkiraan akan potensi besar Arkademi di masa depan, anda yakni orang yang ikut membangun sesuatu yang besar itu di masa awalnya. Saya besar hati berteman dengan anda semua.


Apabila setiap daerah yakni sekolah dan setiap orang yakni guru, anda dan Arkademi telah mewujudkan ruang untuk menjadikannya nyata. (*)




Gunakan kupon diskon 30% untuk semua kelas premium/berbayar di Arkademi hingga 31 Desember

Kode kupon: SELAMATDATANG








Sumber aciknadzirah.blogspot.com

Sunday, January 15, 2017

Strategi Menjual Kelas Pra-Rilis Di Arkademi

Salah satu tantangan besar menjual produk gres bukanlah meningkatkan penjualan dari 10 ke 100. Tapi dari 0 ke 1. Pembeli cenderung enggan menjadi yang pertama (kecuali brand fenomenal) dan menunggu hingga produk itu terbukti. Bukti itu ditunjukkan lewat social proof dalam bentuk digunakannya produk itu oleh orang banyak dan kesaksian. Semut tiba ke kawasan semut lain berkumpul. Pembeli akan mendatangkan pembeli lainnya.


Kita perlu mendapatkan/mengakuisisi pembeli awal atau early adopter semoga sanggup menarik pembeli lebih banyak.


Strategi akuisisi early adopter ini jamak di sekitar kita. Biasa disebut early bird. Metodenya yaitu mengatakan harga lebih murah dan kelangkaan. Misal ada sebuah program seminar yang menyediakan 100 dingklik dengan harga go show Rp 100.000. Panitia memberi harga Rp 50.000 untuk early bird dengan kuota 50 kursi. Artinya panitia memakai seni administrasi harga bernafsu dan kelangkaan untuk mengakuisisi early adopter.


Nah, seni administrasi yang sama sanggup dipakai dalam menjual kelas online di Arkademi. Fitur-fitur yang dibutuhkan untuk mengakuisisi early adopter sudah tersedia.


Proses paling memakan waktu dalam mempersiapkan kelas online yaitu membuat konten. Waktu yang dibutuhkan bermacam-macam tergantung jenis media yang dipakai dan kesiapan materi. Namun, sembari menunggu pembuatan konten selesai, sebuah kelas online di Arkademi sebetulnya sudah sanggup dijual kepada early adopter.


Kelas sejenis ini di Arkademi disebut kelas Pra-rilis yang berada dalam status ‘SEGERA DIBUKA’. Laman depan kelas sudah online, namun belum sanggup dimasuki siswa. Ibarat sebuah buku, halaman sampul depan berisi judul, sampul belakang berisi pengantar, dan daftar isi sudah tersedia. Calon pembeli sudah mengetahui apa konsep yang akan diuraikan dalam buku dan keuntungannya bagi mereka.


Kelas Pra-rilis juga sudah sanggup melaksanakan transaksi untuk para early adopter. Bayar di depan dengan harga khusus. Ketika kelas sudah rilis mereka tak perlu membayar lagi (dengan harga berbeda).


Kesuksesan menjual kelas Pra-rilis setidaknya ditentukan 4 hal:


1. Popularitas Mentor


Mentor yang sudah terkenal dan proven (terbukti) mendapat kepercayaan tinggi dari komunitasnya. Kelas atau pengajaran apapun yang direncanakan mentor akan disambut antusias dan ditunggu-tunggu.


2. Pasar


Mentor yang telah mempunyai komunitas yang ia bina dengan baik dan berhasil mendapat dapat dipercaya akan lebih gampang menjual kelas Pra-rilis.


3. Tema


Pemilihan tema yang sedang trending, hot, memenuhi kebutuhan orang banyak, atau memecahkan persoalan serius pada sasaran pasar siswa.


4. Konsep


Pendekatan atau konsep yang kita ajarkan dalam kelas untuk memecahkan persoalan atau memenuhi kebutuhan pada tema yang dibawakan dalam kelas. Konsep yang berpengaruh akan menarik banyak orang.


 


CUMA PERLU 2 KOMPONEN


Sebuah kelas Pra-rilis di Arkademi hanya cukup mempunyai 2 komponen:



  1. Daftar kurikulum yang berisi judul modul dan judul seri.

  2. Informasi pengantar kelas.


 


Salah satu tantangan besar menjual produk gres bukanlah meningkatkan penjualan dari  Strategi Menjual Kelas Pra-rilis di Arkademi
Kurikulum berisi daftar modul dan seri yang tampak di laman depan kelas.

 


Salah satu tantangan besar menjual produk gres bukanlah meningkatkan penjualan dari  Strategi Menjual Kelas Pra-rilis di Arkademi
Informasi pengantar di laman depan kelas yang sanggup dilihat semua orang.

 


Semua komponen ini diletakkan di laman depan kelas menyerupai yang tampak pada semua kelas yang ada di Arkademi. Dua komponen ini bahkan sanggup eksklusif jadi di hari pertama.


Setelah mendaftar menjadi calon mentor Arkademi lewat mengisi formulir, mentor akan dihubungi oleh Arkademi untuk mendiskusikan rancangan kelas. Yang pertama diminta yaitu daftar kurikulum. Seperti mau membuat sebuah buku, Arkademi akan meminta rancangan daftar isi kelas mentor. Kalau mentor belum punya rancangan kurikulum, Arkademi akan bantu membuatkannya.


Setelah rancangan kurikulum jadi dan diterima mentor, selanjutnya mentor akan diminta membuat isu pengantar kelas. Arkademi akan membantu membuatkannya bila diperlukan. Apapun yang dibutuhkan mentor untuk sanksi segera, Arkademi niscaya akan membantu.


Bila rancangan kurikulum dan isu pengantar kelas sudah selesai, Arkademi akan menyetel dan membukakan kelas Pra-rilis mentor. Langsung online dengan status ‘SEGERA DIBUKA’. Semua orang akan sanggup mengakses halaman depan kelas ini namun masih belum sanggup bergabung dan masuk kelas.


Selanjutnya, mentor sanggup melanjutkan membuat konten dan memasarkan kelas Pra-rilis miliknya.


Proses dari mendaftar hingga kelas Pra-rilis online hanya membutuhkan waktu kurang dari 1 hari. Arkademi berkomitmen untuk menempuh segala cara yang dibutuhkan semoga mentor sanggup merilis kelasnya dengan segera.


 


KUPON DISKON


Para early adopter tentu diberikan keistimewaan atau privilage. Yang paling umum yaitu harga lebih rendah dan mempunyai sesuatu yang terbatas. Kebutuhan ini dipecahkan lewat kupon diskon.


Di Arkademi setiap mentor sanggup membuat instruksi kuponnya masing-masing dalam jumlah tidak terbatas. Kupon terdiri dari 4 bagian:



  • KODE KUPON: nama unik kupon, ditentukan sendiri oleh mentor. Misalnya: DISKONHORE50

  • PROSENTASE DISKON: Besaran diskon dalam bentuk prosentase terhadap harga jual kelas. Misal, harga kelas Rp 100.000. Untuk early bird diberi diskon 50%.

  • MASA BERLAKU: Masa berlaku kupon. Misalnya hingga 31 Januari 2018. Setelah itu kupon otomatis tidak sanggup digunakan. Sifatnya opsional. Bisa ditentukan masa berlakunya atau berlaku sepanjang waktu.

  • KUOTA: Jumlah maksimal penggunaan kupon. Misalnya ditentukan instruksi kupon tersebut hanya sanggup dipakai sebanyak 50 kali. Pengguna instruksi kupon ke-51 tidak sanggup menggunakannya lagi. Bersifat opsional.


*Untuk sementara, fitur kupon diskon masih belum diaktifkan di dashboard mentor. Silakan meminta sumbangan kepada Arkademi untuk membuat kupon diskon anda.


 


MENJUAL KELAS PRA-RILIS


Kelas Pra-rilis sebaiknya jangan hanya ditawarkan, tapi langsung dijual. Hal ini mengingat moment of truth para calon pembeli sangat langka dan terbatas. Moment of truth yaitu waktu dimana seseorang memutuskan untuk membeli dan bersedia melaksanakan pembayaran. Bila moment of truth ini dilewatkan, maka kita akan kehilangan banyak peluang closing. Saya akan menceritakan pengalaman saya sendiri di Arkademi.


Saya melaksanakan campaign Pra-rilis untuk kelas Menggali dan Mengembangkan Peluang Kewirausahaan ketika masih dalam status ‘Segera Dibuka’. Saya mengumumkan perihal kelas tersebut di Facebook dan mengatakan harga khusus untuk 50 orang pertama yang mendaftar ketika kelas itu dibuka nanti. Lebih dari 40 orang menyatakan minatnya untuk mengikuti dan membeli kelas tersebut. Tapi ketika itu saya belum menjualnya.


Seminggu kemudian kelas rilis. Saya menghubungi satu per satu teman FB yang menyatakan minat sebelumnya, bahwa kelas sudah dibuka dan sanggup dibeli. Dari 40 orang lebih tersebut yang berhasil closing hanya belasan. Momentum yang sebelumnya saya miliki terlepas. Kalau ketika itu saya sudah menjual kelas dengan memberi instruksi kupon diskon, kemungkinan besar 40 orang lebih akan closing sebagai early bird.


Jadi, eksklusif jual kelas anda meski masih Pra-rilis. Bagikan instruksi kupon diskon itu untuk para early bird semoga sanggup segera closing. Mereka yang telah membeli kelas anda meski dalam masa Pra-rilis akan otomatis tertera jumlahnya di laman depan kelas. Ini yaitu modal berpengaruh social proof untuk menarik siswa lain pada ketika rilis kelas nantinya.


 


MENGUNCI LEWAT SERI TERJADWAL


Menjual kelas Pra-rilis di Arkademi agak tricky. Ini alasannya kelas dalam status ‘Segera Dibuka’ tidak sanggup mengeksekusi pembayaran dan tidak sanggup dimasuki. Sehingga kelas harus dibuka semoga sanggup mengeksekusi pembayaran.


Mungkin ada pertanyaan begini: bagaimana mungkin membuka kelas sementara semua seri masih kosong?


Jawabannya yaitu mengunci seri dan membuat seri terjadwal.


Misal kelas anda mempunyai 10 seri. Buatlah seri aksesori contohnya berjulukan ‘Pengantar’ atau ‘Selamat Datang’. Letakkan seri ini di urutan pertama atau teratas. Ini yaitu seri pertama yang eksklusif dilihat oleh semua siswa kelas anda yang sudah membayar dan masuk ke kelas.


Pada dashboard mentor di hidangan ‘Setelan’, aktifkan opsi ‘Selesaikan seri/kuis sebelumnya untuk melanjutkan ke seri/kuis berikutnya’ menjadi YA. Dengan mengaktifkan opsi ini, siswa tidak sanggup melompat-lompat seri tanpa lebih dulu menuntaskan seri sebelumnya.


Salah satu tantangan besar menjual produk gres bukanlah meningkatkan penjualan dari  Strategi Menjual Kelas Pra-rilis di Arkademi
Mengunci urutan seri di dashboard mentor.

 


Langkah selanjutnya yaitu mengunci seri ke-2 dimana konten pengajaran anda nanti terletak dan hanya sanggup dibuka pada tanggal yang sudah anda tentukan. Caranya, pada hidangan ‘Setelan’ aktifkan opsi ‘Kelas Seri Terjadwal’ menjadi ‘Aktif’. Lalu Simpan Setelan.


Salah satu tantangan besar menjual produk gres bukanlah meningkatkan penjualan dari  Strategi Menjual Kelas Pra-rilis di Arkademi
Mengaktifkan seri terpola di dashboard mentor pada hidangan ‘Setelan’.

 


Berikutnya pergi ke hidangan ‘Setel Kurikulum’ dimana terdapat daftar modul dan seri. Sunting seri ke-2. Di bab Setelan seri, anda akan melihat kolom ‘Tanggal Seri Dibuka’. Masukkan tanggal kapan seri ke-2 tersebut akan anda buka menyesuaikan tanggal rilis resmi kelas anda. Tentukan juga ‘Jam Seri Dibuka’. Lalu ‘Simpan’ seri, ‘Tutup’, dan ‘Simpan Kurikulum’. Selesai.


Salah satu tantangan besar menjual produk gres bukanlah meningkatkan penjualan dari  Strategi Menjual Kelas Pra-rilis di Arkademi
Menyetel kegiatan buka/aktif seri ke-2 di dashboard mentor pada hidangan ‘Setel Kurikulum’.

 


Mudah, bukan?


Selanjutnya anda tinggal membuat konten dan memasukannya lewat dashboard mentor kapanpun tanpa harus khawatir konten terlihat oleh para siswa early bird.


 


MEMBUAT INFORMASI KELAS PRA-RILIS


Kelas Pra-rilis yang dijual mesti diinformasikan dengan baik. Anda sanggup menaruh isu tersebut pada laman depan kelas di bab atas, kemudian beri highlight. Informasi juga perlu diletakkan di seri pertama ‘Pengantar’ atau ‘Selamat Datang’.


Anda sanggup mengubah atau meng-update isi isu dua laman tersebut kapanpun melalui dashboard mentor.


Berikut ini contohnya.


(Informasi pada laman depan)


Kelas akan dibuka tanggal 10 Februari 2018. Bergabung dan bayar kini dapatkan diskon harga 50% untuk early bird. Gunakan instruksi kupon DISKONHORE50. Kupon hanya berlaku untuk pembayaran yang dilakukan hingga tanggal 5 Februari 2018 dan terbatas hanya untuk 50 orang.


(Informasi pada seri Pengantar)


Selamat datang!


Terima kasih telah bergabung ke kelas ini dan menjadi siswa early bird. Anda telah membuat keputusan yang tepat.


Anda sudah berada di dalam kelas, namun belum sanggup mengikuti pelajaran alasannya kelas gres akan dibuka resmi tanggal 10 Februari. Seri-seri pelajaran yang anda lihat masih dalam keadaan terkunci dan tidak sanggup diakses hingga tanggal di atas. Anda tetap sanggup keluar masuk kelas ini kapanpun sebelum atau sehabis kelas dirilis.


Sampai ketemu tanggal 10 Februari!


 


PEMASARAN KELAS PRA-RILIS BERJENJANG


Kampanye pemasaran kelas Pra-Rilis sanggup dilakukan secara berjenjang mengikuti waktu. Misal kelas anda akan dirlis tanggal 15 seharga Rp 100.000. Pada tanggal 1 anda membuatkan instruksi kupon diskon 50% yang berlaku hanya hingga tanggal 3 dengan kuota pengguna kupon sebanyak 30 orang. Ini yaitu kampanye pertama.


Kampanye kedua, pada tanggal 10 anda membuatkan kupon diskon 25% yang berlaku hingga tanggal 14 dengan kuota 50 orang. Pada tanggal 15 kelas anda rilis dan semua seri (seri ke-2) terbuka sesuai jadwal. Lalu anda membagikan kupon diskon 10% untuk 100 pengguna.


Berikut yaitu pola copy writing yang sanggup anda letakkan di laman depan.


(Kampanye 1)


Kelas akan dibuka tanggal 15 Februari 2018. Bergabung dan bayar kini dapatkan diskon harga 50% untuk early bird. Gunakan instruksi kupon DISKONHORE50. Kupon hanya berlaku untuk pembayaran yang dilakukan hingga tanggal 3 Februari 2018 dan terbatas hanya untuk 30 orang.


(Kampanye 2)


Kelas akan dibuka tanggal 15 Februari 2018. Bergabung dan bayar kini dapatkan diskon harga 25% untuk early bird. Gunakan instruksi kupon DISKONHORE25. Kupon hanya berlaku untuk pembayaran yang dilakukan hingga tanggal 14 Februari 2018 dan terbatas hanya untuk 70 orang.


(Kampanye Rilis)


Gunakan instruksi kupon DISKONHORE10 untuk diskon 10%. Kupon berlaku hingga 28 Februari 2018 dan terbatas hanya untuk 100 orang.


Sebelum kelas dirilis resmi, jangan lupa mengganti copy writing pada seri ‘Pengantar’ atau ‘Selamat Datang’.


Dalam jeda waktu antara kampanye ke-1 dan ke-2, anda sanggup mengubah status kelas yang terbuka menjadi ‘Segera Dibuka’ melalui dashboard mentor pada hidangan ‘Harga’. Ketika kampanye ke-2 dimulai, mode ‘Segera Dibuka’ sanggup anda non-aktifkan.


(Contoh isu dalam masa jeda dalam status ‘Segera Dibuka’)


Kelas akan dibuka tanggal 15 Februari 2018. Kami akan mengatakan instruksi kupon diskon 25% untuk early bird yang diumumkan di laman ini pada tanggal 10 Februari nanti.


Salah satu tantangan besar menjual produk gres bukanlah meningkatkan penjualan dari  Strategi Menjual Kelas Pra-rilis di Arkademi
Mengaktifkan mode ‘Segera Dibuka’ pada dashboard mentor. Pada mode ini kelas tidak sanggup dibeli/dibayar dan dimasuki oleh siswa baru.

 


YANG PERLU DIPERHATIKAN


Dalam menjual kelas Pra-rilis, anda perlu memperhatikan beberapa hal sebagai berikut.


Anda sudah harus tahu kapan tepatnya kelas tersebut akan dirilis resmi. Dengan menjual kelas Pra-rilis anda berkomitmen pada waktu penyelesaian konten. Sampaikan kepada calon siswa anda kapan dan tanggal berapa kelas akan dirilis. Jangan terlambat merilis kelas.


Jangan menurunkan harga resmi ketika kelas rilis, hal ini akan mengecewakan para early bird alasannya mereka merasa kehilangan hak istimewa sebagai early adopter. Misal, ketika menjual kelas Pra-rilis anda menyatakan harga resmi Rp 100.000 dan memberi diskon 50% kepada early bird, kemudian anda mengubah harga resmi menjadi Rp 50.000 ketika kelas rilis. Hal ini akan mengecewakan early bird dan merusak reputasi anda.


Bila anda berencana melaksanakan beberapa tahapan campaign Pra-rilis, jangan samakan diskon antar tahap tersebut. Mereka yang membayar paling awal semestinya mendapat diskon paling banyak dibanding yang setelahnya.


 


PENARIKAN DANA KELAS PRA-RILIS


Arkademi ingin semoga mentor mendapat penghasilan sebesar-besarnya dari kelas, termasuk memakai seni administrasi kelas Pra-rilis ini. Namun harus diakui menjual kelas Pra-rilis yaitu menjual janji, alasannya produk berupa konten pengajaran belum ada. Kami ingin kepentingan siswa tetap terlindungi. Karena itu, dana yang dihasilkan dari pembayaran kelas Pra-rilis akan disimpan dulu oleh Arkademi dan akan dikirimkan kepada mentor pada hari dimana kelas sudah dirilis secara resmi.


Karena itu mentor harus menginformasikan kepada Arkademi tanggal kelasnya akan dirilis. Penundaan mungkin terjadi. Karena itu Arkademi mengatakan waktu kepada mentor paling usang 7 hari penundaan dari tanggal rilis yang dijanjikan. Melebihi batas waktu tersebut, kami akan mengembalikan secara penuh (full refund) pembayaran kepada siswa yang menginginkan refund.


 


BANTUAN PENUH


Arkademi yaitu sebuah elearning platform D-I-Y (do it yourself) yang menyerahkan kontrol sepenuhnya kepada mentor dalam mengatur kelas dan kontennya dalam semua aspek. Kontrol itu dilakukan lewat dashboard mentor, antarmuka khusus untuk mentor dimana para mentor sanggup membuat, menyetel, memasukkan konten, merilis, dan mengelola kelas mereka secara mandiri.


Namun, mungkin belum banyak orang yang terbiasa memakai dashboard learning management system (LMS) menyerupai ini. Arkademi sadar perlu waktu bagi mentor untuk mengadopsi dan menyesuaikan diri pada dashboard mentor. Tapi Arkademi juga berkomitmen untuk melayani mentor dan mempermudah mereka, bukan mempersulit. Terutama mempermudah mentor mengeksekusi kelas mereka semoga sanggup segera rilis. Oleh alasannya itu, Arkademi menyediakan sumbangan penuh kepada mentor pada semua aspek dan proses perancangan, penyetelan, pemasaran, dan rilis kelas. Apapun yang mentor butuhkan, niscaya akan dibantu oleh Arkademi. Kami akan bekerja bersisian dengan para mentor untuk memastikan hadirnya kelas yang berkualitas dan bernilai tinggi untuk siswa.


Selamat mengajar dan membuat penghasilan gres tak terbatas dari kelas anda, serta menjadi ide bagi orang banyak! (*)






Sumber aciknadzirah.blogspot.com

Arkademi 1.000 Siswa Dan Kerja Selanjutnya

Pada hari Kamis 1 Februari kemarin Arkademi hingga di pencapaian barunya: menembus jumlah 1.000 lebih siswa. Perlu 48 hari bagi bayi Arkademi untuk mencapai angka ini semenjak diluncurkan ofisial pada 15 Desember 2017 lalu. Artinya, sudah 1.000 orang lebih yang mengadopsi dan mendapatkan Arkademi sebagai teknologi dan platform gres dalam dunia pembelajaran berkelanjutan bidang keahlian. Sampai dikala ini ada 135 pengguna aktif harian atau 1.800 bulanan.


Saya eksklusif besar hati dengan angka ini mengingat Arkademi yaitu sebuah perjuangan rintisan (startup) yang saya mulai dan operasikan sendirian dengan biaya hanya Rp 700 ribu dari sebuah ‘pedalaman’ di Kalimantan. Yang bila saya sebut nama wilayahnya mungkin anda tidak pernah dengar. Namun itu tak mencegah Arkademi mengusung mimpi dan misi yang besar.


Hal ini menunjukkan bahwa membangun sebuah perjuangan rintisan di masa kini bisa dilakukan dengan sumberdaya minimal namun mempunyai pertumbuhan yang cepat serta potensi yang sangat menjanjikan. Bandingkan dengan institusi pendidikan konvensional yang perlu biaya besar membangunnya dan waktu yang panjang untuk mengumpulkan 1.000 siswa.


Pencapaian ini tentu bukan milik saya saja. Tapi juga milik teman-teman semua yang percaya pada apa yang saya lakukan melalui Arkademi. Baik mentor, teman-teman yang bergabung di FB grup dan fanpage Arkademi, dan semua siswa Arkademi di masa-masa awal. Merekalah yang menyaksikan bagaimana Arkademi dimulai dari sebuah gagasan, disurvei, diujicoba konten dan teknologinya, dirilis, dikomersialisasi, hingga dibuka sebagai platform crowdsource social learning yang terbuka.


Arkademi yaitu sesuatu yang benar-benar baru: dari tidak ada menjadi ada. Perlu kepercayaan besar untuk mengadopsi sesuatu yang asing. Saya merasa sangat terhormat menerima kepercayaan tersebut. Menjadi tanggungjawab saya untuk meneruskan kepercayaan itu lewat mengembangkan Arkademi semoga bisa melayani semua orang lebih baik lagi.


Mungkin angka 1.000 ini dianggap kecil bila dibandingkan dengan situs berita/artikel atau media umum lain. Benar. Tapi orang tiba ke Arkademi untuk belajar, bukan untuk membaca berita/artikel atau menonton video singkat. Arkademi bukan tempat untuk killing time atau bergosip. Arkademi yaitu sekolah. Orang tiba dengan kesungguhan untuk berguru dan mengembangkan diri. Saya melayani 1.000 orang yang berkemauan besar lengan berkuasa untuk mengubah hidupnya menjadi lebih baik dengan cara berguru meningkatkan keterampilannya.


Terma kasih dan sembah sujud saya terutama kepada para mentor-mentor awal. Pak dosen Baizul Zaman yang setia semenjak awal mula, mastah Darmawan Aji yang memboyong ratusan siswa baru, mastah Muhammad Arif Setianto dan mastah Andro (dua yang terakhir ini kelasnya sedang dipersiapkan dan segera rilis). Juga kepada sahabat Echy Saljodilangit yang menemani dengan setia dan tak pernah hilang kepercayaan kepada Arkademi. Mas Alfian Pamungkas Sakawiguna yang dengan murah hati menyediakan dan memelihara server andal IDCloudHost untuk Arkademi. Termasuk Bapak Istia Budi, kepala suku DiLo Balikpapan yang mengupayakan koneksi internet berkualitas tinggi buat saya di ‘pedalaman’. Tanpa mereka, tidak mungkin Arkademi bisa tiba di tahapan dikala ini. Berkat mereka saya yakin bahwa saya tidak pernah bekerja sendirian untuk Arkademi.


Lalu apa sehabis ini?






 hari bagi bayi Arkademi untuk mencapai angka ini semenjak diluncurkan ofisial pada  Arkademi 1.000 Siswa dan Kerja Selanjutnya



 


Fokus Arkademi di 2018 yaitu mengakuisisi mentor. Targetnya 50 mentor. Tapi, hingga kemarin jumlah orang yang telah mengisi formulir registrasi calon mentor sudah 31 orang! Tema kelasnya beragam. Mulai dari seni, hukum, teknologi, pemasaran, bahkan parenting. Ada saja calon mentor yang mendaftar gres setiap hari. Artinya, hanya perlu 1 bulan untuk mencapai separuh target. Ini di luar perkiraan. Makin banyak kelas dirilis otomatis makin banyak siswa baru, dan makin banyak pula calon mentor mendaftar.


Target lain 2018 yaitu 150 kelas, 50.000 siswa, dan 250 siswa rata-rata per kelas. Kalau melihat apa yang terjadi pada 48 hari pertama ini dan potensi startup digital untuk berkembang secara eksponensial, maka saya percaya diri akan sasaran tersebut.


Kendala terbesar saya dikala ini yaitu melaksanakan aktivasi terhadap para calon mentor: melayani dan membantu mereka merancang, membuat, menyetel, merilis, dan mengelola kelas di Arkademi. Sedangkan saya hanya sendirian dan perlu membimbing mereka dalam mengadopsi dan menyesuaikan diri pada Arkademi sebagai platform gres di dunia pengajaran dengan sistem pengajaran kurikulum.


Sebenarnya saya sudah harus mempunyai tim. Tapi dikala ini saya dan Arkademi tidak punya kemampuan ekonomi, tidak punya uang. Kalaupun Arkademi sudah mempunyai penghasilan dari komisi transaksi di kelas yang ada, itu hanya cukup untuk memperpanjang usia hidup Arkademi. Lagipula saya tetap harus memastikan semoga Arkademi dijalankan secara ramping (lean) sebagai pengelolaan risiko dan menjaga kelincahan. Terutama hingga masuk ke tahap traksi. Namun supaya traksi segera tercapai, Arkademi harus dikelola oleh tim. Tak mungkin bisa saya lakukan sendirian alasannya yaitu kemampuan seorang individu terbatas.


Oleh alasannya yaitu itu, Arkademi tiba pada tahap dimana ia memerlukan pihak yang bersedia menitipkan uangnya alasannya yaitu percaya pada misi besar yang Arkademi emban dan percaya kepada saya dalam mengelola sebuah usaha. Pihak yang mempunyai mimpi yang sama untuk membuat imbas pada skala bangsa sekaligus menjadikannya perjuangan yang menguntungkan secara finansial semoga bisa berkembang.


Beberapa orang sudah menyatakan minat menanamkan modalnya pada Arkademi pada nominal dari puluhan hingga ratusan juta. Namun selalu saya tolak. Bukan saya jual mahal. Tapi uang bukan yang satu-satunya Arkademi butuhkan. Tapi juga akses, jejaring, dan mentorship untuk mengakselerasi kecepatan Arkademi. Investor Arkademi haruslah mereka yang bersedia bekerja bersisian, membimbing dan membukakan jalan bagi Arkademi ke potensi-potensi baru, serta mempunyai mimpi dan visi yang sama. Bukan sekadar mereka yang percaya bahwa Arkademi bisa menjadi ‘mesin pengganda uang’ di masa depan.


Saya bersyukur. Dua hari kemudian saya menerima email usul dari GnB Accelerator untuk pertemuan hari Senin ahad depan. GnB yaitu investor dan accelerator campuran dari Silicon Valley AS (Fenox Capital) dan Jepang (Infocom). Beberapa startup yang mereka danai yaitu Hipcar, Ahlijasa, 4Doctor, PopLegal, Paprika, Sticar, hingga PanenID. Bila berjodoh, Arkademi akan masuk di kegiatan accelerator GnB yang menyediakan kanal ke talent pool, mentor, klien/market, kemudahan kerja, dan investasi. Bahkan bila tidak berjodoh pun saya merasa sangat terhormat sudah mendapatkan perhatian dan kesempatan dari investor sekelas GnB.


Sejak awal Arkademi dirancang untuk lincah dan mempersiapkan banyak sekali skenario termasuk skenario terburuk. Tapi tidak ada skenario gagal. Arkademi akan tetap ada dan berkembang dalam tiap keadaan. Saya menjamin itu. Karena bahwasanya saya tidak pernah bekerja sendirian. Selalu ada teman-teman semua di sisi saya: mentor, siswa, dan setiap orang dimana kita menyebarkan mimpi bersama untuk membuat Indonesia yang lebih baik lewat pembelajaran berkelanjutan. Orang-orang yang percaya dan menitipkan mimpi itu kepada saya.


Percayalah, anda bisa mengandalkan saya. (*)



Sumber aciknadzirah.blogspot.com

Saturday, January 14, 2017

Usaha Rintisan Menjual Pendirinya

Ada lebih dari 100 juta perjuangan gres tiap tahun di dunia. Artinya, tiap detik ada 3 perjuangan gres dilahirkan. Sehingga, mendirikan perjuangan gres bukanlah sesuatu yang istimewa.


Setiap perjuangan rintisan ialah perjuangan dalam masa kritis dimana hidup-mati ditentukan. Sekitar 80% perjuangan gres bangkrut di tahun pertama. Hanya 10% yang bertahan hingga tahun ke-5. Dari 10% itu hanya 1% yang berhasil tumbuh secara eksponensial.


Salah satu tantangan terbesar pada perjuangan rintisan ialah mencari pembeli awal. Orang tidak serta-merta membeli hanya alasannya ialah kita membuatnya. Yang tersulit bukanlah meningkatkan Rp 100 juta menjadi Rp 1 miliar. Tapi dari Rp 0 menjadi Rp 1 juta (misalnya). Saya pernah membahas ini dalam post sebelumnya perihal critical mass.


Mereka yang punya perjuangan gres biasanya menjual ke orang-orang terdekat lebih dulu: kawan, keluarga, kerabat, kolega. Apa pelajaran yang bisa kita tarik dari referensi penjualan awal menyerupai ini?


Bahwa menjual sebuah produk gres atau produk perjuangan gres diharapkan kepercayaan besar yang seringkali tidak terletak pada produknya. Namun mengandalkan hal-hal yang tak tampak (intangible). Karena setiap pembeli produk perjuangan gres melaksanakan pertaruhan atas sesuatu yang belum terbukti di pasar. Namun konsumen bersedia masuk ke dalam pertaruhan itu alasannya ialah alasan-alasan yang bukan materiil.


Seorang sahabat membeli produk gres kita alasannya ialah beliau percaya pada kita sebagai seorang individu. Dia sudah usang mengenal rekam jejak kita, tahu bagaimana kita memperlakukan orang lain, kompetensi kita menjalankan sebuah usaha, kejujuran, moral, dan nilai yang kita anut, serta tujuan kita dalam perjuangan tersebut. Sehebat-hebatnya produk gres yang kita jual, di mata orang lain tetaplah sebuah produk yang abnormal dan belum terbukti di pasar. Sehingga, tingkat adopsi konsumen pada sebuah produk gres bukan alasannya ialah mereka confidence pada nilai produk tersebut, tapi confidence pada diri kita sebagai penyedia produk.


Jadi, buat kita yang sedang mencari pembeli awal, ingatlah bahwa ini bukan soal kehebatan produk. Tapi kepercayaan orang lain terhadap siapa kita, apa yang kita lakukan, apa yang kita tuju, dan mengapa kita melakukannya. Sayangnya semua ini ialah nilai yang tak tampak dan tidak dibangun dalam 1-2 tahun.


Kita sering mencar ilmu secara keliru dengan menganggap bahwa penjualan ialah sekedar teknik atau metode. Misal, kita berguru pada seseorang yang sirkulasi penjualannya sudah 1.000 item per hari. Kita mencar ilmu cara menjual 1.000 item barang pada ketika kita belum berhasil menjual 1 pun. Apakah kita mencar ilmu bagaimana cara si guru dulu menjual barang pertamanya? Bilapun demikian, apakah kita bisa mereplikasi ‘siapa’ guru kita sebelum ia melaksanakan penjualan pertamanya? Apakah kita bisa menciptakan orang lain percaya kepada kita menyerupai dulu para pembeli pertama percaya pada guru kita?


Kepercayaan itu bukan teknik. Ia sesuatu yang sangat emosional dan dibangun dalam waktu tidak singkat. Kita tidak bisa menyuruh orang percaya pada kita.


Kepercayaan tidak terjadi secara mekanis, namun tiba dengan cara uniknya masing-masing. Banyak yang mengajarkan teknik membangun kepercayaan. Tapi apapun tekniknya tidak akan berhasil tanpa moral, nilai, rekam jejak, passion, dan purpose yang berpengaruh dari pelakunya.






 mendirikan perjuangan gres bukanlah sesuatu yang istimewa Usaha Rintisan Menjual Pendirinya



 


Misal kita gunakan mesin waktu untuk kembali ke 2010 sebelum ada Gojek. Lalu kita yang menciptakan perusahaan Gojek. Kita perlu investor awal menyerupai yang Nadiem Makarim dulu dapatkan.


Apakah calon investor akan memandang kita menyerupai beliau memandang Nadiem?


Apakah kita pernah sekolah di Brown, Harvard, bekerja di McKinsey, jadi CEO Kartuku dan Zalora, punya jejaring luas dan bisa merekrut tim menyerupai halnya Nadiem?


Kita bisa mereplikasi apa yang orang lain lakukan. Tapi tidak bisa menjadi siapa orang itu. Para pembeli awal ialah mereka yang percaya pada siapa kita.


Hal yang sama juga saya rasakan di Arkademi. ‘Pembeli’ awal Arkademi tolong-menolong bukanlah siswa, tapi mentor. Karena siswa tiba melalui mentor. Sehingga saya harus bisa ‘menjual’ Arkademi kepada para calon mentor terlebih dulu. Agar jumlah pengguna/siswa bisa tumbuh cepat, maka saya harus ‘menjual’ kepada mentor yang telah mempunyai basis siwa yang besar. Saya punya jejaring luas di kalangan para mastah, tapi dapat dipercaya saya di mata mereka belum tentu sama. Dari 52 calon mentor yang telah mendaftar hingga hari ini 80% ialah para mastah yang menjadi mitra di FB. Saya sudah berteman usang dan mereka bisa menilai orang menyerupai apa diri saya. Hari ini jumlah kelas yang terlisting di Arkademi sudah 13 dari 10 mentor. Bulan ini akan saya genapkan melisting 23 kelas dari 20 mentor di Arkademi.


Pencapaian menyerupai ini intinya bukan alasannya ialah Arkademi ialah platform gres yang menjanjikan, tapi alasannya ialah profil individu saya di mata para mentor. Hal yang sama juga berlaku untuk para siswa. Mereka memakai Arkademi bukan alasannya ialah Arkademi hebat, tapi alasannya ialah para guru yang mereka percaya ada di sana sehingga mereka bersedia memakai sebuah ‘barang baru’ berjulukan Arkademi.


Setiap perjuangan rintisan tolong-menolong tidak mengatakan produk, tapi mengatakan kredibilitas, popularitas, dan nilai pada diri pendirinya — segala hal yang dibangun dan ditempa dalam waktu panjang. Bisnis dan produk kita ialah siapa kita. Dan ‘siapa kita’ tidak dibuat dalam 1-2 hari. (*)






Sumber aciknadzirah.blogspot.com

Usahamu Yaitu Janjimu

Memulai dan mengelola perjuangan rintisan selalu menjadi momen yang berat. Tak hanya mesti berjuang menghadapi aneka macam ketidakpastian, namun juga godaan akan laba jangka pendek dan hasil yang instant. Mereka dengan mempunyai motif yang minim dan komitmen yang rendah akan membayarnya dengan potensi jangka panjang yang mereka miliki.


Kemarin pagi ponsel saya berdering. Seorang perempuan memperkenalkan diri sebagai konsultan sebuah firma multinasional bidang HR recruitment berinisial RW. Ia memperlihatkan posisi sebagai Head Data sebuah perusahaan multinasional yang sedang menjadi kliennya. Saya tidak bertanya perusahaan apa. Tapi tak mungkin perusahaan ecek-ecek punya head data.


Tak perlu berpikir untuk menjawab, “Maaf, saya tidak available.”


Si konsultan tidak menyerah. Ia menyebut betapa menariknya benefit yang kliennya sediakan. Saya kukuh menolak. Hingga ia bertanya alasannya.


“Saya sedang fokus pada startup saya. Saya sudah berjanji pada banyak orang,” jawab saya. Ia mahfum. Setelah basa-basi sedikit kami mengakhiri percakapan.


Ini bukan usulan pertama semenjak saya memulai Arkademi September 2017 lalu. Mungkin bukan juga yang terakhir. Mulai dari usulan berkarier, project, sampai berpartner usaha. Ketika Arkademi masuk ke tahap komersialnya 15 Desember 2017, ini ialah ‘point of no return’ bagi saya. Tak ada lagi jalan kembali. Di titik yang sama pula saya resign dari daerah dimana saya sudah bekerja selama 11 tahun dengan posisi terakhir sebagai Direktur Bisnis. Social Lab, startup saya yang sedang tumbuh selama 2 tahun terakhir, saya tutup. Semua demi Arkademi.


Akan setimpal kah semua pengorbanan itu?


Saya tidak tahu. Arkademi masih bayi, ada begitu banyak ketidakpastian di sekelilingnya. Saya masih bekerja sendirian dari daerah yang jauh. Tak ada yang bilang Arkademi niscaya sukses. Samudera di depan terhampar tanpa diketahui apa yang berada di balik horison — segala baik dan buruknya.


Lalu, apa yang membuat seseorang mengorbankan begitu banyak kepastian demi ketidakpastian?


Perusahaan dan orang-orang besar ialah mereka yang bekerja untuk tujuan yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Orang yang bekerja dengan motif yang sempit akan segera kehabisan motivasi dan limbung dalam kekosongan.


Motivasi kerja seorang bujangan beda dengan mereka yang sudah punya anak-istri. Pejabat yang hanya bekerja untuk penghasilan akan gampang digoda korupsi. Seseorang yang menjadi tentara hanya demi mencari nafkah akan berpikir seribu kali untuk maju menyerang paling depan. Pengusaha yang hanya mencari kekayaan akan menghalalkan cara apapun untuk menambah keuntungan.


Mampukah uang menggerakkan seorang petugas Palang Merah menghadapi selesai hayat di medan perang dan bencana?


Apakah para pelaut rela mengarungi gelombang hanya demi uang, dan bukannya kecintaan pada samudera?


Dunia ini memperlihatkan begitu banyak cara menghasilkan uang. Namun uang tolong-menolong tak pernah menjadi tujuan. Uang ialah hasil jangka pendek sebagai insentif atas keputusan jangka pendek pula. Tujuan jangka panjang tidak diukur memakai metrik uang, tapi melalui pengaruh yang kita hipotesiskan di awal (theory of change).






Memulai dan mengelola perjuangan rintisan selalu menjadi momen yang berat Usahamu ialah Janjimu



 


Bila bukan uang, kemudian apa yang membuat pengorbanan menjadi setimpal?


Harapan yang lebih besar dari diri kita sendiri yang terbit alasannya ialah kesepakatan kita kepada orang lain. Hal-hal yang justru tak sanggup diukur dengan uang.


Beberapa ahad kemudian saya ngobrol dengan seorang mitra di FB. Ia seorang tukang servis elektronik keliling di Jawa Tengah yang sedang mengikuti sebuah kelas di Arkademi.


Dia menyampaikan, “Saya ingin berkembang, Pak. Tidak mau jadi kuli terus. Saya mengambil kelas ini supaya kalau tenaga saya sudah lemah, saya sanggup terus sanggup penghasilan.”


Beberapa mentor di Arkademi dengan terbuka curhat kepada saya wacana harapannya mewujudkan kesejahteraan yang lebih baik lewat mengajar di Arkademi. Bahkan menyebut Arkademi ialah sesuatu yang mereka tunggu semenjak usang supaya sanggup mendapat kesempatan mengajar dan membuat penghasilan dari sana.


Bisakah anda bayangkan tanggungjawab yang mesti saya pikul untuk merawat impian orang-orang ini?


Berapa rupiah tebusan yang diharapkan supaya saya meninggalkan impian mereka dan beralih pada yang lain?


Setiap orang yang mempunyai perjuangan ialah mereka yang berjanji dan menanggung impian orang banyak. Janji kepada para karyawan untuk mencukupi nafkah mereka dan mewujudkan masa depan yang baik. Janji kepada pelanggan untuk memenuhi kebutuhan dan memecahkan persoalan mereka. Janji kepada masyarakat bahwa kehadiran perjuangan kita akan memberi manfaat bagi orang banyak. Janji kepada keluarga untuk hidup yang lebih baik.


Segala kesepakatan yang tolong-menolong tak pernah soal diri kita sendiri. Janji yang menerbitkan impian pada diri orang lain dimana kita punya tanggungjawab untuk merawatnya. Janji yang sudah dimulai dikala pertama kali kita melangkah.


Anda sebagai pelaku perjuangan rintisan pastilah juga menanggung kesepakatan dan impian yang serupa. Sangat mungkin juga anda digoda oleh aneka macam usulan yang menjanjikan hasil yang lebih baik dan cepat. Menggoda anda untuk meninggalkan kesepakatan dan impian orang lain yang sedang anda pikul.


Itulah momen dikala motto, visi dan misi perjuangan kita diuji: apakah ia sebatas retorika, ataukah cerminan sikap, komitmen, dan huruf pemiliknya. (*)






Sumber aciknadzirah.blogspot.com